Assalamu 'alaykum...
Saudara se aqidah...
berhati hatilah jika berkomentar
kelak dari apa yang kita ucapkan dan tuliskan akan diminta
pertanggung-jawabannya.
wassalam.
----- Original Message -----
From: Syahrul Bachtiar
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Sent: March 03, 2007 12:28 PM
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ]MENGAPA
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
Beginilah karakter kita ( termasuk penulis ) , meributkan hal -hal yang
seakan tanpa ujung .
menguras energi dan memicu perpecahan ,sehingga tak sadar tetangga sebelah
rumah atau lain kampung sudah pindah agama karena kemiskinan dan kena bujuk.
atau batas negara yang dicaplok bangsa lain,kebodohan yang hampir merata
sehingga kita mudah diperdaya dan segala macam fakta kalau kita kurang dihargai
bangsa lain .
memang ironis seakan meributkan " TELUR ATAU AYAM " yang lebih dulu ada
----- Original Message -----
From: ADE FIRMANSYAH
To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
Sent: Saturday, March 03, 2007 8:49 AM
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
Anda sendiri gimana... Kok malah memprovokasi...
Mau ditanggapi positif silahkan... negatif ya silahkan... Kalo ada
hikmahnya ya diambil... n kalo gak ada hikmahnya ya di buang... Gitu aja kok
repot... Pake acara blok segala... Kasus tuh...
-------------------------- Original Message ----------------------------
>From : [EMAIL PROTECTED]
>Sent : 2007-03-03 8:10:25 AM
>To : 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
>Subject : Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
Barusebulannggakketemu,lagi2 kangen2nya udahadae-mail yang
mengundangpolemic , mbokyae-mail kayak giniinidistopaja.
Apanggakadae-mail lain yang nggakperlungundangpolemic. Apalagiyang
dikirimkanbukanhasilpemikiranatautulisannyasendiri( forwarddoang).
Mbokmoderator bertindaksigapdalamhalinijangandibiarkanberulang-ulang¡¦.!!!
-----Original Message-----
From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Fdb2_Facility
Sent:Friday, March 02, 2007 9:53 PM
To:Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject:Re: [ FUPM-EJIP ] MENGAPA
MEREKALEBIHMENDAHULUKANKHILAFAHDARIPADATAUHID ???
Sunnatullah Perbedaan adalah Ujian
sumber
:
www.hidayatullah.com
Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummat adalah rahmat.
Tapi Fanatisme kesetiaan (loyalitas) yang berlebihan sering menjadi pelopor
perselisihan.
Bukan kebetulan jika Allah Subhaanahu wa ta'ala menciptakan milyaran
manusia. Dari Nabi Adam hingga sekarang, tak satupun di antara mereka yang
menyerupai, apalagi sama. Dua saudara kembar, sekalipun tetap berbeda. Secara
fisik mungkin tampak mirip, tapi keduanya memiliki ciri-ciri yang berbeda.
Keduanya memiliki kecendrungan yang tidak sama. Keduanya tak ingin menjadi
pribadi sendiri-sendiri, yang satu di antara yang lain tidak ingin disamakan.
Dalam ajaran Islam tidak dikenal istilah titisan, apalagi
reinkarnasi. Orang yang sudah meninggal dunia tak akan pernah digantikan oleh
siapapun juga, termasuk anak keturunannya. Oleh karenanya, tidak satupun orang
terdahulu yang mirip dengan kita. Allah Maha Kreatif dalam penciptaan manusia.
Di balik semua perbedaan manusia sesungguhnya terletak taqdir Allah.
Di balik taqdir tersebut tersimpan rahasia dan hikmah yang apabila direnungkan
dengan sungguh-sungguh akan tampak kebesaran Allah, Besar dalam Sifat-Nya,
Besar dalam Dzat-Nya, dan Besar dalam Penciptaaan-Nya. Warna-warni kehidupan
adalah sunnatullah.
Dianjurkan bagi seorang yang lagi stres untuk melihat berlama-lama
ikan hias yang bergerak lincah dalam aquarium. Lebih afdhal jika ikan hias itu
berwarna warni. Kombinasi warna yang seringkali kontras dalam tubuh ikan itu
justru dapat menyejukkan pandangan, menenangkan persaan, dan seterusnya
mengurangi stres dan tekanan jiwa. Itulah sunnatullah yang terhampar luas di
jagad raya itu.
Melalui gambaran di atas, masih adakah keinginan kita untuk
menyeragamkan manusia, atau malah meleburnya menjadi satu ujud tanpa senyawa?
Merupakan kebodohan jika masih ada di antara kita yang mimpi seperti itu. Ilusi
seperti itu sangat bertentangan dengan sunnatullah yang terhampar luas di
pemukaan bumi. Meniadakan perbedaan sama halnya dengan menentang sunnatullah,
menentang fitrah kemanusaian, sekaligus menentang diri kita sendiri.
Bagi Allah tidaklah sulit untuk menyatukan manusia, tapi Allah secara
sengaja membiarkan mereka berbeda. Sikap ini ditegaskan oleh-Nya dalam
al-Qur'an:
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang
diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." (Huud:
118 - 119)
Dalam tafsirnya ar-Razi mengartikan "berselisih pendapat" dalam ayat
di atas adalah perselisihan pendapat manusia tentang agama, akhlaq dan
perbuatan-perbuatan yang lain. Lebih jauh perbedaan itu bisa jadi dalam masalah
aqidah, syari'ah (fiqih), dan akhlaq, juga siyasah. Perbedaan dalam keempat hal
tersebut di kalangan ummat Islam sudah ada sejak Rasulullah masih hidup. Beliau
menyaksikan di antara sahabat-sahabatnya berselisih pendapat tentang banyak
hal. Di antaranya ada yang diluruskan, ada yang dibenarkan salah satunya, ada
yang dibenarkan dua-duanya, dan ada pula yang dibiarkan.
Sebagai pemimpin ummat, Rasulullah menyadari bahwa perbedaan dan
silang pendapat adalah suatu yang niscaya. Justru dalam perbedaan itu terletak
potensi yang sangat besar, yang jika dapat dikelola dengan baik dan tepat
sasaran, justru akan membuahkan kekuatan yang luar biasa. Sebaliknya, jika
perbedaan itu disikapi secara salah dan dikelola semaunya, maka perbedaan itu
akan berubah menjadi konflik yang pada ujungnya bakal mendatangkan bencana.
Di masa Rasulullah, betapapun besarnya perbedaan dan dalamnya
perselisihan di antara para sahabat, semuanya dapat diselesaikan, bahkan
perbedaan itu telah membawa rahmat dan berbagai kemajuan Islam. Dalam perbedaan
itulah para sahabat bersaing dan berlomba untuk memperbaiki diri, meningkatkan
kualitas, dan mengembangkan segenap potensi. Perbedaan seperti itulah yang
disebut-sebut dalam Islam sebagai rahmat.
Ikhtilaafu ummatii rahmat, perbedaan di kalangan ummatku adalah
rahmat. Ada dua persyaratan minimal yang harus dimiliki untuk mengubah ikhtilaf
menjadi rahmat. Pertama, adanya kepemimpinan ummat. Kedua, terciptanya tradisi
ilmiah di kalangan ummat. Jika kedua syarat ini ada, insya-Allah sebesar apapun
perbedaan yang ada pasti dapat diselesaikan, bahkan akhirnya justru
mendatangkan rahmat.
Kepemimpinan ummat harus ada dan mewujud dalam kehidupan nyata.
Al-Qur'an maupun hadits tidak menentukan bentuknya kepemimpinan tersebut, tapi
esensinya bahwa kepemimpinan itu haruslah efektif menyatukan ummat dalam satu
shaf yang rapi untuk menegakkan kalimatullah hiyal 'ulya. Perbedaan yang ada
justru ditata dan dikelola dalam konfigurasi warna yang mewah dan mempesona.
Ummat islam telah lama kehilangan kepemimpinan seperti itu. Mereka
mencukupkan diri dalam kepemimpinan kelompok, golongan, atau organisasi. Di
luar itu mereka tidak peduli. Akibatnya, masing-masing kelompok mengkalim
kebenaran atas nama Allah. masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Maka
lahirlah dari sini sikap fanatisme buta.
Fanatisme buta dapat lahir dari tidak adanya kepemimpinan ummat, bisa
juga karena tradisi ilmiah yang belum begitu melembaga. Pemimpin kelompok, baik
yang disebut guru spritual maupun imam yang sifatnya lokal, seringkali
menanamkan kesetiaan (loyalitas) berlebihan, yang menyebabkan pengikutnya
taqlid secara buta kepada apa saja yang menjadi pendapat sang pemimpin. Bahkan
tanpa dasar-dasar dalil aqli dan naqli, sekalipun. Lebih parah lagi, pengikut
merekacenderung menyalahkan pendapatnya semua orang yang berada di luar
kelompoknya.
Pola kepemimpinan seperti ini cenderung mematikan tradisi ilmiah.
Perbedaan pendapat di antara kelompok mereka cenderung diharamkan, tapi justru
yang terjadi perbedaan dengan kelompok muslim yang lain menjadi hal yang
lumrah. Dalam bentuk yang lebih ekstrim, ada kepuasan dari kelompok ini jika
bisa "membantai" kelompok lain dengan argumentasi-argumentasi baru yang
mematikan "pihak lawan", yang tidak lain adalah saudara seimannya sendiri.
Fenomena seperti itu merebak di mana-mana, tidak hanya terjadi pada
saat ini, tapi jauh sebelumnya, ketika terbentuk kelompok-kelompok Islam, baik
yang didasarkan pada aspirasi politik, mazhab fiqih, aliran teologi, maupun
kelompok-kelompok sufi (thariqat). Inilah realitas, bahkan untuk mengurainya
saja sudah banyak mengalami kesulitan. Misalnya, mana terlebih dahulu
terbentuknya kelompok berdasarkan asiprasi politik dengan mazhab fiqih atau
teologi? Kaum Khawarij lahir mula-mula atas dasar aspirasi politik, tapi
akhirnya berkembang menjadi aliran teologi dan mazhab fiqih tersendiri.
Khusus tentang kaum Khawarij ini menarik untuk dikemukakan sehubungan
dengan doktrinnya yang sangat kuat, bahwa orang yang di luar kelompoknya
dianggap telah halal darahnya. Terhadap kelompok ini , Ibnu Abbas Radhiallaahu
'anhu berkomentar: "Ijtihad mereka itu tidak lebih hebat daripada orang Yahudi
dan orang-orang Nasrani. Mereka berada dalam kesesatan."
Dalam sebuah masyarakat yang tradisi ilmiahnya berkembang, perbedaan
pendapat merupakan suatu hal yang biasa. Mereka mengembangkan sikap menghormati
terhadap orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Persaudaraan tidak
terganggu hanya karena perbedaan pendapat, apalagi perbedaan itu hanya mengenai
furuiyah, yang menjadi lahan ijtihad bagi siapapun yang mempunyai kapasitas di
dalamnya.
Ali Radhiallaahu 'anhu adalah rival politiknya Mu'awiyah. Di antara
keduanya bahkan terjadi bentrok fisik hingga jatuhnya banyak korban di antara
kedua pasukannya. Akan tetapi karena tradisi ilmiahnya yang telah terbangun
sebelumnya, Mu'awiyah dalam banyak kasus masih harus meminta pendapat Ali
ketika hendak memutuskan suatu perkara.
Dalam sebuah riwayat Imam Malik dan Al-Baihaqi dari Yahya bin Sa'id
dari Al-Musayyab, diceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki penduduk Syam
(Syiria) bernama Ibnu Khaibari mendapati istrinya sedang bersama laki-laki
lain. Karena emosi, Ibnu Khaibari lalu membunuh istrinya sekaligus lelaki
tersebut. Terhadap kasus ini Mu'awiyah merasa kesulitan untuk menghukuminya.
Untuk itu, ia berkirim surat kepada Ali Ra untuk menanyakan hal tersebut.
Melalui kurirnya, Ali memberikan jawaban: "menurutku, apabila orang
yang bernama Khaibari tersebut tidak sanggup mendatangkan empat orang saksi,
maka dia harus memberikan nyawanya. Sesungguhnya Allah secara pasti telah
mengharamkan darah kaum Muslimin. Barangsiapa yang terbukti membunuh seorang
Muslim dan dia mengaku bahwa dirinya terpaksa harus membunuhnya, maka hal itu
tidak bisa diterima begitu saja sebelum dia bisa membuktikan pengakuannya
tersebut. Soalnya sangat boleh jadi pengakuannya adalah dimaksudkan agar
terbebas dari hukuman."
Tradisi ilmiah seperti itu tampaknya telah hilang di antara kita.
Dialog antar kelompok seringkali dilakukan secara formal dengan jargon-jargon
ukhuwwah Islamiyah, sementara di luar forum itu, mereka tetap mengembangkan
sikap-sikap perbedaannya. Padahal masing-masing kelompok biasanya menerbitkan
majalah, buku, maupun jurnal ilmiah. Mestinya melalui bacaan itu kita
berdioalog dan berkomunikasi secara intensif dengan kelompok-kelompok lainnya.
Melalui membaca jurnal atau tulisan kelompok lain, sesungguhnya kita secara
tidak langsung telah melalukan diskusi dan tukar pendapat. Dalam banyak
pendapatnya bisa kita terima, sedangkan sisanya masih bisa dipertimbangkan, ada
sebagian diterima dan sebagian lagi tidak.
Fanatisme buta yang tidak lain merupakan manifestasi dari sikap
sombong telah membelenggu sebagian dari kita sehingga ada kecendrungan untuk
menolak apa saja, termasuk kebenaran dari kelompok lain. Inilah penyakit yang
mestinya harus diperangi oleh generasi Muslim saat ini.
Tradisi ilmiah mengharuskan kita untuk berfikir logis, obyektif, dan
rasional dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Dengan cara berfikir seperti
ini, segala batas, sekat kelompok, dan perbedaan mazhab dapat ditembus.
Fanatisme buta yang menghasilkan taqlid dengan sendirinya dapat dikurangi,
bahkan dihilangkan sama sekali.
Seorang Muslim dengan tradisi ilmiahnya dengan sendirinya dapat
terbebas dari penjara kelompok, mazhab, aliran teologi dan tasawwuf. Ia hanya
berpegang pada ajaran al-Qur'an yang di dalanya Allah Swt telah meletakkan
jalan yang benar sebagai kiblat yang harus dipedomani. Allah berfirman:
"Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman pada kebenaran
tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya." (al-Baqarah:
213)
Semoga kita termasuk golongan yang disebut dalam ayat ini.
__________ NOD32 1862 (20061110) Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com
----------------------------------------------------------------------------
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
----------------------------------------------------------------------------
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.17.19/613 - Release Date: 2/1/2007
12:00 AM
------------------------------------------------------------------------------
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************