Saya setuju dengan pendapat Mas Dedi, kita harus bisa bersikap tegas terhadap tenaga honorer. Rekruitmen mereka saja hanya berdasarkan katabelece oknum Pejabat, cara-cara seperti ini harus kita tinggalkan. Saya bukannya tidak setuju ada tenaga Honorer, karena bagaimanapun juga kita butuh tenaga diluar tupoksi kita, seperti tenaga Cleaning Service, Keamanan, dan Sopir. Tenaga2 seperti kenapa tidak lewat pihak ketiga saja. Kita buat kontrak dengan rekanan yang menyediakan tenaga-tenaga tersebut, sehingga tidak menjadi beban bagi pemerintah untukdiangkat CPNS.
Menurut saya, tidak perlu kita mengangkat tenaga honorer karena pengabdian. Pengangkatan CPNS harus melalui seleksi yang fair, tidak perlu ada perlakuan khusus terhadap mereka. Banyak orang ingin pekerjaan, banyak yang ingin jadi PNS, kenapa harus ada perlakuan khusus (Jaminan diangkat), padahal mereka direkrut Honorer saja dengan cara tidak benar. Lihat kondisi sekitar berapa banyak orang yang menganggur alasannya bukan saja mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan tapi juga tidak bisa mendapatkan katabelece dari oknum pejabat pemerintah. Kesimpulannya STOP rekruitmen tenaga honorer, dari sekarang. Tenaga diluar tupoksi sebaiknya dilakukan dengan pihak ketiga, Kalau ingin jadi PNS,..ya silakan mengikuti seleksi secar fair, sepeti yang lainnya (non Honorer), dong...jangan cari-cari katabelece. Hidup harus berjuang dengan cara yang benar. Insya Allah kalau semua kita lakukan dengan benar, maka hasilnyapun akan berkah. --- In [email protected], dedi cahriadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kembali ke Masalah Honorer > mungkin mulai saat ini pemerintah harus bercermin untuk segera membenahi secara > ketat pengangkatan Honorer dan membuat regulasi menghentikan Pengangkatan > HonorerÂ… Mengangkat pegawai yang kreadibel dengan system percepatan pensiun bagi > PNS yang tidak produktif, dan tentunya harus ada imbalan pesangon atas jasa2nya > selama mengabdi. Sampai pada saat dimana penataan pegawai mencerminkan ideal > bagi pemerintah. > > > >
