Pasti menguntungkan rakyat; rakyat dapat produk yang bagus, bukan produk buatan sendiri yang orang membelinya karena tidak boleh lagi ada produk lain masuk. Sudah saya sebutkan dalam posting saya beberapa bulan lalu, mencari kabel listrik yang bagus saja pun harus berkeliling di Glodok seharian baru bertemu. Di Medan barang serupa banyak karena dekat dengan daerah penyelundup. Lihat, PERTAMINA telah ikut maju dengan masuknya pengecer BBM non-subsidi asing, yang selama ini untuk mendirikan SPBU prosesnya berbelit-belit, berliku-liku, berhamburan duit, dan belum tentu dapat izin. Masih ingat desas-desus terbunuhnya bos PERTAMINA UP-I Sumbagut dua puluh tahunan lalu? Dengan perdagangan bebas rakyat leluasa memilih barang murah, barang mahal, barang setengah murah/mahal. Kalau produsen dalam negeri (ditambah buruh dalam negeri) bisa berproduksi dengan hambatan-hambatan produk asing yang bersaing, sama saja artinya petani dan warga desa lainnya dipaksa "mensubsidi" warga kota dan yang berpendidikan (tetapi curang). Harga pupuk yang diproduksi oleh rakyat yang berpendidikan boleh naik semaunya, sementara harga gabah di kampung saya dipatok agar produsen pupuk bisa enak-enak beli beras murah. Dengan perdagangan bebas semoga warga kota yang berpendidikan lebih memikirkan warga lain kalau tidak akan terlindas, das, das.
Lagi pula, manusia yang berada di luar batas geografis NKRI ini mahluk siapa sih? Zul --- On Tue, 12/15/09, Dharma Hutauruk <[email protected]> wrote: From: Dharma Hutauruk <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Januari 2010, China "Serbu" Indonesia To: [email protected] Date: Tuesday, December 15, 2009, 5:59 PM Sampai Kompas hari ini, Para petinggi Negara masih bersikukuh mengatakan bahwa free trade area ini menguntungkan RAKYAT Indonesia. dh
