Pemikiran anda cukup picik juga ya. Inget mas yang berkepentingan
dengan S-1 mereka itu siapa. Ditjen PBN mas. D-4 aja ga boleh. Jadi
kalau mau itung-itungan siapa sebenarnya yang butuh. Ya ditjen
PBN.Diharapkan setelah mereka lulus akan mampu mengubah perilaku/
paradigma salah para pendahulunya. Jadi koq sampai andai berpikir dan
berandai-andai di-cut gajinya. Hargain dong orang yang ikhlas
mengabdi. Anda tau ga kalau setiap penerima beasiswa S-1 itu telah
menandatangani pakta setia kepada Ditjen PBN. Apa itu kurang cukup
sehingga kita tidak mengakui 100% keberadaan mereka sebagai investasi
SDM dimasa mendatang untuk kebaikan Ditjen PBN.

Sangat ironis bagi saya sendiri ketika Tugas Belajar dianggap lebih
hina dari bekerja sehingga harus dipotong TC-nya 50% dan kalau bisa
gajinya juga. Semua bangsa Maju yang selalu memberikan perhatian lebih
kepada orang-orang yang konsen kepada Ilmu Pengetahuan -salah satunya
kepada para warganegaranya yang tugas belajar dan diharapkan kelak
bisa pulang dan membangun kembali negerinya yang porak-poranda karena
koruptor-. Sementara kita sendiri mencibir keberadaan mereka. Sebagai
pribadi yang ga bersyukur. Bukan masalah bersyukur atau ga bersyukur.
Akan tetapi lebih kepada keadilan dan penghargaan. Terutama atas Ilmu
Pengtahuan. Atau memang mental kita telah kerdil da benar-benar
bermental kolonial. Atau karena ga lulus seleksi S-1 juga sehingga
merasa iri dengki. Penyakit iri dengki lebih bahaya mas. Sementara
doktrin bersyukur dan ga bersyukur telah  digunakan oleh Belanda untuk
melegimitasi penjajahan atas Hindia belanda.

Semoga ini bisa menjadi renungan bagi orang-orang yang didalam hatinya
sedikit terbersit mental feodal dan kolonial. Maaf klo ada yang salah. 

Maju terus ditjen PBN !!!



Kirim email ke