Seorang Profesor di sebuah universitas terkemuka menulis sebuah artikel untuk 
penerbitan intern. Kemudian ia meminta bantuan beberapa orang mahasiswanya 
untuk menuntaskan karyanya tersebut. Ia beralasan karena begitu banyak 
referensi dan sumber yang pernah dibaca ia kesulitan untuk menentukan 
lokasinya. Kadang karena sebuah pendapat atau beberapa tulisan sudah menjadi 
bagian dari dirinya dan atau tertanam dipikirannya sehingga ia merasa tak perlu 
lagi menuliskan sumbernya. Mungkin juga sang profesor sudah dipercaya sehingga 
tidak ada komplain. Sang Profesor hanya menunjuk sebuah ruangan dirumahnya agar 
mahasiswanya dengan mudah merujuk sebuah sumber dalam tulisnya, ternyata 
ruangan itu sebuah perpustakaan pribadi sang profesor dengan ribuan judul buku 
dari berbagai bahasa. Bukannya sibuk membantu sang Profesor mahasiswa-mahasiswa 
tadi malah jajan es dogger sambil menonton tarian barongsai. 

Ini cerita lain lagi, bagi yang pernah kuliah mungkin juga pernah menemukan 
seorang dosen/profesor bercerita tentang pohon sawo yang ditanam dipekarangan 
rumahnya kini mulai berbuah dan masak dipohon. Cerita sang dosen ini kadang 
lebih menarik daripada membahas mata kuliah bahkan ketika jam perkuliahan 
berlangsung. Namun diakhir pertemuan dosen seperti ini sering memberikan 
setumpuk tugas dan bahan-bahan bacaan yang harus diselesaikan oleh setiap 
mahasiswa. Ternyata ada jalan pintas untuk 'melahap' semua bahan-bahan itu 
yaitu menanyakan kepada sang profesor kapan bisa mencicipi sawo itu jika anda 
berhasil mencicipinya puji-pujilah mudah-mudahan berhasil. Saya tidak 
merekomendasikan jalan pintas ini karena kemungkinan tingkat keberhasilannya 
rendah disamping sudah sedikit sekali pekarangan yang dapat ditanami pohon sawo.

Buat Bung Sukarnon terus menulis bung! lain kali saja saya  ingin menanyakan 
sumbernya. meskipun saya kurang berkompeten mengkritisi substansi apa itu 
talent management adalah sebuah fakta dan saya tidak ingin menambah fakta baru 
yang lebih mencengangkan, bahwa hanya sebagian kecil saja untuk menjadi orang 
terpilih dibidang apapun. Tinggal bagaimana seseorang mampu menangkap peluang. 
Percaya diri membuat seseorang punya peluang yang sama. Betapa tidak adilnya 
Tuhan jika Ia berlaku diskriminatif bukankah semua sama dihadapNYA kecuali yang 
bertaqwa punish and reward untuk itu sudah disiapkan untuk  hamba-hambaNya yang 
ingkar maupun beriman

Mohon maaf atas segala kekurangan semoga bermanfaat.
Buat temen-temen selamat berkarya di bidang apapun.



--- In [email protected], "arahman231" <arahman...@...> wrote:
>
> Saat membaca tulisan Mas Sukarnon tentang Talent Management, 

Kirim email ke