Tulisan ini didasari oleh keprihatinan atas miskinnya jiwa para
pejabat kita yang sering sekali menggunakan momen kunjungan ke daerah
sebagai sarana korupsi secara tidak langsung. Dengan kunjungan ke
daerah sebenarnya para pejabat itu telah memaksa para bawahannya di
daerah melakukan korupsi demi menjamu kedatangan mereka atas nama
"MEMULIAKAN TAMU'.Para pejabat ini sering sekali merasa BUTA matanya,
sehingga ketika ia dibayari makan, dibayari Hotel, atau bahkan
DISANGONI,tanpa perasaan bersalah ia menerima itu. Oleh karena itu
sebagai wujud dari Semangat Reformasi Birokrasi di negeri ini
hendaknya kita ubah cara pandang kita mengenai kunjungan pejabat ke
kantor daerah dari MENGEMIS menjadi MEMBERI/MELAYANI.

Setidaknya kedua belah pihak, baik Para Pejabat sebagai tamu maupun
Kepala Kantor sebagai tuan rumah mengubah mindset-nya yang sudah
mengendap bertahun-tahun sejak awal menjabat/diberi amanah oleh rakyat. 

Para pajabat hendaknya:
1) Para pejabat melakukan kunjungan kedaerah dengan menggunakan asas
manfaat. Ada target yang jelas sehingga kunjungan tersebut tidak
menjadi sia-sia.
2) Para pejabat mengunjungi daerah adalah dalam rangka melayani
kebutuhan para bawahannya, menampung aspirasi mereka, dan tentunya
mendengar keluh kesah mereka juga. 
3) Para pejabat yang melakukan kunjungan ke kantor daerah menggunakan
DIPA kantor masing-masing. Tidaklah wajar jika makan, menginap,
ataupun oleh-olehnya dibiayai oleh pejabat di daerah. Sangat tidak
masuk akal kan. Seorang pejabat yang notabene penghasilannya lebih
besar dari bawahannya, mendapatkan pelayanan seperti itu. Tentunya
tidak ada bawahan yang mau melakukan itu dengan uangnya sendiri,
karena dilihat dari sudut pandang apapun itu tidak mungkin. Seorang
bawahan yang melakukan itu pasti menggunakan uang haram/subhat yang
berasal dari korupsi, kolusi dan sebagainya.
4) Para pejabat harus menegur bawahannya yang melayaninya berlebihan.
Selain merendahkan martabatnya sebagai atasan yang selalu melayani
anak buahnya, hal tersebut berarti mengindikasikan terjadinya
penyelewengan anggaran di kantor daerah tersebut. Tidak mungkin para
bawahan di daerah iuran untuk membayar hotel para pejabat secara
penghasilan mereka sendiri masih sangat jauh dibandingkan penghasilan
para pejabat itu.

5) Para pejabat hendaknya berkunjung tanpa harus memberi tahu terlebih
dulu. Dengan seperti itu maka kunjungan akan benar-benar efektif.
Kantor daerah tidak akan akan memanipulasi keadaan di kantornya. Semua
akan berjalan alamiah. Sebagai contoh adalah ketika sebuah kantor
daerah malas-malasan menyediakan air untuk bawahan dan para tamu
satker, bahkan untuk wudhu sekalipun, hendaknya para pejabat yang
berkunjung inipun merasakan hal yang sama. Mengapa saya mengatakan
seperti itu, karena hal tersebut memang pernah terjadi. Suatu kantor
dengan tenaga honorer yang malas selalu terlhat kotor tiap harinya.
Bahkan air pun sering terlambat datangnnya. Bagi para muslimin yang
hendak sholat, mereka harus membeli aqua botolan untuk berwudhu.
Hingga suatu saat ada pemberitaan bahwa seorang pejabat akan
mengunjungi kantor tersebut. Dengan serta merta para pejabat didaerah
mengerahkan para pegawainya untuk membersihkan kantor dan langsung
menelepon PDAM untk memenuhi air dikamar mandi dan bak-bak
penampungan. Setelah pejabat datang semuanya terlihat begitu indah.
Pejabat tersebut seperti ditipu dan dibodohi oleh bawahnnya. Kalau
saya yang jadi pejabatnya, maka saya akan mengusulkan agar bawahan
saya tersebut  dimutasikan ke tempat yang lebih jauh.

6)Para pejabat hendaknya menampung aspirasi bawahnnya lewat pendekatan
personal. Hendaknya mereka berdialog tanpa didampingi para atasannya
sehingga mereka bisa dengan leluasa untuk bercurhat.
Semua sudah tahu kalau mindset palaksana dan pejabat di daerah itu
banyak yang tidak sama. Jadi ketika seorang pejabat di daerah
menyampaikan aspirasinya, pasti itu hampir tidak sama dengan aspirasi
para pelaksananya. Mereka selama ini tidak pernah bisa menyampaikan
aspirasinya langsung karena selalu dikebiri oleh atasannya. Para
pelaksana banyak yangberkeinginan mengubah instansi ini dari sebuah
instansi pemerintah yang korup menjadi instansi yang berwibawa dan
bersih. Akan tetapi banyak sekali pejabat di daerah yang korup. Saya
juga heran mengapa kepegawaian sampai mengangkat mereka dalam jabatan,
sementara banyak dari mereka adalah bermental seperti itu. Apa memang
sudah tidak ada lagi orang jujur di negeri ini.

Itu saja yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi saya menantang para
pejabat yang ingin brkunjung ke daerah agar mengubah paradigmannya
dari MENGEMIS menjadi MEMBERI/ MELAYANI.

Saya tantang dari para pejabat yang sering singgah di milis ini dulu.
Bagaiman Pak Hari Ribowo di SEMARANG? atau mungkin MAS SUBASITA di
HEART OF BORNEO? Sanggup ga merealisasikannya?

Sekali lagi bagaimana Pak Hari, juga MAS SUBASITA? kemana saja liburan
ini?

Dan tentunya para pejabat lainnya.


Saya Tunggu....

Kirim email ke