Goodman_neverdies <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf bukan bermaksud menggurui, Semestinya yang harus disepakati adalah puas ataupun tidak puas atas suatu kebijakan harus tetap disyukuri.
ESN: yang ini saya sepakat pace, karena menurut saya tindakan bersyukur adalah tindakan dan pandangan positif terhadap keberadaan diri sendiri dan hubungannya dengan sisi rohani manusia.. sedangkan kepuasan adalah sisi berbeda, bisa saja orang tidak puas tapi tetap bersyukur, karena rasa syukur tidak harus berkaitan dengan rasa puas (klo saya tidak puas dengan masakan istri saya-kelak..hehehe- ngga berarti saya ngga bersyukur memiliki dia sebagai istri saya :) , atau kalau tidak puas dengan kebijakan pimpinan ngga langsung berarti kita ngga suka/tidak bersyukur dengan kita menjadi bawahan dari pimpinan) Yang menjadi persoalan adalah apakah kebijakan tersebut sudah diketahui jauh jauh hari, kalo memang demikian halnya maka anggaplah itu sebagai bagian resiko yang mau tidak mau harus diterima. Sebaliknya jika kebijakan tersebut terjadi di tengah jalan tentu rasa tidak puaslah yang dominan muncul. ESN: setujuu sekali... Lantas bagaimana cara menyikapinya? Kalo cuma menyuarakan di milis rasanya kita juga harus siap manakala muncul> reaksi tidak seperti yang kita harapkan. Perdebatan panjang juga tidak mampu membawa pengaruh apa apa. ESN: ngga papa bang, paling ngga kan bisa sama2 belajar melalui perdebatan yang ada :) dan tentunya membangun perdebatan yang baik, jadi masalah yang ada bisa dilihat dengan lebih jernih lagi bukan malah jadi abstrak :) hehehe... Kalo dibandingkan jaman dulu yang TKPKN bahkan tidak dibayar sama sekali, memang keadaan sekarang sudah jauh lebih baik. Artinya meskipun status kita tugas belajar tetapi masih dianggap memiliki kontribusi positif terhadap organisasi.Berbeda dengan gaji, TKPKN diberikan karena ada kontribusi langsung maupun tidak langsung kepada organisasi. Dengan tugas belajar kontribusinya dinilai sebesar 50% itu sudah sangat bagus menurut saya. ESN: setuju.. (sebenernya saya juga ngga keberatan dengan kebijakan ini sih)..hehehe penjelasan abang sangat objektif, saya tambahkan juga klo tugas belajar kan kita mendapatkan "something else in return" sebagai ganti tc 50 % tsb, yaitu pendidikan dan mungkin bisa langsung naik golongan, anggap saja investasi Permasalahan take home pay yang menjadi berkurang semestinya bukan TKPKN yang dituntut 100% tetapi coba ajukan kepada pihak pemberi beasiswa agar diberikan tunjangan yang lain yang paling tidak bisa mengganti take home pay yang berkurang itu. Misal minta diberi tunjangan buku, tunjangan asrama, tunjangan penelitian atau apalah yang berkaitan dgn dunia pendidikan. ESN: Setuju...kan ada ganjalan di teman2 yang mengikuti tugas belajar (yang agak berat klo TC-nya dipotong 50%), karena memang buku2, penelitian dan lain2 di luar biaya kuliah tetap merupakan beban yang menjadi tanggungan mereka :) Kalo menuntut sama seperti yang tidak tugas belajar rasanya itu keterlaluan. Karena nantinya sepulang anda dari tugas belajar pangkat dan karir anda 'hampir pasti' lebih bagus dari yang tidak menerima tugas belajar. ESN: Setujuu..enak aja, kita kan ga ada liburnya (per semester, dll), dan ga ada jam kosong (klo dosennya ga dtg)..hihihi Keputusan menerima beasiswa tugas belajar semestinya dipertimbangkan lebih matang bagi yang sudah berkeluarga. Istri harus benar benar memahami situasi yang akan dihadapi sehingga ia tidak boleh ngomel jika uang belanjanya menjadi berkurang. ESN: bang goodman memberikan pandangan objektif bukan pada pegawai yang tugas belajar saja tetapi juga kepada "pihak2" yang akan merasakan dampak potongan tc..hehehe keren! :) Saya termasuk orang yang percaya bahwa penerima beasiswa itu memiliki potensi yang besar dalam dirinya. Barangkali yang anda perlukan hanya sedikit keberanian untuk mengembangkan potensi yang ada supaya dapat menghasilkan uang, jika memang anda merasa kekurangan. Memberi bimbingan les, hobi fotografi, menulis makalah/ artikel, atau membuka warung kopi sederhana dapat anda lakukan disela sela kesibukan anda belajar. Banyak peluang disekitar anda yang dapat menghasilkan uang. ESN: dan yang paling keren lagi, bang goodman mencoba membangkitkan naluri survival dan watak kewirausahaan para PNS yang mau tugas belajar, bukan hanya memberi pandangan objektif, tapi juga memberikan solusi alternatif (di luar sistem yang ada) dan memang masuk akal, karena waktu luang kemungkinan akan lebih banyak ketika kuliah dibandingkan kerja :) jadi memang ga perlu takut dipotong TC, mari cari peluang2 usaha, lumayang kan :) salut buat abang goodman, yang ini yang dicari...hehehe, penalaran objektif + solusi alternatif >From raha HaBeWe Salam Damai dari Serui ESN
