Barangkali kekurangan orang? Soalnya di sini juga begitu, saking cuma sedikit pegawai (tiap bidang paling cuma 1-2 pelaksana) dan ada pula yang nggak bisa ikut karena ujian di kampus atau halangan lain, jadinya ya terpaksa banyak diklat (atau sejenisnya) yang diikuti oleh staf bidang yang lain. Tapi kalau membaca curhatan Mbak Yessi ini sepertinya kasusnya bukan begitu ya? Dan mungkin Mbak Yessi lebih menitikberatkan ke 'kebohongan' itu. Jadi solusinya gimana ya, ditulis saja bahwa si peserta aslinya dari subbag lain atau satu orang saja yang berangkat?
Leila http://niwanda.multiply.com --- In [email protected], "yessi marseilli" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Justru itu.... saya mempertanyakan kenapa yang ditunjuk bukan orang > yang menangani masalah kepegawaian. FYI: dari kanwilku ditunjuk 2 > orang: 1 petugas SIK yang memang dari subbag kepegawaian dan 1 orang > lg dari tu-rt yang kerjanya sbg sekretaris. Nah lho? Nyambung gak sih? > Kan dah jelas syarat untuk peserta harus dari subbag kepegawaian tapi > malah terjadi kebohongan krn yg dikirim dari subbag tu-rt tapi di > surat jawaban ditulis bahwa pegawai tsb dari subbag kepegawaian. Aneh > tapi nyata! Petugas SIK dsini dah mncalonkan diri pindah ke DJKN jadi > hrs disiapkan penggantinya toh? Ini yang mendampingi dia malah dari > tu-rt yang tugasnya sbg sekretaris kakanwil. Dari persyaratan aja > sudah gak masuk kualifikasi eh malah memaksakan kehendak dengan > melakukan kebohongan spt yg saya ungkapkan sebelumnya. > Bukan cuma untuk diklat ini aja kasus seperti ini terjadi dsini... > Gmana pendapat Anda untuk kasus spt ini? Apa kata pimpinan ga bisa > dibantah. Krn dia kepala kantornya ya saya sbg pelaksana cuma bisa > pasrah....
