ass. wr. wb.
Artikel tersebut benar sekali,
Yg perlu digaris bawahi
adalah, Pemimpin yang zhalim tersebut adalah pemimpin yang negaranya
masih menerapkan syariah islam secara kaffah, yaitu terjadinya
penyelewengan atas hukum yang diterapkan yaitu syari'ah Islam, seperti
terjadinya penyelewengan (berbuat maksiat kepada Allah) pada masa Kekhilafahan
terdahulu.
jadi bukannya amir yang memimpin dengan sistem hukum kufur yang
diterapkannya.
wallahu alam
wass
Regards
Daryono
Process Engineer
Process Engineering B
(Machining)
PT. Astra Honda Motor
phone : 021-89981818
ext : 8572 / 8574
From: [EMAIL PROTECTED] on behalf
of Deni Murdany Sent: Fri 11/10/2006 2:01 PM To: 'gunawan';
'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' Subject: Re: [
FUPM-EJIP ] Demonstrasi
Telah dijawab didalam
artikel:
2.
Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda : Akan ada
sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil
petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan
sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang
(dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan
dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya
perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar
dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.
(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847
(52))
mohon di baca
sekali lagi..
Bagaimana dengan penguasa yang tidak menerapkan
aturan & sistem Islam ???????
----- Original Message -----
Sent: Friday, November 10, 2006 11:31
AM
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]
Demonstrasi
| Sikap
Kepada Penguasa Yang Dhalim
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
Alhamdulillah, Rasulullah SAW telah meninggalkan kepada kita
Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun
yang terlewati dari agama ini. Barangsiapa tetap berpegang teguh
kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah
termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang
berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia
akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang
tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah
disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya SAW. Aamiin.
A.
Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan
Taat.
1. Dari Wail bin Hujr, berkata : Kami bertanya
: Wahai Rasulullah ! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir
(dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami ?
Maka beliau menjawab : (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka,
karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian
yang kalian perbuat. (HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin
Qais)
2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW
bersabda : Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak
mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan
muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa)
yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah)
bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau
bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun
dia memukul punggungmu dan merampas hartamu. (Hadits shahih riwayat
Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))
3. Dari Adi bin Hathim
ra. berkata : Kami bertanya :Ya Rasulullah, kami tidak bertanya
kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi
bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin
Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek) ? Maka Rasulullah SAW
bersabda : Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat
(kepada mereka). (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani
dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)
4. Dari Abu Hurairah ra. dia
berkata, Rasulullah SAW bersabda : Wajib bagi kamu mendengar dan taat
baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka,
walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu. (HR. Muslim)
B.
Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara
maksiat.
5. Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW
bersabda : Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat
(kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci,
kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada
mendengar dan taat. (HR. Bukhari dan Muslim)
C. Larangan
Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya
Walau Zhalim Sekalipun
6. Dari Muawiyah berkata : Tatkala
Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak,
kemudian mereka berkata : Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera
(perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu.
(Maka) Abu Dzar berkata : Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam,
sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Akan ada
sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka
barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi
Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia
mampu mengembalikannya seperti semula. (Hadits Shahih riwayat Ahmad,
Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam
Ad-Dhilal)
7. Dari Abi Bakrah ra. berkata : Rasulullah SAW
bersabda : Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa
menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina
sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan
dia. (Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi,
Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal
no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)
8. Dari Ziyad
bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata : Dulu aku pernah bersama Abi
Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah
sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata : Lihatlah
oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq.
Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara : Diam kamu! Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang menghinakan
penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya. (Tirmidzi
dalam sunannya (2225))
9. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18)
oleh AL-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata : Janganlah kalian
mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah
pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau :dia
bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan
Al-Hajjaj pemimpin Iraq.
10. Dikitab yang sama (8/104) Imam
Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata :
Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar
menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau
mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan
Ibnu Abbas sampai beliau berkata : Janganlah kamu menjadi penolong
bagi syaithan.
11. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd
(II/464) :Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata,Aku
pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela
Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau
berkata,Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia
berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Alla
mengampuninya.
12. Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab
Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah
(5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata : Saya berkata kepada
Manshur bin Al-Mutamar: Jika aku puasa apakah aku boleh mencela
sulthan (penguasa/pemimpin)? Beliau berkata : Tidak boleh. Lalu aku
terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa
nafsu/Ahlul Bidah) ? Beliau menjawab : YA! (boleh). 13. Ibnu Abdil
Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya
dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata, Sesungguhnya awal terjadinya
kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap
pimpinan/pemerintahnya.
14. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala
berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138 : Ibnu Uyainah
menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus,
berkata, Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan
Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan
mereka. Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan
(badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang
lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra.
berkata,Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu
kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim. Maka serta merta orang
tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tida
melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya
daripadanya.
D. Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya
Tidak Kafir atau Masih Menegakkan Shalat
15. Dari Ummu
Salamah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda : Akan ada
sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari
(kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah
berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah
selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya.
Mereka para sahabat bertanya : Apakah tidak kita perangi (saja) dengan
pedang ? Beliau menjawab : Jangan, selama mereka masih menegakkan
shalat ditengah-tengah kalian. (HR. Muslim 6/23)
16. Dari Said
Al-Khudri beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW : Akan ada nanti
para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka
dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para
penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan
kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka. Kemudian ada
seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja
mereka ? Beliau bersabda : Jangan, selama mereka masih menegakkan
shalat ditengah-tengah kalian. (As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal.
498)
17. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan :
Kami membaiat Rasulullah SAW untuk mendengar dan taat (kepada
pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya,
dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami
dirugikan olehnya, dan tida boleh kita memberontak kepada pemerintah.
Kemudian beliau SAW bersabda : Kecuali kalau kalian melihat kekafiran
yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan
pemerintah tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)
E. Tercelanya
melakukan tanzhim rahasia (Gerakan bawah tanah)
18. Dari
Ibnu Umar ra. berkata : Seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu
bertanya : Wahai Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah
SAW bersabda : Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap)
terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana)
rahasia. (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh
Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)
F. Perintah untuk bersabar
menghadapi pemimpin yang zhalim
19. Dari Anas berkata :
Rasulullah SAW bersabda : Sepeninggalku nanti kalian akan menemui
atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka
bersabarlah sampai kalian menemuiku. (HR. Bukhari dan
Muslim)
20. Dari Anas bin Malik berkata : Para pembesar kami
dari kalangan sahabat Muhammad SAW melarang kami. Mereka berkata :
Rasulullah SAW bersabda : Janganlah kalian mencela
pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan
janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada
Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat. (Hadits
shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)
21. Dari Abdullah bin Abbas
ra. bahwa Nabi SAW bersabda : Barangsiapa melihat sesuatu yang ia
benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena
barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia
mati dalam keadaan jahiliyyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
22.
Dalam riwayat Muslim : Barangsiapa membenci sesuatu dari
pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida ada
seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun
sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak
lain dalam keadaan mati jahiliyyah.
G. Buah Dari Mengikuti
Sunnah
23. Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra.
beliau berkata : Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para
penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan
kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan
buah apa-apa. Ada yang menyatakan,Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami
berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka ?
Beliau menjawab,Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara
itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan
kematiannya. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)
H.
Cara Menasehati Penguasa
1. Dari Iyadh bin Ghanim berkata :
Bersabda Rasulullah SAW : Barangsiapa berkeinginan menasehati
sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan
(di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat
mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah
yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah
menunaikan kewajiban atasnya. (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi
Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)
2. Dari Ubaidillah bin
Al-Khiyar berkata : Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian
saya katakan kepadanya : Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar
menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid ? Usamah berkata : Apakah kau
kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu ?! Demi Allah,
aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka
pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya.
(Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)
Wallahu A’lam
Bish-Shawab. |
|
| |
Kontributor |
: Abu Abdirrahman Uli |
Demonstrasi
Oleh Syaikh Abul Hasan
Musthafa bin Ismail As Sulaimani Al Mishri
Sabtu, 20 Desember 2003,
Soal:
Kami telah mendengar sebagian
orang telah membolehkan demonstrasi dan keluar berbondong-bondong ke
jalan-jalan sambil berteriak-teriak. Mereka berdalil dengan kisah Umar
Radhiyallahu 'anhu ketika masuk Islam, beliau keluar dalam satu barisan
dan Hamzah Radhiyallahu 'anhu pada barisan yang lain, dan kaum muslimin
pun turut keluar ke jalan-jalan di Kota Mekkah mengikuti mereka berdua.
Apakah kisah ini shahih?
Jawab:
Kisah tersebut tidak
shahih. Abu Nu'aim telah meriwayatkan kisah itu dalam kitabnya
Dalail dan Al-Hilyah. Di dalam sanadnya ada
Ishaq bin Abdillah
bin Abi Farwah. Menurut ulama hadits ia adalah seorang
perawi yang matruk.
Kami telah memeriksa sanad-sanad kisah Umar masuk Islam tersebut di buku
lain, karena tidak mungkin untuk dicantumkan secara lengkap.
Menurut hemat kami, perlu
ditinjau kembali keabsahan sanad kisah Umar masuk Islam tersebut, dan
kisah pemukulan terhadap saudara wanitanya hingga berdarah, lalu kisah
beliau mendatangi rumah Arqam dan seterusnya, sebagaimana disebutkan dalam
sejarah. Al-Hafizh Ibnul Abdil Barr dalam kitabnya
Al-Isti'ab menganggap kisah tersebut adalah kisah yang aneh. (Lihat
dalam kitab beliau pada bagian biografi Fathimah binti Khaththab).
Adapun tambahan dalam kisah tersebut, yaitu tentang keluarnya Umar,
Hamzah, dan kaum muslimin ke jalan-jalan, yang dijadikan dalil
berdemonstrasi ala Barat yang sama sekali bukan merupakan ajaran Islam,
telah diriwayatkan dalam hadits Ibnu Abbas dengan sanad yang talif
(rusak). Seharusnya kita tidak seperti kata pepatah: dirikanlah
bangunan kemudian runtuhkan. Hendaknya mengetahui dahulu shahih
tidaknya suatu dalil sebelum mempergunakannya. Jangan sebaliknya,
berpendapat dahulu, baru kemudian berdalil.
Tidak diragukan lagi bahwa
demonstrasi merupakan bentuk penentangan terhadap pemerintah. Dalam
timbangan syariat Islam, demonstrasi dianggap sebagai pembelotan yang
dapat menimbulkan kerusakan. Demikian pula provokasi serta pengerahan masa
yang dapat menyeret kaum muslimin ke dalam fitnah (malapetaka) yang
berakibat buruk. Allah telah menuntunkan kepada kita suatu metoda yang
lebih baik, yaitu nasehat, sebagaimana dalam hadits Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari:
Agama itu adalah
nasehat. Kami bertanya, Untuk siapa, ya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam ? Beliau bersabda, Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam
kaum muslimin dan bagi kaum muslimin seluruhnya.
Bagi yang mampu menemui
penguasa secara langsung atau melalui surat, hendaklah dia melakukannya.
Dan hendaklah dia bersungguh-sungguh menasehati mereka karena demikianlah
metoda yang Allah wajibkan kepada alim ulama, yaitu memberikan nasehat
yang bisa mengantarkan kepada kebenaran, kebajikan, dan kebijaksanaan yang
penuh hikmah serta pemberantasan bentuk-bentuk kemungkaran atau menekannya
sekecil mungkin. namun apabila mendatangkan kemungkaran yang lebih besar,
hendaklah metoda ini ditinggalkan. Hendaklah kita bersabar dan berdoa
kepada Allah agar senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Inilah
manhaj (metoda) Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kitab-kitab sirah dan aqidah
para salaf banyak memuat penjelasan gamblang tentang manhaj Ahlus Sunnah
wal Jama'ah ini, juga penjelasan tentang bantahan kaum salaf terhadap
orang-orang yang melanggar pedoman manhaj ini. Wajib bagi kaum muslimin
untuk berpegang teguh dengan agama mereka. Hendaknya mereka menjauhi
cara-cara Yahudi dan Nasrani karena tidak ada kebaikan sedikitpun pada
mereka. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar meluruskan para
pemimpin kaum muslimin dan menganugerahkan hati yang bersih kepada mereka
dan memberikan kemampuan kepada kita untuk menasehati mereka dan bersabar
atas kejelekan mereka, serta memberikan petunjuk yang lurus bagi segala
urusan kita dan menganugerahkan kepada kita kunci-kunci pembuka pintu
kebaikan dan penutup segala kejelekan. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga tercurah bagi
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluarganya serta
sahabat-sahabatnya.
Diketik ulang dari Bunga Rampai
Fatwa-Fatwa Syar'iyah Jilid I, Abul Hasan Musthafa bin Ismail As Sulaimani
Al Mishri. Penerjemah:Abu Ihsan. Penerbit: Pustaka At-Tibyan, cet. I,
Agustus 2000. Hal.33-35
Matruk adalah deretan kelima dalam tingkatan
jarh (hal cacat pada perawi). Seorang perawi dikataka matruk apabila: 1)
kedapatan berbohong dalam pembicaraannya sehari-hari, 2) kedapatan
meriwayatkan hadits yang menyelisihi kaidah-kaidah umum agama Islam. Tidak
ada yang meriwayatkan hadits itu melainkan dari jalurnya. (Lihat
At-Taqrirat As Saniyah Syarh Al Baiquniyah, karangan Hasan Muhammad
Al-Masyath, hal.115)
******************************************************** Mailing
List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan
EJIP ******************************************************** Ingin
berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA
: http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim
e-mail ke
: [EMAIL PROTECTED]
********************************************************
|