Mengomentari pendapat mas yang tidak setuju dengan kebijakan TC cm 50 
persen, saya juga sependapat dengan itu. Kenapa ga sebaiknya 100% 
aja, atau 90% lah.

Namun, secara khusus, apa bila saya di tanya,"Kamu mau masuk program 
beasiswa tp kena potong TC 50%, atau mending kuliah aja sendiri 
sono". Jelas saya akan meminta yang pertama. Saya lebih suka 
beasiswa, n biar kan saja TC dipotong 50%.

Dengan kata lain, status kita jelas, kita adalah tugas belajar yang 
telah mendapat restu bahkan dari kantor pusat. Secara biaya pun kita 
udah tau, bahwa TC hilang 50%. Namun kalau kita mau kuliah sendiri di 
luar agak sulit, misalnya dari segi tempat kuliah, atau status 
akreditasi, belum lagi biaya2 yang mungkin akan memotong TC 75%, 
terus setelah lulus belum tentu direstui lagi, huuuuu,...repot.

Jadi intinya, saya setuju dengan penolakan bahwa lebih baik tidak 
dipotong, namun bila disuruh memilih antara keduanya, saya mending 
kuliah aja n ikhlas dipotong 50%. Sungguh, pendidikan itu tidak 
ternilai, apa lagi diberi kesempatan melakukan pendidikan di 
Universitas yagn BONAFIT.

Sekian dari saya......



--- In [email protected], "fitrariadian" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Mohon Maaf sebelumnya, bukannya saya mementingkan diri sendiri atau 
> tidak tahu berterimakasih atau kurang bersyukur, tapi Teman2 saya 
> yang di Ditjen Sebelah sedang berusaha "memprotes" peraturan bagi 
> yang Tugas Belajar/Bea Siswa hanya dapat TC 50 %. Dalam kelakar 
> mereka seperti ini: "Ini mah bukan Program Bea Siswa, tapi Program 
> Sekolah Biaya Sendiri dengan pembayaran Potong TC, kan lebih baik 
> sekolah sendiri saja"
> Argumen mereka adalah:
> Mereka tetap melaksanakan tugas, yaitu Belajar, jadi bukannya tidak 
> melaksanakan tugas (meskipun tidak di kantor instansinya masing-
> masing).   
> Diharapkan dengan adanya Tugas belajar akan memajukan Dep. Keu. 
> secara umum karena meningkatnya kualitas SDM (pendekatannya 
> Investasi, bukan Cost).
> Sebetulnya Bea Siswa tersebut tidak murni "gratis", karena adanya 
> tambahan masa Ikatan Dinas.
> Alasan lainnya yang lebih ilmiah adalah keterlanjuran menyekolahkan 
> terlebih dahulu SK-nya ke Perbankan (Ambil Kredit Gito Loch...) 
yang 
> biasanya angsurannya potong TC.....
> Tapi itu dari Ditjen sebelah lho......
> Klo saya mah ngikut aja sama kebijakan ditjen sendiri, rumah saya 
> sendiri, orang tua saya sendiri....
> 
> Mohon Maaf klo ada salah kata.
> 
> 
> Fitra
> Salemba 4 Jakarta
>


Kirim email ke