Yaa.., kalo menurut saya yg penginnya berpikir positif, mgkn ini untuk
penghematan anggaran belanja negara yang harus dimulai gerakannya dari instansi
kita sendiri. Kalo mau dibandingken dengan kawan2 dari jalur lain katanya malah
lebih parah lagi.., Katanya mereka malah asal untuk SPP saja. Sementara untuk
kebutuhan lain mah.., ya monggo "diatur" sendiri dulu. Jadi untuk sementara,
paling kita bisanya menghibur diri bahwa untuk sebuah langkah maju, kita harus
lebih prihatin lagi. Tapi kalo maunya sihh.., ya "ngono yo ngono, neng ojo
ngono !!" Ya thoo ? Buat bung fitra, gmn kuliahnya ??
fitrariadian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mohon Maaf sebelumnya,
bukannya saya mementingkan diri sendiri atau
tidak tahu berterimakasih atau kurang bersyukur, tapi Teman2 saya
yang di Ditjen Sebelah sedang berusaha "memprotes" peraturan bagi
yang Tugas Belajar/Bea Siswa hanya dapat TC 50 %. Dalam kelakar
mereka seperti ini: "Ini mah bukan Program Bea Siswa, tapi Program
Sekolah Biaya Sendiri dengan pembayaran Potong TC, kan lebih baik
sekolah sendiri saja"
Argumen mereka adalah:
Mereka tetap melaksanakan tugas, yaitu Belajar, jadi bukannya tidak
melaksanakan tugas (meskipun tidak di kantor instansinya masing-
masing).
Diharapkan dengan adanya Tugas belajar akan memajukan Dep. Keu.
secara umum karena meningkatnya kualitas SDM (pendekatannya
Investasi, bukan Cost).
Sebetulnya Bea Siswa tersebut tidak murni "gratis", karena adanya
tambahan masa Ikatan Dinas.
Alasan lainnya yang lebih ilmiah adalah keterlanjuran menyekolahkan
terlebih dahulu SK-nya ke Perbankan (Ambil Kredit Gito Loch...) yang
biasanya angsurannya potong TC.....
Tapi itu dari Ditjen sebelah lho......
Klo saya mah ngikut aja sama kebijakan ditjen sendiri, rumah saya
sendiri, orang tua saya sendiri....
Mohon Maaf klo ada salah kata.
Fitra
Salemba 4 Jakarta
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]