Dear All,

Dua hari yang lalu tepatnya 12 Februari 2008 Jawa Pos menyampaikan berita
yang mengejutkan, isi lengkapnya bisa dibaca di e-mail ini... Pertanyaannya
adalah :
1. Validkah penemuan tersebut?
2. Bila iya, akankah kita menjadi negara surplus minyak sehingga bisa
mengurangi beban defisit keuangan negara?
3. Akankah kita mampu mengelola sumber daya yang ada secara maksimal, supaya
kesalahan-kesalahan pengelolaan sumber daya alam yang salah dimasa lalu
tidak kembali terulang? Menurutku, we really need sovereignty dalam
pengelolaan SDA...

Do'aku... semoga penemuan ini benar adanya.... semoga kita benar mampu
memanfaatkannya secara maksimal... semoga tidak menjadi pemicu perpecahan
baru dalam tubuh bangsaku ini.... Amiiin...

Cheers,
Ali

-----------  Quoted news starts from here -------------

JAKARTA - Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan
berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa
tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) kemarin (11/2) mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan
migas raksasa.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman
mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und
Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan perairan yang di dalam buminya
diperkirakan terkandung migas 107,5 hingga 320,79 miliar barel. Lapangan
migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin
perairan timur laut Pulau Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Kandungan migas itu luar biasa besar," ujar Yusuf di Kantor BPPT Jakarta
kemarin (11/2).

Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh
tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi
mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di
Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya
450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field
jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.

Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30
persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu
yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu seluruh
cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak.
"Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut," katanya.Dia
menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi awal
keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate
build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang
merupakan indikasi adanya gas.

Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau
Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang
memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di antaranya,
di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.Meski demikian, BPPT akan
tetap membuat perhitungan realistis. Menurut Yusuf, jika porositas
diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan hanya 15 persen dari
volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal cadangannya masih 53,7
miliar barel. "Tetap saja angka itu masih sangat besar," terangnya.Penemuan
BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari ahli geologi perminyakan
Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di Kantor BPPT. Chairman PT
Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu mengatakan, wilayah perairan
Indonesia memang memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi
mengandung migas. "Banyak di antaranya yang belum teridentifikasi,"
ujarnya.Hingga
saat ini, kata dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc basin
yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan gas
sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah.
"Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera," terangnya.

Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian lebih
lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan terbuktinya.
Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT dengan interval
jarak 60 km masih terlalu longgar. "Harus lebih rapat lagi, paling tidak
intervalnya 20 km," katanya.

Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan pemerintah
untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk mengkaji lebih
teliti, dibutuhkan dana cukup besar.

Dia menyebut, untuk proses studi seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan
dana sekitar USD 7 juta. Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan migas,
perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya
pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines, AS, itu,
sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD 427 juta.
"Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya
jauh lebih besar," jelasnya.

Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan pemerintah
adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas tersebut paling
cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan, pemerintah
harus bergerak cepat. "Jangan sampai potensi ini salah urus," tegasnya.

Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman lebih
dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang belum
tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian, lanjut
dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru
dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni
perusahaan asing. "Intinya, pemerintah harus berusaha agar potensi ini bisa
dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa," jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah melaporkan
penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya sudah memberikan
tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan mengirimkan letter of intent
kerja sama untuk menindaklanjuti temuan tersebut. "Kami harap semua pihak
terkait bisa cepat merespons temuan ini. Sehingga bisa segera
ditindaklanjuti," ujarnya.

BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus
seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah
untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)

*Sumber : Jawa Pos *


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke