Demokrasi itu mahal, mas..
KTP saia Jatim, dan kudunya saia kmaren nyoblos antara Karsa atau Kaji
Mantebh...
kalo saia maksain ikutan nyoblos, brarti saia kudu mudik, mbolos kerja..
Mahal buat saia...

Pilkada putaran 3 juga udah abis 1 Triliun...
mahal juga...

Kalo legislator, stahu saia udah ndak dapet pensiun lagi...
tapi fasilitasnya itu loh... bjibun..
suer, enak kok jadi anggota Dewan
DPRD aja udah bahagia.. apalagi DPR yang sawerannya sjagad...
Bapak tmen saia dulu anggota DPRD, trus bikin CV yang pasti menang
buat ngaspal jalan yang ndak alus-alus...

uang baju, uang makan, uang mobil, uang rumdin, uang transport, uang
hape, uang anu dan anu...
sampe kecap pun konon diminta penggantiannya di KPPN (pernah denger,
bon supermarket dipake SPJ)

jadi emang mahal...




powered by JamurBerry

--
jamurkuping
h4nafi[at]depkeu.go.id



--- In [email protected], "Den_Boedhi"
<goodman_neverd...@...> wrote:
>
> Dear Miliser,
> 
> Ditengah maraknya kampanye para caleg, baik itu untuk anggota DPRD
> ataupun DPRD. Pernahkah terbersit di benak kita bahwa biaya yang harus
> ditanggung oleh negara/ pemda untuk mereka kelewat mahal?
> 
> Untuk mereka yang masih aktif saya tidak begitu mempermasalahkan,
> tetapi mereka yang pensiun, sebegitu besarkah jasa mereka selama lima
> tahun sehingga perlu dibayar pensiun seumur hidup.
> 
> Kalo kita perhatikan dengan seksama, maka banyak caleg kita yang masih
> sangat muda. Bayangkan seandainya mereka yang berumur dua puluhan
> terpilih menjadi anggota legislatif, untuk kemudian pensiun lima tahun
> mendatang. Maka mereka akan menikmati uang pensiun selama bertahun
tahun.
> Bandingkan dengan seorang PNS yang harus bekerja puluhan tahun baru
> bisa pensiun. Eh... tragisnya, biasanya baru beberapa kali menikmati
> pensiun sudah "is ded" alias say goodbye to this world.
> Maka akan sangat terasa betapa mahal biaya yang harus dikeluarkan
> untuk legislator kita.
> 
> Just intermezzo
> From Kendari
> 
> HaBeWe
> Katanya Golput haram hukumnya ya...
> Duh gimana ya....
>


Kirim email ke