Setahu saya jujur itu tidak perlu dibatasi. Ajaran agama menyuruh berkata yang 
benar, meskipun pahit risikonya, bahkan kepada penguasa, bukan hanya sekedar 
pemeriksa. Pemeriksa membandingkan antara kriteria dengan kondisi yang ada. 
Kalau kita bekerja sesuai dengan kriteria (peraturan yang berlaku), tentu tidak 
ada alasan untuk tidak jujur. Kalau ternyata kita belum bisa bekerja sesuai 
kriteria, maka justru diperlukan keterbukaan untuk bisa bekerja sesuai dengan 
ketentuan yang ada. Di Indonesia banyak peraturan yang baik-baik, tapi 
kelemahannya di tingkat aplikasi. Dan repotnya lagi, pengendalian dan 
pengawasannya juga lemah. Sehingga meskipun banyak program pemerintahan yang 
baik-baik tapi lemah di pelaksanaan, sehingga tujuan pemerintahan banyak yang 
tidak tercapai. Atau dilaksanakan tapi asal-asalan dan sekedarnya. Kita banyak 
rencana tapi sulit merealisasikan, karena lemah komitmen, dan tanpa pengawasan 
yang memadai. Justru disitulah peran pemeriksa
 intern (bpkp, itjen) maupun ekstern (bpk). Kalau kita memahami, semua akan 
berjalan dengan baik. Rakyat juga akan senang karena pemerintahan dijalankan 
dengan baik.....






--- On Sun, 11/22/09, budisan <[email protected]> wrote:

From: budisan <[email protected]>
Subject: [Forum Prima] BPK adalah Mereka, bukan Kita
To: [email protected]
Date: Sunday, November 22, 2009, 8:44 PM







 











Para Milisers yang budiman,



Kalau kita adalah pegawai KPPN, maka pegawai di luar KPPN yang ditugaskan untuk 
memeriksa atau mengawasi akuntabilitas keuangan dan kinerja kita bisa kita 
posisikan sebagai Kita atau Mereka, tergantung pada pertimbangan apa yang akan 
kita peroleh (lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya) apabila kita 
memposisikannya sebagai Kita atau Mereka.  Oleh karena itu kata BPK dalam judul 
tulisa

Kirim email ke