Satu kata yang sekarang saya pertanyakan adalah LOYALITAS. Apa
sebenarnya loyalitas? Menurut kamus bahasa Indonesia, loyal berarti
patuh,setia. Loyalitas yang diharapkan oleh DJPBN tentunya loyal
terhadap organisasi.Masalah ini lagi hangat-hangatnya karena banyak
pegawai DJPBN yg 'keluar/loncat'.
Saya pernah bertanya kepada atasan langsung saya mengenai masalah
penunjukan pegawai untuk mengikuti suatu diklat. Contoh kasus yang
saya alami sekarang adalah adanya permintaan daftar peserta orientasi
teknis SIK DJPBN Tahun 2007 dari kabag kepegawaian kanpus dengan surat
No. S-616/PB.12/UP.10/2007 tanggal 7 November 2007. Salah satu syarat
peserta adalah 1 orang petugas SIK dan 1 orang pegawai yang bertugas
pada SUBBAG KEPEGAWAIAN. Mengapa diminta 2 orang tentu dengan tujuan 1
peg lagi bisa membackup petugas SIK tsb apalagi kalau ternyata petugas
SIK tsb sudah mengajukan diri untuk pindah instansi. Tapi kenyataannya
1 orang lain yang ditunjuk untuk mengikuti orientasi teknis tersebut
adalah BUKAN dari Subbag Kepegawaian. Hal seperti ini mungkin bisa
dimaklumi kalau memang tidak ada lagi pegawai lain yang memenuhi
syarat. Tapi sekali lagi yang sangat saya sesalkan ialah bahwa masih
ada beberapa pegawai yang memang dari Subbagian Kepegawaian yang mau
dan mampu untuk itu tetapi tidak mendapat kesempatan. Mengapa yang
ditunjuk malah orang yang tidak memenuhi syarat?
Jawaban dari atasan langsung saya tadi ialah bahwa penunjukan sso itu
adalah hak pimpinan dan bawahan yang loyal harus mau menerima
keputusan tersebut. Sudah jelas bahwa pegawai yang ditunjuk bukan dari
Subbagian Kepegawaian tapi di surat jawaban tertanggal 12 November
2007 No. S-1187/WPB.06/BG.0101/2007 disebutkan bahwa pegawai tersebut
dari Subbag Kepegawaian ( kebohongan yang jelas disengaja ).
Loyal kepada siapa sebenarnya yang dimaksud? Untuk urusan dinas
tentunya harus lebih mengutamakan kepentingan kantor bukan pribadi.
Jadi untuk organisasi sebesar DJPBN, saya cuma merenung apa jadinya
organisasi ini kalau masih banyak pimpinan yang masih mendasarkan
keputusan bukan pada kepentingan organisasi, yang malah lebih
mengutamakan kedekatan personal.
Akhir kata saya mohon maaf kalau surat ini menyinggung perasaaan pihak
tertentu. Saya cuma berharap semoga contoh kasus ini bisa menjadi
bahan pemikiran kita bersama untuk kebaikan dan kemajuan DJPBN.