--- In [email protected], "mi_kopyok" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bukti djpbn blm berubah adalah masih adanya lembur fiktif. Satu hal > yang sudah pasti diketahui oleh pimpinan kita tapi tetap dibiarkan > ada. Saya gak tahu alasan apa yg dipakai. Apa krn urusan perut trus > semua jadi gelap mata. Hantam semua tak peduli halal - haram. Tanyakan > ke hati nurani apa kita berhak menerima sesuatu yg tidak pernah kita > kerjakan. Ini kalau masih ada hati nurani. > > Stop Lembur Fiktif!! > Stop Korupsi!!! > Saat ini Juga. Mulai dari pemimpin biar bisa dicontoh anak buah. >
Sebelumnya ijinkan saya mengucapkan selamat kepada mas Irsyad yang sudah sampai pada keputusan stop lembur fiktif. Puji Tuhan. Sayang saya belum bisa melaksanakannya mas, bahkan sampai sekarang jujur saja saya belum bisa memaksimalkan waktu kerja saya. Jam kerja 7.15 s/d 17.00 seringkali terasa masih kurang. Saya terkadang (sering) dalam beberapa hal harus menyelesaiakan laporan sampai jauh malam. Mungkin karena saya yang goblok bin lemot mas.Apalagi kalo ada permintaan dari pimpinan untuk mendownload peraturan. Kayaknya ndak mungkin hal itu saya lakukan siang hari, harus malam hari karena keterbatasan speed intranet kita. hal ini juga dialami teman teman di seksi bendum dimana mereka justru seringkali mulai start kerja setelah jam 5 sore yaitu setelah SP2d selesai di load. Begitu juga dengan teman teman di seksi PB yang masih kerepotan menertibkan kartu pegawai pns/tni/polri (kartu kuning/merah). Semoga Tuhan mengampuni dosa saya jika masih tetap mengambil jatah lembur ini. Kiranya Tuhan berbaik hati dengan memberi sedikit saja hukuman atas lembur yang tidak seberapa ini mas. Kadang saya juga berpikir untuk membatasi penggunaan intranet dalam menyampaikan email ke milis kita ini. Karena hal inipun bisa saja merupakan tindakan korupsi. Tapi yah...itulah saya dengan segala kekurangan saya mas. Terima kasih sudah mengingatkan. >From Raha HaBeWe.
