Sepengethuan saya di negara manapun yang namanya Anggaran Negara  mesti 
dibiayai dari pajak warganegaranya. Masalahnya, penerimaan pajak dari suatu 
negara tidak selamanya mencukupi untuk membiayai seluruh kegiatan operasional 
maupun investasi sesuai dengan target2 yg telah di tetapkan. Apalagi kalau 
target ditetapkan dengan sangat ambisius, jauh dari kemampuan fiskalnya.

Untuk mencapai apa yg telah ditetapkan itu, maka kekurangannya perlu ditutup 
dari utang. Di Indonesia disebut pembiayaan yang bisa berasal dari pinjaman 
dalam negeri, pinjaman dari luar negeri, jual aset BUMN dsb. Tentu saja langkah 
apapun yang diambil untuk pembiayaan selalu ada risiko yg timbul, baik risiko 
saat itu maupun di kemudian hari.Pemerintah Indonesia  juga giat menutup 
kebutuhan APBN antara lain dg menjual SUN  dan ORI. Jadi benar kata teman 2 yg 
telah menanggapi bahwa SUN/ORI adalah utang yg harus dibayar. Ini di lakukan 
sbg konsekuensi dari target target yg harus dicapai antara lain  pertumbuhan 
ekonomi, penyediaan lapangan kerja , kewajiban2 yg  hrs di tunaikan spt bayrar 
utang yg sdh jatuh tempo dsb.

Utang pd hakekatnya sah-sah saja, sepanjang digunakan untuk investasi yg akan 
menghasilkan return dimasa depan dan memacu pertumbuhan,.Bukan asal asalan.
Jadi dengan kata lain banyak negara2 (negara belum maju termasuk Indonesia, 
bahkan Amerika Serikat) yang besar pasak dari pada tiang". Kalau SUN/ORI 
menawarkan yield yg terlalu tinggi, bisa saja suatu saat akan terjadi default. 
Tidak kuat bayar yield yg terlalu mahal. Kalau tidak ditawarkan dg yield yg 
tinggi mungkin tidak akan laku, mengingat inflasi di negeri ini masih tetap 
menjadi ancaman, dan tentu akan berpengaruh pula terhadap nilai tukar. Terlalu 
banyak SUN yg dipasarkan didalam negeri mungkin jg akan mengancam likuiditas 
banking system yg sama2 ingin mengumpulkan dana masyarakat. Pemerintah bersaing 
dg perbankan, bunga simpanan akan naik, sektor riil akan mandeg krn kredit 
menjadi mahal dst2 .Disimpulkan bila SUN/ORI lebih dominan, artinya Pasaknya 
semakin besar dari Tiangnya. Kalau terlalu besar pasaknya lama2 tiangnya 
ambruk. Oleh karena itu, selalu ada ukuran yg masih dipercaya harus diterapkan, 
bahwa negara masih bisa atau sanggup untuk
 memikul utangnya. Pakerti Hutomo..
--- Pada Sel, 21/4/09, sukarnon <[email protected]> menulis:

Dari: sukarnon <[email protected]>
Topik: [Forum Prima] bisakah SUN dan ORI menggantikan peran pajak dalam APBN?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 21 April, 2009, 2:36 AM


      Yth. para milist



melihat belakangan ini SUN dan ORI sangat diminati pasar dalam negeri 
mungkinkah peran SUN dan ORI kedepan akan lebih mendominasi APBN kita dan akan 
menggantikan peran pajak. karena dengan adanya SUN dan ORI negara/pemerintah 
dapat memperoleh dana dari masyarakat secara langsung dan memberikan keuntungan 
kepada masyarakat sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat.apakah mungkin 
dengan penerbitan SUN ... (dipotong mod)

Kirim email ke