Dulu juga Indonesia kaya minyak bahkan menjadi salah satu negara pengekspor 
minyak terbesar di dunia. Tapi apa yang terjadi??? Yang merasakan manfaat 
tersebut secara maksimal hanyalah Kroni2 Suharto, oknum2 PERTAMINA dan usaha 
disekitarnya. Lihat saja kontrak karya dalam perusahaan pertambangan yang 
memberi keuntungan maksimal bagi perusahan2 dari negara asing ataupun 
perusahaan kroni.
  Walaupun rakyat sempat merasakan kenikmatannya, itu ibarat hanya mendapatkan 
kuah dari opor ayam yang dimasak sang koki. Sedangkan yang mendapatkan 
dagingnya adalah kalangan2 tertentu yang memiliki akses dalam kekuasaan lewat 
cengkeraman KKN.
  Saya jadi ingat presiden Venezuela yang mengundang semua perusahaan 
pertambangan minyak asing yang beroperasi di Venezuela dan memberikan ultimatum 
agar mereka merevisi kontrak pertambangan agar lebih menguntungkan rakyat 
venezuela. Kalau mereka menolak, dipersilahkan keluar dari venezuela dan 
perusahaannya akan di Nasionalisasi.
  Lantas apa yang terjadi???? Semua perusahaan tambang minyak segera merevisi 
kontraknya menuruti kemauan sang presiden dan tidak ada satupun yang keluar 
dari Venezuela karena bagaimanapun pertambangan khususnya minyak pasti akan 
menguntungkan.
  Bagaimana dengan Indonesia???? Masihkah freeport disebut Tembagapura??? 
Padahal produk utama tambang di Papua tersebut adalah emas murni. Bayangkan 
saja!!!! Masyarakat papua yang menyaring limbah (air buangan) dari freeport 
saja setiap hari bisa mendapatkan emas beberapa gram, apalagi kalo menggali 
diwilayah pertambangan secara langsung. Luar Biasa Bukan!!!
  Semoga Indonesia "tambah pintar" sehingga tahu harus minum jamu tolak angin 
yang mana:) he.he.he.......

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke