--- In [email protected], "musukhal" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: .......... > 4. Saya prihatin melihat para penerima beasiswa diberi 'reward' yang > sejenis dengan pegawai yang kena hukuman disiplin (sama-sama dipotong TKPKN-nya) > ...........
Nuwun sewu ya... Kenapa kita tidak kembali mempertimbangkan teory opportunity cost? Pada prinsipnya, "Life is a matter of choice", kok. Hidup itu suatu pilihan. kita mau pilih yang mana? mau pilih jadi apa? namun apapun pilihannya pasti ada konsekuensinya dong, ada opportunity cost nya...bukankah demikian? Selalu ada yang harus kita "korbankan" untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Jadi mohon maaf ya, jangan pengennya semua harus kita "dapat" dong. Kok kesannya jadi tidak mau mensyukuri apa yang sudah didapat, tapi masih selalu mau minta "lebih". Dapat beasiswa itu, menurut saya, merupakan "reward" atas usaha keras kita. toh reward tidak selalu dalam bentuk finansial bukan? Walaupun kalo dirunut-runut lagi ya ujung-ujungnya memang duit. Artinya beasiswa itu kan "duit" yang dikeluarkan negara untuk membiayai sekolah kita. Selanjutnya, bukankah TKPKN diberikan berdasarkan kehadiran? Jadi, menurut saya sih wajar dong kalo kita tidak diberi TKPKN karena sekolah. Artinya tidak hadir ke kantor (tapi tidak dianggap "tidak disiplin") dan dapat beasiswa lagi --kan berarti sekolah "gratis". Jadi, marilah kita bersyukur... masih banyak lho, yang "tidak seberuntung" kita... "perhatikanlah keadaan orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah kamu memperhatikan keadaan orang yang lebih tinggi daripada kamu. Yang demikian itu agar kamu tidak menganggap remehnikmat Allah yang diberikan kepadamu" (HR Bukhari - HR Muslim) Demikian, sekedar sharing. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Salam,
