assalamu'alaikum wr.wb
ikhwati fillah.....af1 nih kalo ane ikut nimbrung, mendingan kita ganti topik 
pembicaraan yg lain aja ya...af1 ya...kalo ada perkataan yg kurang berkenan di 
hati.semoga 4JJI selalu melembutkan hati-hati kita.Amin

widadi
  ----- Original Message ----- 
  From: Erwin Kurnia 
  To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP 
  Sent: Saturday, March 03, 2007 10:55 AM
  Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???


  Assalamu 'alaykum...

  Saudara se aqidah...
  berhati hatilah jika berkomentar
  kelak dari apa yang kita ucapkan dan tuliskan akan diminta 
pertanggung-jawabannya.

  wassalam.
    ----- Original Message ----- 
    From: Syahrul Bachtiar 
    To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP 
    Sent: March 03, 2007 12:28 PM
    Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???


    Beginilah karakter kita ( termasuk penulis ) , meributkan hal -hal yang 
seakan tanpa ujung .
    menguras energi dan memicu perpecahan ,sehingga tak sadar  tetangga sebelah 
rumah atau lain kampung  sudah pindah agama karena kemiskinan dan kena bujuk.
    atau batas negara yang dicaplok bangsa lain,kebodohan yang hampir merata 
sehingga kita mudah diperdaya dan segala macam fakta kalau kita kurang dihargai 
bangsa lain .  
    memang ironis seakan meributkan " TELUR ATAU AYAM " yang lebih dulu ada 

      ----- Original Message ----- 
      From: ADE FIRMANSYAH 
      To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
      Sent: Saturday, March 03, 2007 8:49 AM
      Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???


      Anda sendiri gimana... Kok malah memprovokasi...

      Mau ditanggapi positif silahkan... negatif ya silahkan... Kalo ada 
hikmahnya ya diambil... n kalo gak ada hikmahnya ya di buang... Gitu aja kok 
repot... Pake acara blok segala... Kasus tuh...

      -------------------------- Original Message ----------------------------

      >From : [EMAIL PROTECTED]
      >Sent : 2007-03-03 8:10:25 AM
      >To : 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'


      >Subject : Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
       

      Barusebulannggakketemu,lagi2 kangen2nya udahadae-mail yang 
mengundangpolemic , mbokyae-mail kayak giniinidistopaja.

      Apanggakadae-mail lain yang nggakperlungundangpolemic. Apalagiyang 
dikirimkanbukanhasilpemikiranatautulisannyasendiri( forwarddoang). 
Mbokmoderator bertindaksigapdalamhalinijangandibiarkanberulang-ulang¡¦.!!!  



      -----Original Message-----
      From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
Fdb2_Facility
      Sent:Friday, March 02, 2007 9:53 PM
      To:Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
      Subject:Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA 
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???







      Sunnatullah Perbedaan adalah Ujian

            sumber 
           :
           www.hidayatullah.com
           




            Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummat adalah 
rahmat. Tapi Fanatisme kesetiaan (loyalitas) yang berlebihan sering menjadi 
pelopor perselisihan.


            Bukan kebetulan jika Allah Subhaanahu wa ta'ala menciptakan 
milyaran manusia. Dari Nabi Adam hingga sekarang, tak satupun di antara mereka 
yang menyerupai, apalagi sama. Dua saudara kembar, sekalipun tetap berbeda. 
Secara fisik mungkin tampak mirip, tapi keduanya memiliki ciri-ciri yang 
berbeda. Keduanya memiliki kecendrungan yang tidak sama. Keduanya tak ingin 
menjadi pribadi sendiri-sendiri, yang satu di antara yang lain tidak ingin 
disamakan. 

            Dalam ajaran Islam tidak dikenal istilah titisan, apalagi 
reinkarnasi. Orang yang sudah meninggal dunia tak akan pernah digantikan oleh 
siapapun juga, termasuk anak keturunannya. Oleh karenanya, tidak satupun orang 
terdahulu yang mirip dengan kita. Allah Maha Kreatif dalam penciptaan manusia.

