Kesenjangan yang begitu jauh nyata semakin menyesakkan dada. Apapun
yang diperoleh dari kesenjangan sebenarnya tidak memberikan kebanggaan
apa-apa. Krisis multidimensional semakin sulit terurai dimana ujung
pangkalnya. Beberapa postingan di forum ini pun sebenarnya hanya
menggambarkan realitas benang kusut itu dari berbagai sisinya. 

Kalau kita masih menjadikan UUD 1945 sebagai kontrak sosial sebagai
perekat sekaligus pengayom setiap warga negara dalam wadah NKRI, sudah
sepantasnya mengarahkan segenap kemampuan sebagai negara yang suka
"bergotong-royong" untuk mengenali agar timbul rasa sayang (tak kenal
maka tak sayang)puluhan juta yang miskin dan puluhan juta lagi yang
pengangguran. Tak perlu sampai mengenali nama, berapa kali makan
sehari, dimana tinggalnya seperti kita mengenali teman kita yang jadi
honorer bertahun-tahun itu. kalau ada 40 juta yang pengangguran
kemungkinan energi kemanusiaan kita juga ada batasnya kalau harus
mengenali satu persatu seperti mengenali saudara kita sendiri secara
individu.

Kasus-kasus yang telah lewat kadang hanya menjadi kasus "TST" sekedar
masa lalu yang tak perlu diingat dan ketika itu terjadi lagi seperti
orang pongah yang tak berdaya terus membuat kita menjadi bangsa yang
pesimis.

Ketika ada pejabat yang punya posisi tawar tinggi "energi kemanusiaan"
   dan rasa kemanusiaan, serta sifat "gotong-royongnya" muncul yang
dilakukan antara lain segera dibuat D1 (Diploma 1) khusus daerah
tertentu (lulus 2005) bukankah ini juga merupakan langkah "by pass"
untuk menyikapi tidak ada lagi tenaga honorer administrasi. Kalau
sudah dapat NIP tinggal cari beasiswa. Kalau kita arahkan ke 33
provinsi dibawah payung UUD 1945 dimana anda bisa bayangkan D1 khusus
dapat diartikan mewakili Provinsi itu. Apakah dari bahasa atau dari
nama sangat sulit bukan ?. Di sampit (Kalimantan) pun adalah tanah
leluhur berbagai etnis, apalagi di Jakarta. Ada kerancuan berpikir
jadi peluang KKN.

Menurut hemat saya mengurai benang kusut ini tetap berpangkal dari
pembenahan sistem pendidikan "mencerdaskan kehidupan bangsa" yang
termuat di pembukaan UUD 1945. Kalau cuma orang DJPB, orang dari etnis
dominan saja yang cerdas sama saja bangsa yang tidak cerdas, mudah
dijajah oleh bangsa lain dengan memanfaatkan kesenjangan ini.

Dimulai dengan pendidikan? mencerdaskan kehidupan bangsa? maka dijawab
oleh K/L dengan memberikan kepada pegawainya beasiswa seluas-luasnya,
Kementerian PAN dengan menaikkan gaji PNS, remunerasi, di dusun legok
tangerang dengan menambal atap sekolah yang bocor, di SD swasta
mengajarkan IQ, EQ dan SQ sejak dini. Kesenjangan apa lagi yang terjadi...

Saya tutup uraian ini dengan kisah.

Seorang anak petani miskin kesulitan mengilusrasikan tamasya ke pantai
pekerjaan rumah (PR) dari gurunya. Kemiskinannya yang membelenggu
membuat kesehariannya hanya mengumpulkan siput kecil di sawah untuk
dibawa pulang sebagai menu keluarga. Cerita dari temannya yang
beruntung yang pernah ke pantai. Pantai adalah perairan yang sangat
luas kadang nampak cakrawala tak bertepi. si anak petani pun
membayangkan dapat membawa siput besar satu saja kalau ia sempat ke laut.

Kadang cerita seperti ini pun cukup menghilangkan penat takala pulang
kantor setelah seharian melakukan rutinitas kerja. Realitas nyata yang
ada disebrang sana tak mengusik kepedulian kita karena lelahnya.
Selamanya tanpa sadar kita melestarikan mitos-mitos kemiskinan. Sambil
berharap kesenjangan bisa beriring. Apa mungkin? bangsa yang kurang
cerdas memang, sebuah kesenjangan yang tak bertepi.



--- In [email protected], dedi cahriadi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Satu sisi merupakan kebijaksaan
> politik dari pemerintah untuk mengurangi tingkap pengangguran, tapi
satu sisi
> menjadi beban pemerintah karena perlunya "nilai" untuk menyiapkan
angka di
> Anggaran belanja Negara dalam rangka menaikan status mereka.
> 
> 
> Di sisi lain adanya "medan bermain" (demikian
> pak Budi Sebutkan) membuat kelihatan wajah "Republik" ini yang
memang penuh
> dengan KKN menjadi tambah amburadul.
> 


Kirim email ke