Tidak tercapainya angka lifting minyak bumi, sebagai salah satu asumsi yang dipakai dalam APBN, antara lain adalah 1)sumur2 minyak di Indonesia yang sudah tua, shngga kurang produktif; 2) Tidak/belum ditemukannya sumur2 minyak baru; 3) Sumur2 offshore kurang bisa di kelola krn kemampuan tehnologi tinggi yang kurang di punyai oleh Indonesia; 4) kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumur2 baru biayanya sangat mahal (modal kita cekak, syukur2 tidak di mark up).
Oleh karena itu, harus di upayakan adanya penemuan cadangan2 minyak baru yg dapat di eksploitir. Hasil penemuan BPPT ini perlu disambut gembira. Tetapi ini baru merupakan hasil uji seismik. Jadi masih banyak yang harus di lakukan lebih lanjut, seperti uji coba pengeboran, uji coba hasil yang secara ekonomis memungkinkan untuk di eksploitasi.Diperlukan biaya yang sangat besar dari eksplorasi sampai dengan proses berproduksi dan tentu saja risiko yang sangat tinggi untuk tidak berhasil. Apalagi letaknya cekungan minyak itu bukan di daratan tetapi dilaut yang cukup dalam, mk biaya akan semakin besar, mencakup untuk peralatan dan tehnologi tinggi. Sementara hasilnya belum dapat dipastikan. Dari sisi modal dan tehnologi tinggi ini saya kira kita masih sangat tergantung dengan pihak luar. Dalam kenyataan sekarang blok2 migas, tidak semuanya bisa di kerjakan oleh Pertamina, tetapi di kontrak karyakan dengan kontraktor2 minyak raksasa dunia. Yang kadangkala pembagiannya cenderung merugikan kita (biasanya kita bisa ngitung dan melihat setelah suatu sumur menghasilkan). Tak bisa di pungkiri perusahaan migas raksasa punya modal, keahlian dan pengalaman yg cukup. Barangkali yang penting adalah pengaturan kontrak itu sendiri yang adil. Sebagai gambaran, saat ini blok natuna (offshore) pun masih terkatung-katung perundingannya. Negosiasi berjalan sangat ketat dan alot. Karena risiko yg tinggi tadi. Mengingat modal dan tehnologi yg di perlukan. Rasanya tanpa investor asing tidak mungkin (paling tidak untuk saat ini dan masih jauh beberapa dekade kedepan). Isu ini yg sering menjadi tanda tanya besar thd "sovereignty" thd eksploitasi SDA kita...Kalaupun dipaksakan maka sumber daya nasional yang terbatas akan terserap kesitu semua. Kegiatan per ekon yg lain tidak akan memperoleh kesempatan utk bergerak. Tanpa adanya kegiatan eksplorasi migas, maka potensi yg ada tidak pernah akan terwujud menjadi kenyataan dan tidak memberi kontribusi apa2 thd pembangunan di negeri ini. Pakertihutomo --- "M. Ali Hanafiah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear All, > > Dua hari yang lalu tepatnya 12 Februari 2008 Jawa > Pos menyampaikan berita > yang mengejutkan, isi lengkapnya bisa dibaca di > e-mail ini... Pertanyaannya > adalah : > 1. Validkah penemuan tersebut? > 2. Bila iya, akankah kita menjadi negara surplus
