Para Milisers yang budiman,

Kalau kita adalah pegawai KPPN, maka pegawai di luar KPPN yang ditugaskan untuk 
memeriksa atau mengawasi akuntabilitas keuangan dan kinerja kita bisa kita 
posisikan sebagai Kita atau Mereka, tergantung pada pertimbangan apa yang akan 
kita peroleh (lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya) apabila kita 
memposisikannya sebagai Kita atau Mereka.  Oleh karena itu kata BPK dalam judul 
tulisan ini sebenarnya bisa diganti dengan BPKP, Itjen, pejabat pemeriksa 
tingkat eselon-1/2, atau bahkan Kepala KPPN atau pejabat atasan langsung kita. 
Pertanyaannya adalah pejabat-pejabat pemeriksa/ pengawas mana yang kita 
posisikan sebagai Kita, dan pejabat mana yang kita posisikan sebagai  Mereka?   

Kepada sesama di antara Kita biasanya kita akan bicara secara jujur dan 
terbuka. Tetapi kepada mereka yang sama sekali tidak kita kenal atau yang kita 
kenal sebagai “Problem Makers” biasanya kita akan batasi tingkat kejujuran 
kita, atau bila perlu kita akan bicara bohong agar supaya daftar masalah tidak 
bertambah.  Tetapi di sisi lain, pejabat atasan kita, pejabat 
pemeriksa/pengawas kita di tingkat eselon-2, eselon-1 dan seterusnya tentu 
menginginkan kita bicara jujur dan terbuka. Karena bagi mereka, kebohongan 
bukanlah solusi.  Kebohongan adalah part of the problem.  Sekali berbohong maka 
kita dituntut untuk tetap konsisten dengan kebohongan kita sebelumnya.

Dari uraian tersebut di atas, saya tertarik pada dua tantangan.  Tantangan 
pertama adalah bagaimana supaya secara bertahap saya bisa memposisikan semua 
pejabat pemeriksa/pengawas keuangan dan kinerja kita tersebut sebagai Kita.  
Tantangan kedua, bagaimana supaya saya mampu memelihara sikap konsisten saya 
ketika saya dipindahkan dari KPPN ke unit-unit pemeriksa/pengawas di tingkat 
eselon-2, eselon-1, Itjen dan juga BPK.

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi kepada kita untuk berkaca, siapa 
sebenarnya kita.


Salam,
budisan              




      

Kirim email ke