kalau menurut saya problem utama bukan di pembiayaan, bukankah banyak dana-dana apbn yang kemarinan tidak terserap? Apalagi bagi pinjaman-pinjaman dari barat, proyeknya gak jadi jalan tapi 'comitment fee' nya itu lho... Mestinya yang agresif jangan hanya masalah bagaimana mencari pembiayaan, tapi mengefektifkan pengeluaran Spend less than you earn...kata orang sasak Pembiayaan, apapun bentuknya: pinjaman, 'bantuan lunak', ORI, SUN apapun judulnya tetap utang Mungkin ini jadi mendidik rakyat untuk gemar berhutang (seperti saya, debitur BRI sepanjang masa...he..he) Bank thithil ada dimana-mana, sampai ke pelosok kampung Jadi mental bangsa kita bangsa penghutang...(jangan marah ya, ini kenyataan) Mestinya utang, akan bermanfaat kalau---meminjam istilah mankeu--jadi leverage, Jadi sebelum berhutang, pertimbangkan dampak ekonomisnya.... Perjanjiannya harus jelas, Dulu pengajar bahasa inggris di Prodip (Pak Karim) pernah bilang, (intinya, mudah2an gak keliru) Kebanyakan Pinjaman Indonesia menjerat bangsa kita karena para negosiator tidak cermat memahami bahasa perjanjian yang 'in inglish itu' Wallahu a'lam
________________________________ From: Catur Ariyanto <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, April 23, 2009 7:45:04 AM Subject: Bls: Bls: [Forum Prima] bisakah SUN dan ORI menggantikan peran pajak dalam APBN? dear mas moudy, waduh, justru saya yang harusnya meminta pencerahan dari mas moudy. gaya berceritanya itu lho mirip-mirip steven landsburg di the armchair economists. memang sih membandingkan sun/ori dengan pajak kayaknya kok gak apel dengan apel. tapi mas, sebetulnya substansinya samabagaimana mendanai pengeluaran pemerintah. ini topik menarik sampai-sampai "orang-orang pinter" berdebat masalah ini, dikenal dengan ricardian e... (dipotong mod)