            Di balik semua perbedaan manusia sesungguhnya terletak taqdir 
Allah. Di balik taqdir tersebut tersimpan rahasia dan hikmah yang apabila 
direnungkan dengan sungguh-sungguh akan tampak kebesaran Allah, Besar dalam 
Sifat-Nya, Besar dalam Dzat-Nya, dan Besar dalam Penciptaaan-Nya. Warna-warni 
kehidupan adalah sunnatullah. 

            Dianjurkan bagi seorang yang lagi stres untuk melihat berlama-lama 
ikan hias yang bergerak lincah dalam aquarium. Lebih afdhal jika ikan hias itu 
berwarna warni. Kombinasi warna yang seringkali kontras dalam tubuh ikan itu 
justru dapat menyejukkan pandangan, menenangkan persaan, dan seterusnya 
mengurangi stres dan tekanan jiwa. Itulah sunnatullah yang terhampar luas di 
jagad raya itu. 

            Melalui gambaran di atas, masih adakah keinginan kita untuk 
menyeragamkan manusia, atau malah meleburnya menjadi satu ujud tanpa senyawa? 
Merupakan kebodohan jika masih ada di antara kita yang mimpi seperti itu. Ilusi 
seperti itu sangat bertentangan dengan sunnatullah yang terhampar luas di 
pemukaan bumi. Meniadakan perbedaan sama halnya dengan menentang sunnatullah, 
menentang fitrah kemanusaian, sekaligus menentang diri kita sendiri. 

            Bagi Allah tidaklah sulit untuk menyatukan manusia, tapi Allah 
secara sengaja membiarkan mereka berbeda. Sikap ini ditegaskan oleh-Nya dalam 
al-Qur'an: 

            "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat 
yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang 
yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." 
(Huud: 118 - 119) 

            Dalam tafsirnya ar-Razi mengartikan "berselisih pendapat" dalam 
ayat di atas adalah perselisihan pendapat manusia tentang agama, akhlaq dan 
perbuatan-perbuatan yang lain. Lebih jauh perbedaan itu bisa jadi dalam masalah 
aqidah, syari'ah (fiqih), dan akhlaq, juga siyasah. Perbedaan dalam keempat hal 
tersebut di kalangan ummat Islam sudah ada sejak Rasulullah masih hidup. Beliau 
menyaksikan di antara sahabat-sahabatnya berselisih pendapat tentang banyak 
hal. Di antaranya ada yang diluruskan, ada yang dibenarkan salah satunya, ada 
yang dibenarkan dua-duanya, dan ada pula yang dibiarkan. 

            Sebagai pemimpin ummat, Rasulullah menyadari bahwa perbedaan dan 
silang pendapat adalah suatu yang niscaya. Justru dalam perbedaan itu terletak 
potensi yang sangat besar, yang jika dapat dikelola dengan baik dan tepat 
sasaran, justru akan membuahkan kekuatan yang luar biasa. Sebaliknya, jika 
perbedaan itu disikapi secara salah dan dikelola semaunya, maka perbedaan itu 
akan berubah menjadi konflik yang pada ujungnya bakal mendatangkan bencana. 

            Di masa Rasulullah, betapapun besarnya perbedaan dan dalamnya 
perselisihan di antara para sahabat, semuanya dapat diselesaikan, bahkan 
perbedaan itu telah membawa rahmat dan berbagai kemajuan Islam. Dalam perbedaan 
itulah para sahabat bersaing dan berlomba untuk memperbaiki diri, meningkatkan 
kualitas, dan mengembangkan segenap potensi. Perbedaan seperti itulah yang 
disebut-sebut dalam Islam sebagai rahmat. 

            Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummatku adalah 
rahmat. Ada dua persyaratan minimal yang harus dimiliki untuk mengubah ikhtilaf 
menjadi rahmat. Pertama, adanya kepemimpinan ummat. Kedua, terciptanya tradisi 
ilmiah di kalangan ummat. Jika kedua syarat ini ada, insya-Allah sebesar apapun 
perbedaan yang ada pasti dapat diselesaikan, bahkan akhirnya justru 
mendatangkan rahmat. 

            Kepemimpinan ummat harus ada dan mewujud dalam kehidupan nyata. 
Al-Qur'an maupun hadits tidak menentukan bentuknya kepemimpinan tersebut, tapi 
esensinya bahwa kepemimpinan itu haruslah efektif menyatukan ummat dalam satu 
shaf yang rapi untuk menegakkan kalimatullah hiyal 'ulya. Perbedaan yang ada 
justru ditata dan dikelola dalam konfigurasi warna yang mewah dan mempesona. 

            Ummat islam telah lama kehilangan kepemimpinan seperti itu. Mereka 
mencukupkan diri dalam kepemimpinan kelompok, golongan, atau organisasi. Di 
luar itu mereka tidak peduli. Akibatnya, masing-masing kelompok mengkalim 
kebenaran atas nama Allah. masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Maka 
lahirlah dari sini sikap fanatisme buta. 

            Fanatisme buta dapat lahir dari tidak adanya kepemimpinan ummat, 
bisa juga karena tradisi ilmiah yang belum begitu melembaga. Pemimpin kelompok, 
baik yang disebut guru spritual maupun imam yang sifatnya lokal, seringkali 
menanamkan kesetiaan (loyalitas) berlebihan, yang menyebabkan pengikutnya 
taqlid secara buta kepada apa saja yang menjadi pendapat sang pemimpin. Bahkan 
tanpa dasar-dasar dalil aqli dan naqli, sekalipun. Lebih parah lagi, pengikut 
merekacenderung menyalahkan pendapatnya semua orang yang berada di luar 
kelompoknya. 

            Pola kepemimpinan seperti ini cenderung mematikan tradisi ilmiah. 
Perbedaan pendapat di antara kelompok mereka cenderung diharamkan, tapi justru 
yang terjadi perbedaan dengan kelompok muslim yang lain menjadi hal yang 
lumrah. Dalam bentuk yang lebih ekstrim, ada kepuasan dari kelompok ini jika 
bisa "membantai" kelompok lain dengan argumentasi-argumentasi baru yang 
mematikan "pihak lawan", yang tidak lain adalah saudara seimannya sendiri. 

            Fenomena seperti itu merebak di mana-mana, tidak hanya terjadi pada 
saat ini, tapi jauh sebelumnya, ketika terbentuk kelompok-kelompok Islam, baik 
yang didasarkan pada aspirasi politik, mazhab fiqih, aliran teologi, maupun 
kelompok-kelompok sufi (thariqat). Inilah realitas, bahkan untuk mengurainya 
saja sudah banyak mengalami kesulitan. Misalnya, mana terlebih dahulu 
terbentuknya kelompok berdasarkan asiprasi politik dengan mazhab fiqih atau 
teologi? Kaum Khawarij lahir mula-mula atas dasar aspirasi politik, tapi 
akhirnya berkembang menjadi aliran teologi dan mazhab fiqih tersendiri. 

            Khusus tentang kaum Khawarij ini menarik untuk dikemukakan 
sehubungan dengan doktrinnya yang sangat kuat, bahwa orang yang di luar 
kelompoknya dianggap telah halal darahnya. Terhadap kelompok ini , Ibnu Abbas 
Radhiallaahu 'anhu berkomentar: "Ijtihad mereka itu tidak lebih hebat daripada 
orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Mereka berada dalam kesesatan." 

            Dalam sebuah masyarakat yang tradisi ilmiahnya berkembang, 
perbedaan pendapat merupakan suatu hal yang biasa. Mereka mengembangkan sikap 
menghormati terhadap orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Persaudaraan 
tidak terganggu hanya karena perbedaan pendapat, apalagi perbedaan itu hanya 
mengenai furuiyah, yang menjadi lahan ijtihad bagi siapapun yang mempunyai 
kapasitas di dalamnya. 

            Ali Radhiallaahu 'anhu adalah rival politiknya Mu'awiyah. Di antara 
keduanya bahkan terjadi bentrok fisik hingga jatuhnya banyak korban di antara 
kedua pasukannya. Akan tetapi karena tradisi ilmiahnya yang telah terbangun 
sebelumnya, Mu'awiyah dalam banyak kasus masih harus meminta pendapat Ali 
ketika hendak memutuskan suatu perkara. 

            Dalam sebuah riwayat Imam Malik dan Al-Baihaqi dari Yahya bin Sa'id 
dari Al-Musayyab, diceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki penduduk Syam 
(Syiria) bernama Ibnu Khaibari mendapati istrinya sedang bersama laki-laki 
lain. Karena emosi, Ibnu Khaibari lalu membunuh istrinya sekaligus lelaki 
tersebut. Terhadap kasus ini Mu'awiyah merasa kesulitan untuk menghukuminya. 
Untuk itu, ia berkirim surat kepada Ali Ra untuk menanyakan hal tersebut. 

            Melalui kurirnya, Ali memberikan jawaban: "menurutku, apabila orang 
yang bernama Khaibari tersebut tidak sanggup mendatangkan empat orang saksi, 
maka dia harus memberikan nyawanya. Sesungguhnya Allah secara pasti telah 
mengharamkan darah kaum Muslimin. Barangsiapa yang terbukti membunuh seorang 
Muslim dan dia mengaku bahwa dirinya terpaksa harus membunuhnya, maka hal itu 
tidak bisa diterima begitu saja sebelum dia bisa membuktikan pengakuannya 
tersebut. Soalnya sangat boleh jadi pengakuannya adalah dimaksudkan agar 
terbebas dari hukuman." 

            Tradisi ilmiah seperti itu tampaknya telah hilang di antara kita. 
Dialog antar kelompok seringkali dilakukan secara formal dengan jargon-jargon 
ukhuwwah Islamiyah, sementara di luar forum itu, mereka tetap mengembangkan 
sikap-sikap perbedaannya. Padahal masing-masing kelompok biasanya menerbitkan 
majalah, buku, maupun jurnal ilmiah. Mestinya melalui bacaan itu kita 
berdioalog dan berkomunikasi secara intensif dengan kelompok-kelompok lainnya. 
Melalui membaca jurnal atau tulisan kelompok lain, sesungguhnya kita secara 
tidak langsung telah melalukan diskusi dan tukar pendapat. Dalam banyak 
pendapatnya bisa kita terima, sedangkan sisanya masih bisa dipertimbangkan, ada 
sebagian diterima dan sebagian lagi tidak. 

            Fanatisme buta yang tidak lain merupakan manifestasi dari sikap 
sombong telah membelenggu sebagian dari kita sehingga ada kecendrungan untuk 
menolak apa saja, termasuk kebenaran dari kelompok lain. Inilah penyakit yang 
mestinya harus diperangi oleh generasi Muslim saat ini. 

            Tradisi ilmiah mengharuskan kita untuk berfikir logis, obyektif, 
dan rasional dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Dengan cara berfikir 
seperti ini, segala batas, sekat kelompok, dan perbedaan mazhab dapat ditembus. 
Fanatisme buta yang menghasilkan taqlid dengan sendirinya dapat dikurangi, 
bahkan dihilangkan sama sekali.

            Seorang Muslim dengan tradisi ilmiahnya dengan sendirinya dapat 
terbebas dari penjara kelompok, mazhab, aliran teologi dan tasawwuf. Ia hanya 
berpegang pada ajaran al-Qur'an yang di dalanya Allah Swt telah meletakkan 
jalan yang benar sebagai kiblat yang harus dipedomani. Allah berfirman: 

            "Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman pada 
kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya." 
(al-Baqarah: 213)

            Semoga kita termasuk golongan yang disebut dalam ayat ini. 
           






      __________ NOD32 1862 (20061110) Information __________

      This message was checked by NOD32 antivirus system.
      http://www.eset.com



--------------------------------------------------------------------------


      ********************************************************
      Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
      ********************************************************
      Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
      http://www.usahamulia.net

      Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
      [EMAIL PROTECTED]

      ******************************************************** 


--------------------------------------------------------------------------


      Internal Virus Database is out-of-date.
      Checked by AVG Free Edition.
      Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.17.19/613 - Release Date: 2/1/2007 
12:00 AM



----------------------------------------------------------------------------


    ********************************************************
    Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
    ********************************************************
    Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
    http://www.usahamulia.net

    Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
    [EMAIL PROTECTED]

    ********************************************************


------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  ********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke