Assalam'mualaikum Wr.Wb.
 
Yth. Kang Ikhyusan Hidayat dan Rekan Forum Prima,
 
Sekalipun gaung reformasi telah mendengung cukup lama diseantero Ditjen 
Perbendaharaan pada khususnya dan Depkeu pada umumnya, mungkinkah pola pikir 
masih seperti "robot" tatkala unit ini masih bernama DJA. Semua mesti diatur 
dengan detail oleh KP, termasuk masalah reward dan punishment.
 
Menurut saya, yang saat ini berada dibalik gunung dengan lautan yang buas, 
masalah honorarium penyelesaian kas posisi, rekon vera, dan lainnya, telah 
diuraikan dalam RKA-KL 2009 termasuk MAK 521219 Honor Yang Terkait Dengan 
Output Kegiatan. Setahu saya, RKA-KL 2009 ini tidak disusun oleh Satker 
(Kanwil/KPPN) tetapi ditetapkan Sekditjen Perbendaharaan atas nama Dirjen 
Perbendaharaan. Di tempat kami bertugas, DIPA dan RKA-KL dibagikan kepada 
masing-masing seksi, dan masing-masing kami ditantang untuk berkreasi 
melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggungjawab. Namun pada 
kenyataannya kami belum sanggup berbuat karena terbiasa dengan pola TBC 
"Terserah Bapak Caja".
 
Rasulallah Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan, kecuali untuk pembelaan, 
janganlah kekerasan dilawan dengan kekerasan, kemarahan dibalas dengan marah, 
tentu akan sakit jadinya, setidaknya gosong. Bersabar dan tawakal itu obat yang 
mujarab. Jangan sampai sudah bertugas di lingkup gunung, hati panas, bekerja 
jadi "kada nyaman", buat enjoy aja, okay.
 
Masalah KPA pembayaran uang bulanan kepada tenaga harian, memang tidak mutlak 
harus sama dengan RKA-KL, tentunya sesuai dengan SPK yang telah disepakati. 
Jumlah yang dapat dibayarkan setinggi-tingginya sama dengan yang ditentukan 
dalam RKA-KL. Kemudian membicarakan soal honorarium penyelesaian kas posisi 
dan rekon vera yang menjadi topik CURHAT, menurut saya perlu dikaji, apakah 
yang menjadi dasar pertimbangan KPA/Kakan. Mungkin saja, menurut penilaian 
KPA/Kakan honorarium pelaksanaan penyelesaian kas posisi dan rekon vera tidak 
layak untuk dibayarkan karena LKP dan LKPP "disclaemer" sehingga selaku 
KPA/Kakan tidak berani bertanggungjawab untuk itu. Tentunya Beliaulah yang 
lebih mengetahui.
 
Walau begitu, cobalah bicarakan sekali dan sekali lagi, mudah-mudahan ada 
"win-win solution". Tapi janganlah karena nila setitik jadi rusak susu 
sebelanga, jangan hanya karena besaran honor, menjadikan laporan kalah baik 
dengan rekan tetangga.
 
Ikan tongkol dapat dijala, jangan dongkol bila beda.
 
Mohon maaf bila salah, mudah-mudahan jadi obat resah.
 
Wassalam'mualaikum Wr.Wb.
 
 

--- On Sat, 7/11/09, ikyusan hidayat <[email protected]> wrote:


From: ikyusan hidayat <[email protected]>
Subject: [Forum Prima] CURHAT.... Soal Honor Tupoksi:-)
To: [email protected]
Date: Saturday, July 11, 2009, 12:23 PM








Sudah hampir 7 bulan sy berada di tempat tugas yg baru ini, sebuah kota 
kabupaten yg dikelilingi gunung dengan berhiaskan danau indah dan tenang. 
Alhamdulillah penempatan di kota ini tidak hanya sy sendiri, kebetulan kepala 
seksi Bendum termasuk pejabat baru yg menempati tempat tugas di sini. 
Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, insyaallah kami laksanakan dengan penuh 
tanggungjawab. 
Dan Alhamdulillah gaji dan TKPKN yg merupakan hak kami selalu kami terima 
setiap bulannya. 
Namun ada satu hal yg mengganjal kenyamanan kami dalam melaksanakan tugas, 
meskipun demikian insyaallah tidak mengganggu kinerja kami dalam melayani 
masyarakat dan berbakti pada negeri tercinta ini.
Ditempat tugas lama dan dibeberapa KPPN yg pernah sy kunjungi dalam rangka 
pembinaan maupun pemberian bantuan teknis, sy rasakan, sy dengar, dan sy lihat. 
Pelaksanaan Tupoksi seksi Verifikasi Akuntansi dan seksi Bendum, diberikan 
honor. Meskipun sy mengartikan honor tersebut sebagai insentif yg diberikan 
para pengambil kebijakan di KANPUS sana sebagai stimulus dalam peningkatan 
kinerja atau bahkan, walau jumlahnya tidak terlalu signifikan masih bisa kita 
mengartikan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan para pegawai (cq. Ditjen 
Perbendaharaan) .
Sangat disayangkan. ..upaya yg telah dilakukan para pengambil kebijakan di 
KANPUS sana tidak ejawantahkan di sini. 
Sementara sang Penguasa Pengguna Anggaran berhasil menggali "sumber" 
kesejahteraan untuk-nya dan teman2 lain dengan menerbitan SK kegiatan2 di luar 
Tupoksi, kami (seksi Bendum & Vera) yg nyata2 dalam RKA-KL maupun dalam KMK 171 
telah disebutkan secara eksplisit mendapatkan Honor atas kegiatan Tupoksi tidak 
diberikan hak kami.
Sudah beberapa kali sy mencoba untuk menjelaskan hal ini kepada yg bersangkutan 
dengan dilengkapi dasar hukum yg cukup jelas, namun respon yg diberikan 
tidaklah menggembirakan. 
Kamis 9 Juli 2009, sangat tidak sy duga terjadi perdebatan (bahkan cenderung 
dapat dikatakan pertengkaran) antara kepala seksi Bendum dengan sang Penguasa 
Pengguna Anggaran, yg ternyata berpangkal pada permasalahan "penyumbatan" atas 
hak seksi Bendum yg telah tertuang dalam RKA-KL dimaksud.
Yang ingin sy tanyakan pada Forum ini (bahkan para Pengambil Kebijakan di atas 
sana):
1. Apakan Honor Tupoksi yg telah tertuang dalam RKA-KL, bisa untuk "tidak" 
diberikan kepada mereka yg berhak (meskipun dananya tersedia), sebagaimana 
telah disebutkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171 tanggal 27 Desember 
2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, pasal 4 
ayat (1); pasal 5 ayat (1) dan pasal 74 ayat (2)...?
2. Apakah kebijakan-nya merupakan hak yg melekat pada jabatan-nya (KPA)...?, 
jika tidak, bagaimanakah caranya menyikapi kebijakan pimpinan seperti ini....? 
(sampai saat ini...kami hanya bersabar)
Sebagai informasi... ., terdapat 2 orang pegawai honor, diberikan honor 
(tertuang dalam SPK) hanya lebih separuh dari dana yg telah dialokasikan dalam 
RKA-KL, padahal yg bersangkutan telah sekian lama mengabdikan dirinya di kantor 
ini, bahkan disaat daerah ini merupakan daerah "konflik", merekalah yg menjadi 
ujung tombak dalam pelayanan terhadap masyarakat. (insyaallah keduanya pun 
hanya bisa bersabar)
Atas sumbang saran teman2 dan para pengambil kebijakan di atas sana, kami 
menghaturkan terimakasih.

















      

Kirim email ke