Anda sendiri gimana... Kok malah memprovokasi...
Mau ditanggapi positif silahkan... negatif ya silahkan... Kalo ada hikmahnya ya 
diambil... n kalo gak ada hikmahnya ya di buang... Gitu aja kok repot... Pake 
acara blok segala... Kasus tuh...

-------------------------- Original Message ----------------------------

>From : [EMAIL PROTECTED]
>Sent : 2007-03-03 8:10:25 AM
>To : 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'


>Subject : Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
>MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
 
Barusebulannggakketemu,lagi2 kangen2nya udahadae-mail yang mengundangpolemic , 
mbokyae-mail kayak giniinidistopaja.
Apanggakadae-mail lain yang nggakperlungundangpolemic. Apalagiyang 
dikirimkanbukanhasilpemikiranatautulisannyasendiri( forwarddoang). 
Mbokmoderator bertindaksigapdalamhalinijangandibiarkanberulang-ulang¡¦.!!! 
 
-----Original Message-----
From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf OfFdb2_Facility
Sent:Friday, March 02, 2007 9:53 PM
To:Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject:Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID 
???
 
 
 
Sunnatullah Perbedaan adalah Ujian

sumber
:
www.hidayatullah.com
 

Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummat adalah rahmat. Tapi 
Fanatisme kesetiaan (loyalitas) yang berlebihan sering menjadi pelopor 
perselisihan.


Bukan kebetulan jika Allah Subhaanahu wa ta'ala menciptakan milyaran manusia. 
Dari Nabi Adam hingga sekarang, tak satupun di antara mereka yang menyerupai, 
apalagi sama. Dua saudara kembar, sekalipun tetap berbeda. Secara fisik mungkin 
tampak mirip, tapi keduanya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Keduanya memiliki 
kecendrungan yang tidak sama. Keduanya tak ingin menjadi pribadi 
sendiri-sendiri, yang satu di antara yang lain tidak ingin disamakan.

Dalam ajaran Islam tidak dikenal istilah titisan, apalagi reinkarnasi. Orang 
yang sudah meninggal dunia tak akan pernah digantikan oleh siapapun juga, 
termasuk anak keturunannya. Oleh karenanya, tidak satupun orang terdahulu yang 
mirip dengan kita. Allah Maha Kreatif dalam penciptaan manusia.

Di balik semua perbedaan manusia sesungguhnya terletak taqdir Allah. Di balik 
taqdir tersebut tersimpan rahasia dan hikmah yang apabila direnungkan dengan 
sungguh-sungguh akan tampak kebesaran Allah, Besar dalam Sifat-Nya, Besar dalam 
Dzat-Nya, dan Besar dalam Penciptaaan-Nya. Warna-warni kehidupan adalah 
sunnatullah.

Dianjurkan bagi seorang yang lagi stres untuk melihat berlama-lama ikan hias 
yang bergerak lincah dalam aquarium. Lebih afdhal jika ikan hias itu berwarna 
warni. Kombinasi warna yang seringkali kontras dalam tubuh ikan itu justru 
dapat menyejukkan pandangan, menenangkan persaan, dan seterusnya mengurangi 
stres dan tekanan jiwa. Itulah sunnatullah yang terhampar luas di jagad raya 
itu.

Melalui gambaran di atas, masih adakah keinginan kita untuk menyeragamkan 
manusia, atau malah meleburnya menjadi satu ujud tanpa senyawa? Merupakan 
kebodohan jika masih ada di antara kita yang mimpi seperti itu. Ilusi seperti 
itu sangat bertentangan dengan sunnatullah yang terhampar luas di pemukaan 
bumi. Meniadakan perbedaan sama halnya dengan menentang sunnatullah, menentang 
fitrah kemanusaian, sekaligus menentang diri kita sendiri.

Bagi Allah tidaklah sulit untuk menyatukan manusia, tapi Allah secara sengaja 
membiarkan mereka berbeda. Sikap ini ditegaskan oleh-Nya dalam al-Qur'an:

"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang 
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang 
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." 
(Huud: 118 ? 119)

Dalam tafsirnya ar-Razi mengartikan "berselisih pendapat" dalam ayat 
di atas adalah perselisihan pendapat manusia tentang agama, akhlaq dan 
perbuatan-perbuatan yang lain. Lebih jauh perbedaan itu bisa jadi dalam masalah 
aqidah, syari'ah (fiqih), dan akhlaq, juga siyasah. Perbedaan dalam keempat hal 
tersebut di kalangan ummat Islam sudah ada sejak Rasulullah masih hidup. Beliau 
menyaksikan di antara sahabat-sahabatnya berselisih pendapat tentang banyak 
hal. Di antaranya ada yang diluruskan, ada yang dibenarkan salah satunya, ada 
yang dibenarkan dua-duanya, dan ada pula yang dibiarkan.

