Assalamu'alaykum,.Wr,.Wb,... Menarik, cukup menarik. Karena saya perhatikan dari milis ke milis, bapak sadeli zaekhan selalu menginfokan berita yang ada di republika tentang perkembangan ekonomi syariah terkini. Hal ini sangat membantu dalam menambah tsaqofah, terutama bagi orang seperti saya yang lebih tertarik baca lewat milis dibandingkan melalui koran.
Berbicara SDM bank syari'ah, terkadang memunculkan ironi tersendiri. Karena sebagian besar SDM yang ada, justru dari perguruan tinggi yang tidak ada kaitannya dengan perbankan, tambah2 perbankan syariah. Bisa dikatakan sangat minim. Coba aja survey!!! (kebetulan saya sudah melakukan survey, dengan mengamati langsung melalui magang di 3 bank syariah yang berbeda). Hasil pengamatan menunjukkan, hanya sebagian kecil saja dari SDM Bank Syari'ah tersebut yang direkrut sesuai dengan bidang yang digelutinya ketika di banku kuliah) Bukannya kekurangan SDM (toh perguruan tinggi dengan jurusan ekonomi islam saat ini sudah menggelabrah dimana2), hanya sepertinya mereka lebih percaya pada yang bukan bidangnya. Atau, justru yang bukan bidangnya itu justru yang lebih kompeten???? Sebagian Bank Syariah saat ini lebih mempercayakan SDM-nya pada lembaga outsourcing. Mereka berasumsi, bahwa dengan memberikan sedikit training saja, maka yang tadinya tidak paham akan konsep perbankan Syariah, akan menjadi paham dengan cepat. Namun apa yang terjadi, di salah satu bank yang pernah saya melakukan magang, salah seorang CS terjebak dengan pertanyaan nasabah yang menanyakan: "berapa jumlah bunga yang akan saya dapatkan pak?" "Bunga yang akan didapatkan bapak adalah............" Yups, sekali lagi ada yang perlu diperbaiki nich., Harusnya CS bisa mengklarifikasi apa yang ditanyakan nasabah dan langsung dengan tanggap menjelaskan tentang konsep bagi hasil, bukan bunga. Berdasarkan hal tersebut maka untuk saat ini saya masih berasumsi, bahwasanya sebagian bank syariah saat ini belum begitu percaya dengan perguruan tinggi ekonomi Islam, meskipun perguruan tinggi tersebut telah mencoba mensinergikan antara praktik dan teori ekonomi islam di perguruan tersebut dengan berbagai temu ilmiah, lokakarya, seminar, riset dan studi banding juga diperlukan, termasuk melengkapi perguruan tinggi dengan laboratorium, pusat kajian, jasa konsultasi gratis, menerbitkan jurnal ataupun media komunikasi. Saat ini, banyak dari bank syariah yang lebih mempercayakan SDM-nya melalui lembaga outsoucing. Dengan begitu, bank akan dengan mudah melakukan pemberhentian karyawan yang dianggap sudah tidak layak lagi, dan minta ganti kepada lembaga outsourcing tersebu dengn cepat. bank juga akan mendapatkan SDM yang masih muda2, cantik2, tampan2 untuk ditempatkan di front liner tapa melihat background dari SDM tersebut. Itulah yang saat ini saya amati,... Teman2 bisa membuktikan langsung dengan mewawncarai background jurusan perguruan tinggi beberapa SDM di beberapa bank Syariah saat ini. BUKTIKAN!!!! Muflikha “ZAHRA” Dwi Hartanti ForSEI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Mobile : 085292747168 Email : [email protected] SEMANGAT!!! PRIBADI TANGGUH,.PANTANG MENGELUH!!! ALLAHU AKBAR!!! --- Pada Rab, 26/8/09, SADELI ZANIKHAN <[email protected]> menulis: Dari: SADELI ZANIKHAN <[email protected]> Judul: {FoSSEI} Regenerasi SDM Bank Syariah Lemah Kepada: "zanikhan admin" <[email protected]>, "fossei group" <[email protected]> Tanggal: Rabu, 26 Agustus, 2009, 1:58 PM By Republika Newsroom Senin, 24 Agustus 2009 JAKARTA--Perpindaha n sumber daya manusia (SDM) antarbank syariah saat ini dirasakan cukup tinggi. Hal tersebut diakibatkan lemahnya pengkaderan untuk mengimbangi percepatan pertumbuhan perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. Hal tersebut diungkapkan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Veithzal Rivai. Ia mengutarakan seharusnya pembajakan tidak akan terjadi bila kaderisasi dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga mampu memenuhi percepatan pertumbuhan berbagai bidang usaha. ”Untuk pengkaderan ini lembaga-lembaga tersebut menghadapi kendala karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan,” kata Veithzal, Senin (24/8). Bila pengkaderan tersebut dipercayakan kepada lembaga training profesional yang khusus untuk materi bisnis Islam, tuturnya, jumlah lembaga penyelenggaranya pun sangat terbatas. Demikian pula halnya dengan lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan program bisnis atau ekonomi Islam, jumlahnya relatif sedikit serta kurikulum yang digunakan pun tertinggal jauh dibandingkan kepesatan pertumbuhan bisnisnya. Veithzal menjelaskan pembentukan manusia sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan untuk bisnis ekonomi Islam memerlukan waktu relatif lama. Selain itu perlu perencanaan yang baik sehingga pada waktunya dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk lembaga tersebut. Karenanya, lanjut dia, diperlukan penyiapan SDM ekonomi Islam sejak dini melalui pembukaan program atau bahkan perguruan tinggi ekonomi Islam. Selain itu, lanjutnya, perguruan tinggi ekonomi Islam juga hendaknya menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi lainnya atau lembaga bisnis, sehingga dapat mensinergikan antara praktik dan teori ekonomi Islam. Berbagai temu ilmiah, lokakarya, seminar, riset dan studi banding juga diperlukan, termasuk melengkapi perguruan tinggi dengan laboratorium, pusat kajian, jasa konsultasi gratis, menerbitkan jurnal ataupun media komunikasi. gie/rif http://zanikhan. multiply. com/profile ___________________________________________________________________________ Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru. Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

