Buat Sobat Antfebria,

Anda benar, tulisan latin yang tepat "Hubbuddunia" semoga tidak menghilangkan 
makna. Menggelitik penyataan apa yang harus kita perbuat.

Sobat. Ibarat kita mo menebang pohon benalu yang besar dan menggurita, tentulah 
kita harus tahu mengukur diri... siapa kita dan alat apa yang mo dipake. 
Kalaulah kita orang gedean... sang penguasa, pastilah alat yang digunakan power 
yang gede... traktor barangkali, sehingga sekali babat pohon benalu itu 
tumbang. Tapi kalaulah kita hanya wong cilik dan alat yang dipake juga sebuah 
golok/kampak, tentu kita pangkas sedikit... dikit, dan bila dilakukan keroyokan 
pasti... dan pasti bersih juga.

Sobat. Hidup ini adalah hak pakai bukan hak milik. Jadi sebagai penerang dalam 
mengarungi jalan gelap perlu lentera jalan hidup dari Zat Yang Maha Hidup, yang 
dapat diartikan hidup beragama. Sungguh... tidak bisa mengerti kalau bicara 
moral... itu masalah "agama", kalau bicara ibadah... itu masalah "agama". 
Apakah hidup bernegara... berpolitik... bekerja... beraktivitas.... dapat 
terlepas dari agama... petunjuk dari Zat Yang Maha Hidup?

Sobat. Dalam kitab Al Qur'an difirmankan, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari 
siksa api neraka" Makna yang dimaksud, memulailah berbuat baik dari diri 
sendiri dan keluarga. Keluarga... dapat diartikan kawan sekasur 
(rumahtangga)... sesumur (tetangga)... selembur 
(sedesa/sekabupaten/seprovinsi/senegara/sedunia). Mulailah berbuat baik walau 
sebiji "jahroh".

Sobat. Dalam satu hadist Nabi bersabda, "Amal seseorang tergantung pada 
niatnya". Niat baik atau boleh dikatakan mulia, interprestasi dan tersimpan 
dalam lubuk hati... lubuk hati yang dalam... dan saya mengartikan "sanubari" 
disanalah ditiupkan Nur Illahi. Niat jelek rupa dari buah pikir/otak, dan 
biasanya bertentangan dengan bisikan hati sanubari. Hubbuddunia... hanya Allah 
SWT dan kita yang tahu. Kalaulah "Hubbuddunia" yang menjadi tujuan hidup 
berapapun harta yang diberi... berapapun harta yang diperoleh... tidak akan 
menghilangkan dahaga hubbduddunia itu.

Sobat. Seorang politikus (Caleg/Capres/Cawapres) yang hubbuddunia akan 
menghalalkan segala cara dalam merebut simpati pemilih. Dan sang akar rumput 
yang hubbuddunia akan bersikap EGP (emang gw pikirin) siapapun yang terpilih 
yang penting gw dikasih duit. Begitu juga pegawai perbendaharaan, bila 
hubbuddunia berapapun besar gaji dan remunerasi yang diterima tidak akan 
mencukupi.

Sobat. Sesuai kodratNya manusia itu hakekatnya ingin berbuat baik, hanya 
pengalaman hidup yang mewarnai sikap (mind set). Mungkin selama ini tidak 
pernah ditegur... diperingati... dibiarkan... sehingga perbuatan itu diakui dan 
dianggap suatu hal yang wajar. Marilah kita reformasi... kembali ke kodrat. 
Katakan benar itu benar dan pertahankanlah, katakan salah itu salah dan cari 
solusinya. Mulailah dari diri pribadi terutama saya... saya... dan saya. 
Jayalah DJPB-ku..

Mohon maaf kalo ga tepat, semoga manfaat.


From: antfebria <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 6, 2009 1:51:09 PM
Subject: [Forum Prima] Re: Biaya Legislator mahal.. Biaya PEMILU lebih mahal 
lagi...


salam hormat,

dalam melihat situasi yang salah, seharusnya ada niatan dan tindakan 
untuk memperbaikinya. ..
dunia politik selalu dianggap kotor, merusak, dan sia-sia.
lalu bagaimana caranya memperbaiki dan membangun demokrasi yang baik 
itu?

ada yang hanya diam saja, menjadi penonton, takut ikut-ikutan kotor.
ada yang keras bersuara dari luar, berharap yang rusak dan kotor itu 
berubah dengan sendirinya.
ada yang ikut berpartisipasi, dan akhirnya menjadi rusak dan kotor.
ada yang ikut berpartisipasi, tidak (belum) juga berhasil memperbaiki 
keadaan.

kalu dikaitkan dengan agama, ini lebih rumit lagi...
apakah yang ikut berpartisipasi dianggap merusak agama?
apakah yang bersuara dari luar lebih terjaga dari kerusakan? 

saya juga tidak mengerti... :D

mohon maaf.
 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke