maaf bukannya kmai gk setuju dengan pendapat panjenengan, tapi untuk
yang poin pertama kami kurang sependapat, karena pada dasarnya
perempuan itu punya tugas mendinginkan suasana, toh dalam perekrutan
pasti komposisi kaum hawa masih lebih sedikit dibanding pria. Menurut
kami daripada mikirin mutasi yang gak jelas mending mikirin soal
kelebihan pegawai, kita katanya kelebihan pegawai tapi kok ada kppn
yang kurang pegawai? apa gak ada tenaga potensial dari daaerah itu
sendiri sampai harus medatangkan tenaga dari luar pulo? 

rapimtas menurut kami harus bermula dari bawah, yaitu para pimpinan
sebelum rapimtas hendaknya menjaring aspirasi dari bawah, termasuk
juga masyarakat dimana kita hidup. Rapimtas tidak akan monoton bila
dicoba untuk menjaring aspirasi bawah.

Kami juga ingin bertanya kepada pimpinan yang ada disini, sudahkah
menerapkan sistem reward and punishment? adakah pegawai di kantor
daerah yang terlambat kena potongan absen? kalo ada Alhamdulillah.

Sudahkah dihilangkan lembur fiktif? pada dasarnya kami sangat tidak
setuju dengan lembur fiktif apalagi bila ada yang diterima bulan
nopember dari SPK bulan oktober kalo ada, itu menurut kami jahat
sekali karena bulan itu masih bulan puasa, memang sih mungkin ada yang
lembur tapi insya Alloh 99% orang menolak untuk lembur ya toh?

perbaikilah diri kita masing-masing sehingga organisasi akan baik.

Kirim email ke