Kang Acep terima kasih atas reply nya, totally agree lah dengan opini akang, bisa nggak ya kebijakan perform budget kaya gitu di implementasi di manajerial kepegawaian ? kelihatannya emang kurang manusiawi ya kaya pepatah habis manis permen karet di buang... tapi bila bayaran kontraknya gede kayaknya banyak yang nggak keberatan kayak om Nidji yang baru lima tahun masa kerja tapi bersedia pensiun dini dengan syarat2 tentunya.
positifnya perform kita tidak tergantung usia, dan output ( goal ) yang dihasilkan tidak terlalu mementingkan kecepatan kekuatan fisik, seperti halnya pesepak bola profesional negatifnya hasil perhitungan kinerja untuk setiap individu kurang mudah untuk dipantau pembuat kebijakan, kayaknya hal2 seperti ini dulu yang harus dibenahi... okay bro, selamat berkerja, selamat menikmati lagi senyuman anak dan istri setidaknya tiga hari sekali, semoga saya bisa menyusul nanti. amien. the truth is out there Jamie --- In [email protected], "acep hadinata" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Selamat siang miliser di manapun anda berada.. > > Wabilkhusus to Kang Zamzam, punten pisan atas GTO na anu kapungkur.. > > Saya melihat dari sudut pandang yang lain saja yah. Kalau mau mendapatkan > contoh anggaran berbasis kinerja, sepertinya klub-klub sepakbola papan atas > Eropa sudah lebih dulu menerapkannya. Mungkin masih i