Sebagai pemimpin ummat, Rasulullah menyadari bahwa perbedaan dan silang 
pendapat adalah suatu yang niscaya. Justru dalam perbedaan itu terletak potensi 
yang sangat besar, yang jika dapat dikelola dengan baik dan tepat sasaran, 
justru akan membuahkan kekuatan yang luar biasa. Sebaliknya, jika perbedaan itu 
disikapi secara salah dan dikelola semaunya, maka perbedaan itu akan berubah 
menjadi konflik yang pada ujungnya bakal mendatangkan bencana.

Di masa Rasulullah, betapapun besarnya perbedaan dan dalamnya perselisihan di 
antara para sahabat, semuanya dapat diselesaikan, bahkan perbedaan itu telah 
membawa rahmat dan berbagai kemajuan Islam. Dalam perbedaan itulah para sahabat 
bersaing dan berlomba untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas, dan 
mengembangkan segenap potensi. Perbedaan seperti itulah yang disebut-sebut 
dalam Islam sebagai rahmat.

Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat. Ada dua 
persyaratan minimal yang harus dimiliki untuk mengubah ikhtilaf menjadi rahmat. 
Pertama, adanyakepemimpinan ummat. Kedua, terciptanyatradisi ilmiah di kalangan 
ummat. Jika kedua syarat ini ada, insya-Allah sebesar apapun perbedaan yang ada 
pasti dapat diselesaikan, bahkan akhirnya justru mendatangkan rahmat.

Kepemimpinan ummat harus ada dan mewujud dalam kehidupan nyata. Al-Qur'an 
maupun hadits tidak menentukan bentuknya kepemimpinan tersebut, tapi esensinya 
bahwa kepemimpinan itu haruslah efektif menyatukan ummat dalam satu shaf yang 
rapi untuk menegakkan kalimatullah hiyal 'ulya. Perbedaan yang ada justru 
ditata dan dikelola dalam konfigurasi warna yang mewah dan mempesona.

Ummat islam telah lama kehilangan kepemimpinan seperti itu. Mereka mencukupkan 
diri dalam kepemimpinan kelompok, golongan, atau organisasi. Di luar itu mereka 
tidak peduli. Akibatnya, masing-masing kelompok mengkalim kebenaran atas nama 
Allah. masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Maka lahirlah dari sini 
sikap fanatisme buta.

Fanatisme buta dapat lahir dari tidak adanya kepemimpinan ummat, bisa juga 
karena tradisi ilmiah yang belum begitu melembaga. Pemimpin kelompok, baik yang 
disebut guru spritual maupun imam yang sifatnya lokal, seringkali menanamkan 
kesetiaan (loyalitas) berlebihan, yang menyebabkanpengikutnya taqlid secara 
buta kepada apa saja yang menjadi pendapat sang pemimpin. Bahkan tanpa 
dasar-dasar dalil aqli dan naqli, sekalipun.Lebih parah lagi,pengikut 
merekacenderung menyalahkan pendapatnya semua orang yang berada di luar 
kelompoknya.

Pola kepemimpinan seperti ini cenderung mematikan tradisi ilmiah. Perbedaan 
pendapat di antara kelompok mereka cenderung diharamkan, tapi justru yang 
terjadi perbedaan dengan kelompok muslim yang lain menjadi hal yang lumrah. 
Dalam bentuk yang lebih ekstrim, ada kepuasan dari kelompok ini jika bisa 
"membantai" kelompok lain dengan argumentasi-argumentasi baru yang 
mematikan "pihak lawan", yang tidak lain adalah saudara seimannya 
sendiri.

Fenomena seperti itu merebak di mana-mana, tidak hanya terjadi pada saat ini, 
tapi jauh sebelumnya, ketika terbentuk kelompok-kelompok Islam, baik yang 
didasarkan pada aspirasi politik, mazhab fiqih, aliran teologi, maupun 
kelompok-kelompok sufi (thariqat). Inilah realitas, bahkan untuk mengurainya 
saja sudah banyak mengalami kesulitan. Misalnya, mana terlebih dahulu 
terbentuknya kelompok berdasarkan asiprasi politik dengan mazhab fiqih atau 
teologi? Kaum Khawarij lahir mula-mula atas dasar aspirasi politik, tapi 
akhirnya berkembang menjadi aliran teologi dan mazhab fiqih tersendiri.

Khusus tentang kaum Khawarij ini menarik untuk dikemukakan sehubungan dengan 
doktrinnya yang sangat kuat, bahwa orang yang di luar kelompoknya dianggap 
telah halal darahnya. Terhadap kelompok ini , Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu 
berkomentar: "Ijtihad mereka itu tidak lebih hebat daripada orang Yahudi 
dan orang-orang Nasrani. Mereka berada dalam kesesatan."

Dalam sebuah masyarakat yang tradisi ilmiahnya berkembang, perbedaan pendapat 
merupakan suatu hal yang biasa. Mereka mengembangkan sikap menghormati terhadap 
orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Persaudaraan tidak terganggu hanya 
karena perbedaan pendapat, apalagiperbedaan itu hanya mengenai furuiyah, yang 
menjadi lahan ijtihad bagi siapapun yang mempunyai kapasitas di dalamnya.

Ali Radhiallaahu 'anhu adalah rival politiknya Mu'awiyah. Di antara keduanya 
bahkan terjadi bentrok fisik hingga jatuhnya banyak korban di antara kedua 
pasukannya. Akan tetapi karena tradisi ilmiahnya yang telah terbangun 
sebelumnya, Mu'awiyah dalam banyak kasus masih harus meminta pendapat Ali 
ketika hendak memutuskan suatu perkara.

Dalam sebuah riwayat Imam Malik dan Al-Baihaqi dari Yahya bin Sa'id dari 
Al-Musayyab, diceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki penduduk Syam 
(Syiria) bernama Ibnu Khaibari mendapati istrinya sedang bersama laki-laki 
lain. Karena emosi, Ibnu Khaibari lalu membunuh istrinya sekaligus lelaki 
tersebut. Terhadap kasus ini Mu'awiyah merasa kesulitan untuk menghukuminya. 
Untuk itu, ia berkirim surat kepada Ali Ra untuk menanyakan hal tersebut.

Melalui kurirnya, Ali memberikan jawaban: "menurutku, apabila orang yang 
bernama Khaibari tersebut tidak sanggup mendatangkan empat orang saksi, maka 
dia harus memberikan nyawanya. Sesungguhnya Allah secara pasti telah 
mengharamkan darah kaum Muslimin. Barangsiapa yang terbukti membunuh seorang 
Muslim dan dia mengaku bahwa dirinya terpaksa harus membunuhnya, maka hal itu 
tidak bisa diterima begitu saja sebelum dia bisa membuktikan pengakuannya 
tersebut. Soalnya sangat boleh jadi pengakuannya adalah dimaksudkan agar 
terbebas dari hukuman."

Tradisi ilmiah seperti itu tampaknya telah hilang di antara kita. Dialog antar 
kelompok seringkali dilakukan secara formal dengan jargon-jargon ukhuwwah 
Islamiyah, sementara di luar forum itu, mereka tetap mengembangkan sikap-sikap 
perbedaannya. Padahal masing-masing kelompok biasanya menerbitkan majalah, 
buku, maupun jurnal ilmiah. Mestinya melalui bacaan itu kita berdioalog dan 
berkomunikasi secara intensif dengan kelompok-kelompok lainnya. Melalui membaca 
jurnal atau tulisan kelompok lain, sesungguhnya kita secara tidak langsung 
telah melalukan diskusi dan tukar pendapat. Dalam banyak pendapatnya bisa kita 
terima, sedangkan sisanya masih bisa dipertimbangkan, ada sebagian diterima dan 
sebagian lagi tidak.

Fanatisme buta yang tidak lain merupakan manifestasi dari sikap sombong telah 
membelenggu sebagian dari kita sehingga ada kecendrungan untuk menolak apa 
saja, termasuk kebenaran dari kelompok lain. Inilah penyakit yang mestinya 
harus diperangi oleh generasi Muslim saat ini.

Tradisi ilmiah mengharuskan kita untuk berfikir logis, obyektif, dan rasional 
dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Dengan cara berfikir seperti ini, 
segala batas, sekat kelompok, dan perbedaan mazhab dapat ditembus. Fanatisme 
buta yang menghasilkan taqlid dengan sendirinya dapat dikurangi, bahkan 
dihilangkan sama sekali.

Seorang Muslim dengan tradisi ilmiahnya dengan sendirinya dapat terbebas dari 
penjara kelompok, mazhab, aliran teologi dan tasawwuf. Ia hanya berpegang pada 
ajaran al-Qur'an yang di dalanya Allah Swt telah meletakkan jalan yang benar 
sebagai kiblat yang harus dipedomani. Allah berfirman:

"Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman pada kebenaran 
tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya." 
(al-Baqarah: 213)

Semoga kita termasuk golongan yang disebut dalam ayat ini.
 


__________ NOD32 1862 (20061110) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke