Kepada semuanya yang berpendapat setuju tentang pemotongan TKPKN pegawai tugas
belajar, setidaknya berempatilah.... Jangan malah menuduh mereka yang tugas
belajar macam2: tidak bersyukurlah, tidak berterima kasih lah, dll.
Sepanjang yang saya tahu, pengembangan SDM memang harus diperhatikan oleh
instansi pemerintahan dengan menggalakkan persaingan sehat yang anti KKN. Dan
tugas belajar dengan tes yang fair dan tanpa intervensi apapun adalah sarana
untuk mendapatkan SDM yang berkualitas tanpa unsur KKN sebagaimana yang marak
terjadi di masa lalu dan mungkin juga masih terjadi di masa sekarang.
Coba lihat PP No.99, bahkan dicantumkan bahwa pegawai tugas belajar adalah
pegawai pilihan sehingga harus diperhatikan masalah kepegawaiannya (termasuk
kesejahteraannya). Di mana2 paradigma pengembangan SDM adalah memberikan
kemudahan bagi pengembangan SDM, bukannya malah membuat sulit dan susah bagi
sdm yang berniat mengembangkan diri.
Masalah bersyukur dan tidak bersyukur itu adalah masalah lain, kalau kita
yang menilai pegawai tugas belajar yang "bertanya dan berpendapat" itu sebagai
"tidak bersyukur" maka kita benar2 telah sangat subjektif dan berprasangka
buruk, dan kesimpulan ini tidak perlu didukung oleh ayat2 dan dalil2 yang
dipakai hanya sekadar untuk memenangkan pendapat pribadi yang tanpa dasar.
Mari kita dudukkan permasalahannya dengan porsi yang pas dan berargumentasi
dengan standard2 yang bisa diterima ilmu pengetahuan.
Mohon maklum:)
ABU FALIH <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalo gak salah. Para penerima beasiswa itu (dalam negeri), dapet juga
tunjangan (subsidi) buat buku, penelitian, dll. Jadi kalo ditotal, ya lumayan
juga, udah TKPKN 50% plus plus lagi.
Memang benar, bersyukurlah....nanti akan ada bonus lagi.... dijamin....
Endah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [email protected], "musukhal" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
...........
> 4. Saya prihatin melihat para penerima beasiswa diberi 'reward' yang
> sejenis dengan pegawai yang kena hukuman disiplin (sama-sama
dipotong TKPKN-nya)
>
............
Nuwun sewu ya...
Kenapa kita tidak kembali mempertimbangkan teory opportunity cost?
Pada prinsipnya, "Life is a matter of choice", kok. Hidup itu suatu
pilihan.
kita mau pilih yang mana? mau pilih jadi apa?
namun apapun pilihannya pasti ada konsekuensinya dong, ada
opportunity cost nya...bukankah demikian?
Selalu ada yang harus kita "korbankan" untuk mendapatkan sesuatu yang
lebih baik.
Jadi mohon maaf ya, jangan pengennya semua harus kita "dapat" dong.
Kok kesannya jadi tidak mau mensyukuri apa yang sudah didapat, tapi
masih selalu mau minta "lebih".
Dapat beasiswa itu, menurut saya, merupakan "reward" atas usaha keras
kita. toh reward tidak selalu dalam bentuk finansial bukan? Walaupun
kalo dirunut-runut lagi ya ujung-ujungnya memang duit. Artinya
beasiswa itu kan "duit" yang dikeluarkan negara untuk membiayai
sekolah kita.
Selanjutnya, bukankah TKPKN diberikan berdasarkan kehadiran? Jadi,
menurut saya sih wajar dong kalo kita tidak diberi TKPKN karena
sekolah. Artinya tidak hadir ke kantor (tapi tidak dianggap "tidak
disiplin") dan dapat beasiswa lagi --kan berarti sekolah "gratis".
Jadi, marilah kita bersyukur... masih banyak lho, yang "tidak
seberuntung" kita...
"perhatikanlah keadaan orang yang lebih rendah dari kamu dan
janganlah kamu memperhatikan keadaan orang yang lebih tinggi daripada
kamu. Yang demikian itu agar kamu tidak menganggap remehnikmat Allah
yang diberikan kepadamu" (HR Bukhari - HR Muslim)
Demikian, sekedar sharing. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan
dengan tulisan ini.
Salam,
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
[Non-text portions of this message have been removed]