Beginilah karakter kita ( termasuk penulis ) , meributkan hal -hal yang seakan 
tanpa ujung .
menguras energi dan memicu perpecahan ,sehingga tak sadar  tetangga sebelah 
rumah atau lain kampung  sudah pindah agama karena kemiskinan dan kena bujuk.
atau batas negara yang dicaplok bangsa lain,kebodohan yang hampir merata 
sehingga kita mudah diperdaya dan segala macam fakta kalau kita kurang dihargai 
bangsa lain .  
memang ironis seakan meributkan " TELUR ATAU AYAM " yang lebih dulu ada 

  ----- Original Message ----- 
  From: ADE FIRMANSYAH 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
  Sent: Saturday, March 03, 2007 8:49 AM
  Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???


  Anda sendiri gimana... Kok malah memprovokasi...

  Mau ditanggapi positif silahkan... negatif ya silahkan... Kalo ada hikmahnya 
ya diambil... n kalo gak ada hikmahnya ya di buang... Gitu aja kok repot... 
Pake acara blok segala... Kasus tuh...

  -------------------------- Original Message ----------------------------

  >From : [EMAIL PROTECTED]
  >Sent : 2007-03-03 8:10:25 AM
  >To : 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'


  >Subject : Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
   

  Barusebulannggakketemu,lagi2 kangen2nya udahadae-mail yang mengundangpolemic 
, mbokyae-mail kayak giniinidistopaja.

  Apanggakadae-mail lain yang nggakperlungundangpolemic. Apalagiyang 
dikirimkanbukanhasilpemikiranatautulisannyasendiri( forwarddoang). 
Mbokmoderator bertindaksigapdalamhalinijangandibiarkanberulang-ulang¡¦.!!!  



  -----Original Message-----
  From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Fdb2_Facility
  Sent:Friday, March 02, 2007 9:53 PM
  To:Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
  Subject:Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???







  Sunnatullah Perbedaan adalah Ujian

        sumber 
       :
       www.hidayatullah.com
       




        Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummat adalah rahmat. 
Tapi Fanatisme kesetiaan (loyalitas) yang berlebihan sering menjadi pelopor 
perselisihan.


        Bukan kebetulan jika Allah Subhaanahu wa ta'ala menciptakan milyaran 
manusia. Dari Nabi Adam hingga sekarang, tak satupun di antara mereka yang 
menyerupai, apalagi sama. Dua saudara kembar, sekalipun tetap berbeda. Secara 
fisik mungkin tampak mirip, tapi keduanya memiliki ciri-ciri yang berbeda. 
Keduanya memiliki kecendrungan yang tidak sama. Keduanya tak ingin menjadi 
pribadi sendiri-sendiri, yang satu di antara yang lain tidak ingin disamakan. 

        Dalam ajaran Islam tidak dikenal istilah titisan, apalagi reinkarnasi. 
Orang yang sudah meninggal dunia tak akan pernah digantikan oleh siapapun juga, 
termasuk anak keturunannya. Oleh karenanya, tidak satupun orang terdahulu yang 
mirip dengan kita. Allah Maha Kreatif dalam penciptaan manusia.

        Di balik semua perbedaan manusia sesungguhnya terletak taqdir Allah. Di 
balik taqdir tersebut tersimpan rahasia dan hikmah yang apabila direnungkan 
dengan sungguh-sungguh akan tampak kebesaran Allah, Besar dalam Sifat-Nya, 
Besar dalam Dzat-Nya, dan Besar dalam Penciptaaan-Nya. Warna-warni kehidupan 
adalah sunnatullah. 

        Dianjurkan bagi seorang yang lagi stres untuk melihat berlama-lama ikan 
hias yang bergerak lincah dalam aquarium. Lebih afdhal jika ikan hias itu 
berwarna warni. Kombinasi warna yang seringkali kontras dalam tubuh ikan itu 
justru dapat menyejukkan pandangan, menenangkan persaan, dan seterusnya 
mengurangi stres dan tekanan jiwa. Itulah sunnatullah yang terhampar luas di 
jagad raya itu. 

        Melalui gambaran di atas, masih adakah keinginan kita untuk 
menyeragamkan manusia, atau malah meleburnya menjadi satu ujud tanpa senyawa? 
Merupakan kebodohan jika masih ada di antara kita yang mimpi seperti itu. Ilusi 
seperti itu sangat bertentangan dengan sunnatullah yang terhampar luas di 
pemukaan bumi. Meniadakan perbedaan sama halnya dengan menentang sunnatullah, 
menentang fitrah kemanusaian, sekaligus menentang diri kita sendiri. 

        Bagi Allah tidaklah sulit untuk menyatukan manusia, tapi Allah secara 
sengaja membiarkan mereka berbeda. Sikap ini ditegaskan oleh-Nya dalam 
al-Qur'an: 

        "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang 
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang 
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." (Huud: 
118 - 119) 

        Dalam tafsirnya ar-Razi mengartikan "berselisih pendapat" dalam ayat di 
atas adalah perselisihan pendapat manusia tentang agama, akhlaq dan 
perbuatan-perbuatan yang lain. Lebih jauh perbedaan itu bisa jadi dalam masalah 
aqidah, syari'ah (fiqih), dan akhlaq, juga siyasah. Perbedaan dalam keempat hal 
tersebut di kalangan ummat Islam sudah ada sejak Rasulullah masih hidup. Beliau 
menyaksikan di antara sahabat-sahabatnya berselisih pendapat tentang banyak 
hal. Di antaranya ada yang diluruskan, ada yang dibenarkan salah satunya, ada 
yang dibenarkan dua-duanya, dan ada pula yang dibiarkan. 

        Sebagai pemimpin ummat, Rasulullah menyadari bahwa perbedaan dan silang 
pendapat adalah suatu yang niscaya. Justru dalam perbedaan itu terletak potensi 
yang sangat besar, yang jika dapat dikelola dengan baik dan tepat sasaran, 
justru akan membuahkan kekuatan yang luar biasa. Sebaliknya, jika perbedaan itu 
disikapi secara salah dan dikelola semaunya, maka perbedaan itu akan berubah 
menjadi konflik yang pada ujungnya bakal mendatangkan bencana. 

        Di masa Rasulullah, betapapun besarnya perbedaan dan dalamnya 
perselisihan di antara para sahabat, semuanya dapat diselesaikan, bahkan 
perbedaan itu telah membawa rahmat dan berbagai kemajuan Islam. Dalam perbedaan 
itulah para sahabat bersaing dan berlomba untuk memperbaiki diri, meningkatkan 
kualitas, dan mengembangkan segenap potensi. Perbedaan seperti itulah yang 
disebut-sebut dalam Islam sebagai rahmat. 

        Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat. 
Ada dua persyaratan minimal yang harus dimiliki untuk mengubah ikhtilaf menjadi 
rahmat. Pertama, adanya kepemimpinan ummat. Kedua, terciptanya tradisi ilmiah 
di kalangan ummat. Jika kedua syarat ini ada, insya-Allah sebesar apapun 
perbedaan yang ada pasti dapat diselesaikan, bahkan akhirnya justru 
mendatangkan rahmat. 

        Kepemimpinan ummat harus ada dan mewujud dalam kehidupan nyata. 
Al-Qur'an maupun hadits tidak menentukan bentuknya kepemimpinan tersebut, tapi 
esensinya bahwa kepemimpinan itu haruslah efektif menyatukan ummat dalam satu 
shaf yang rapi untuk menegakkan kalimatullah hiyal 'ulya. Perbedaan yang ada 
justru ditata dan dikelola dalam konfigurasi warna yang mewah dan mempesona. 

        Ummat islam telah lama kehilangan kepemimpinan seperti itu. Mereka 
mencukupkan diri dalam kepemimpinan kelompok, golongan, atau organisasi. Di 
luar itu mereka tidak peduli. Akibatnya, masing-masing kelompok mengkalim 
kebenaran atas nama Allah. masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Maka 
lahirlah dari sini sikap fanatisme buta. 

        Fanatisme buta dapat lahir dari tidak adanya kepemimpinan ummat, bisa 
juga karena tradisi ilmiah yang belum begitu melembaga. Pemimpin kelompok, baik 
yang disebut guru spritual maupun imam yang sifatnya lokal, seringkali 
menanamkan kesetiaan (loyalitas) berlebihan, yang menyebabkan pengikutnya 
taqlid secara buta kepada apa saja yang menjadi pendapat sang pemimpin. Bahkan 
tanpa dasar-dasar dalil aqli dan naqli, sekalipun. Lebih parah lagi, pengikut 
merekacenderung menyalahkan pendapatnya semua orang yang berada di luar 
kelompoknya. 

        Pola kepemimpinan seperti ini cenderung mematikan tradisi ilmiah. 
Perbedaan pendapat di antara kelompok mereka cenderung diharamkan, tapi justru 
yang terjadi perbedaan dengan kelompok muslim yang lain menjadi hal yang 
lumrah. Dalam bentuk yang lebih ekstrim, ada kepuasan dari kelompok ini jika 
bisa "membantai" kelompok lain dengan argumentasi-argumentasi baru yang 
mematikan "pihak lawan", yang tidak lain adalah saudara seimannya sendiri. 

        Fenomena seperti itu merebak di mana-mana, tidak hanya terjadi pada 
saat ini, tapi jauh sebelumnya, ketika terbentuk kelompok-kelompok Islam, baik 
yang didasarkan pada aspirasi politik, mazhab fiqih, aliran teologi, maupun 
kelompok-kelompok sufi (thariqat). Inilah realitas, bahkan untuk mengurainya 
saja sudah banyak mengalami kesulitan. Misalnya, mana terlebih dahulu 
terbentuknya kelompok berdasarkan asiprasi politik dengan mazhab fiqih atau 
teologi? Kaum Khawarij lahir mula-mula atas dasar aspirasi politik, tapi 
akhirnya berkembang menjadi aliran teologi dan mazhab fiqih tersendiri. 

        Khusus tentang kaum Khawarij ini menarik untuk dikemukakan sehubungan 
dengan doktrinnya yang sangat kuat, bahwa orang yang di luar kelompoknya 
dianggap telah halal darahnya. Terhadap kelompok ini , Ibnu Abbas Radhiallaahu 
'anhu berkomentar: "Ijtihad mereka itu tidak lebih hebat daripada orang Yahudi 
dan orang-orang Nasrani. Mereka berada dalam kesesatan." 

        Dalam sebuah masyarakat yang tradisi ilmiahnya berkembang, perbedaan 
pendapat merupakan suatu hal yang biasa. Mereka mengembangkan sikap menghormati 
terhadap orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Persaudaraan tidak 
terganggu hanya karena perbedaan pendapat, apalagi perbedaan itu hanya mengenai 
furuiyah, yang menjadi lahan ijtihad bagi siapapun yang mempunyai kapasitas di 
dalamnya. 

        Ali Radhiallaahu 'anhu adalah rival politiknya Mu'awiyah. Di antara 
keduanya bahkan terjadi bentrok fisik hingga jatuhnya banyak korban di antara 
kedua pasukannya. Akan tetapi karena tradisi ilmiahnya yang telah terbangun 
sebelumnya, Mu'awiyah dalam banyak kasus masih harus meminta pendapat Ali 
ketika hendak memutuskan suatu perkara. 

        Dalam sebuah riwayat Imam Malik dan Al-Baihaqi dari Yahya bin Sa'id 
dari Al-Musayyab, diceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki penduduk Syam 
(Syiria) bernama Ibnu Khaibari mendapati istrinya sedang bersama laki-laki 
lain. Karena emosi, Ibnu Khaibari lalu membunuh istrinya sekaligus lelaki 
tersebut. Terhadap kasus ini Mu'awiyah merasa kesulitan untuk menghukuminya. 
Untuk itu, ia berkirim surat kepada Ali Ra untuk menanyakan hal tersebut. 

        Melalui kurirnya, Ali memberikan jawaban: "menurutku, apabila orang 
yang bernama Khaibari tersebut tidak sanggup mendatangkan empat orang saksi, 
maka dia harus memberikan nyawanya. Sesungguhnya Allah secara pasti telah 
mengharamkan darah kaum Muslimin. Barangsiapa yang terbukti membunuh seorang 
Muslim dan dia mengaku bahwa dirinya terpaksa harus membunuhnya, maka hal itu 
tidak bisa diterima begitu saja sebelum dia bisa membuktikan pengakuannya 
tersebut. Soalnya sangat boleh jadi pengakuannya adalah dimaksudkan agar 
terbebas dari hukuman." 

        Tradisi ilmiah seperti itu tampaknya telah hilang di antara kita. 
Dialog antar kelompok seringkali dilakukan secara formal dengan jargon-jargon 
ukhuwwah Islamiyah, sementara di luar forum itu, mereka tetap mengembangkan 
sikap-sikap perbedaannya. Padahal masing-masing kelompok biasanya menerbitkan 
majalah, buku, maupun jurnal ilmiah. Mestinya melalui bacaan itu kita 
berdioalog dan berkomunikasi secara intensif dengan kelompok-kelompok lainnya. 
Melalui membaca jurnal atau tulisan kelompok lain, sesungguhnya kita secara 
tidak langsung telah melalukan diskusi dan tukar pendapat. Dalam banyak 
pendapatnya bisa kita terima, sedangkan sisanya masih bisa dipertimbangkan, ada 
sebagian diterima dan sebagian lagi tidak. 

        Fanatisme buta yang tidak lain merupakan manifestasi dari sikap sombong 
telah membelenggu sebagian dari kita sehingga ada kecendrungan untuk menolak 
apa saja, termasuk kebenaran dari kelompok lain. Inilah penyakit yang mestinya 
harus diperangi oleh generasi Muslim saat ini. 

        Tradisi ilmiah mengharuskan kita untuk berfikir logis, obyektif, dan 
rasional dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Dengan cara berfikir seperti 
ini, segala batas, sekat kelompok, dan perbedaan mazhab dapat ditembus. 
Fanatisme buta yang menghasilkan taqlid dengan sendirinya dapat dikurangi, 
bahkan dihilangkan sama sekali.

        Seorang Muslim dengan tradisi ilmiahnya dengan sendirinya dapat 
terbebas dari penjara kelompok, mazhab, aliran teologi dan tasawwuf. Ia hanya 
berpegang pada ajaran al-Qur'an yang di dalanya Allah Swt telah meletakkan 
jalan yang benar sebagai kiblat yang harus dipedomani. Allah berfirman: 

        "Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman pada kebenaran 
tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya." (al-Baqarah: 
213)

        Semoga kita termasuk golongan yang disebut dalam ayat ini. 
       






  __________ NOD32 1862 (20061110) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com



------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  ********************************************************


------------------------------------------------------------------------------


  Internal Virus Database is out-of-date.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.17.19/613 - Release Date: 2/1/2007 
12:00 AM
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke