Kalo boleh saya memberi pendapat:

Saya sependapat dengan Mr.Opix tentang "Promosi bukanlah hak pegawai 
tetapi bagian dari pengambilan keputusan para pemimpin".

Kesimpulan saya gini,
Kalo pemimpinnya pinter dan mengerti leadership, manajemen SDM, 
Psikologi, Reward & Punishment dan beberapa ilmu lain 
yang "seharusnya" dimiliki pemimpin yang mumpuni atau 
setidaknya "mau" bertanya pada yang ahli sebelum 
mengambil "keputusan" maka hasilnya pasti bisa dipertanggungjawabkan 
karena ada standardisasi dan jawabannya berdasarkan ilmu 
pengetahuan. Bukannya karena "ini sudah keputusan pimpinan" (yang 
rada-rada gimana gitu...)

Mudah-mudahan dengan adanya angin surga bahwa DJPBN akan membuat 
suatu/semacam Manajemen Asessment Center (MAC) maka hal-hal seperti 
ini semoga tidak terjadi lagi (tapi saya pesimis kok ya???).
Dulu juga pernah ada slogan dan jorgan yang sama or mirip dengan MAC 
ini seperti "tour of duty tour of area", right people on the right 
place, bla-bla-bla. Tapi hasilnya yaa yang kayak temen Mr.Opix 
keluhkan. Hanya waktu yang bisa membuktikan. Apakah sejarah terulang 
(favorable) ataukah berubah menjadi Better or Best (Non Favorable). 

Jangan Sampai MAC hanya menjadi singkatan Memilih yang Aku Cuka 
(maksudnya suka) bukannya Manajemen Assessment Center yang TOP.

Saya punya cerita seorang teman (Mr. X) tentang promosi jabatan di 
USA.
Alkisah dia seorang AKuntan mumpuni dibuktikan dengan gelar 
bergengsi (Master of Accountant & Financial Information Statistic) 
di Universitas Bergengsi di USA. Setelah bekerja beberapa tahun di 
perusahaan Internal Auditor yang ternama dan tersibuk, akhirnya ada 
pengumuman lowongan untuk jabatan chief of Internal Auditor.

Sistem di sana mengumumkan siapa saja nama-nama yang akan menjadi 
kandidat/calon terpilih berdasarkan kompetensi dan penilaian 
kinerja. Dan nama Mr.X muncul sebagai salah seorang kandidat yang 
kebetulan satu-satunya orang Indonesia dan Muslim.

Setelah mengikuti serangkaian tes yang panjang, transparant dan 
akuntabel, tinggal tersisa dua nama calon kandidat yaitu Mr. X 
(teman saya, gelar formal Master/S2) dan Mr. Y (Orang Amerika dengan 
pendidikan formal S1). Teman saya pun sudah merasa di atas angin dan 
bersiap2 menerima jabatan yang lebih tinggi. 

Akhirnya setelah dirapatkan oleh Para pimpinan, ternyata Mr. Y yang 
diangkat menerima jabatan tersebut. Mr. X pun dengan inisiatif 
sendiri datang menemui Pimpinan dan bertanya apa alasan Mr. Y yang 
dipilih, bukannya dia dengan latar belakang Pendidikan formal yang 
lebih tinggi. Bila Pimpinan tidak memilih Mr.X karena alasan bukan 
orang amerika dan sebagainya yang tidak logis, maka teman saya akan 
segera menyiapkan tuntutan banding (yang memang ada mekanismenya, 
kok kita gak ada ya???). Sang pimpinan pun minta waktu beberapa hari 
untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Akhirnya setelah waktu yang ditentukan, Mr. X di panggil dan 
diberikan jawaban dengan dukungan properti kandidat Mr.X dan Mr.Y, 
Pimpinan mengatakan alasan dipilihnya Mr.Y karena memiliki 
sertifikat keahlian profesional CIA yang tidak dimiliki Mr.X. 
Jabatan sejenis sebelumnya dan dikantor2 lain pun, menjadi 
standard/rekomendasi agar diberikan pada personnel yang 
bersertifikat keahlian.

Setelah mendapat penjelasan, Mr.X pun merasa lega dan puas. Dan 
setelah itu Mr.X segera mengambil beberapa sertifikasi keahlian 
khusus dan bahkan sekarang telah menjadi dewan pengurus 
sertifikasinya.

So, dari pemimpin yang pintar akan dihasilkan kaderisasi yang pintar 
juga. Mungkinkah yang sebaliknya juga terjadi???

"Very Tired"


--- In [email protected], Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sekalian minta pendapat para anggota milis sekalian. 
> 
> Ada seorang pegawai yang mengeluh kira-kira seperti ini: "Kenapa 
ya saya tidak dipromosikan menjadi pejabat eselon IV padahal pangkat 
saya sudah memenuhi syarat, saya lulusan S2 dari universitas 
ternama, beasiswa pula, dan saya juga rajin bekerja, aktif dalam 
rapat, dll". Untuk pertanyaan tersebut saya yang masih pegawai 
yunior pun bisa menjawab dengan singkat dan jelas: "Promosi bukanlah 
hak pegawai tetapi bagian dari pengambilan keputusan para pemimpin", 
dan jawaban saya tersebut memuaskan si penanya.
> 
> Akan tetapi ada keluhan lain yang saya belum bisa menjawabnya, 
kurang lebih seperti ini: "kenapa yah si Fulan yang kerjanya gak 
becus, suka mark-up harga pembelian barang, bahkan gak lulus seleksi 
Diklatpim IV malah  dipromosikan jadi pejabat eselon IV". Saya cuma 
bisa balik bertanya: "Emang ada yang kayak gitu?" si penanya tidak 
bisa menjawab, mungkin memang sebenarnya tidak ada pejabat seperti 
yang dia keluhkan itu...atau mungkin karena dia takut...
> 
> wassalam
> [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke