25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak

 

Kiat 20 : Doakan untuk Kebaikan, bukan Keburukannya

 

DOA termasuk hal penting yang harus kita pegang teguh. Kita perlu mencari
waktu-waktu terkabulnya doa yang dijelaskan Rasulullah saw. Sebab doa
orangtua akan dikabulkan oleh Allah swt. Dengan doa muatan rasa cinta dan
kasih sayang akan bertambah mekar di dalam hati kedua orangtua. Maka
hendaklah keduanya bermunajat dan memohon kepada Allah agar Dia meluruskan
anaknya dan masa depannya. Itulah Sunnah para nabi dan rasul. Oleh karena
itu mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Sebab hal
ini akan mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya, bahkan kehancuran
orang tua itu sendiri. 

 

Rasulullah saw. melarang para orangtua mendoakan keburukan bagi anaknya
karena hal itu bertentangan dengan akhlak Islam, dengan pendidikan Nabi dan
jauh dari cara Nabi dalam menyeru manusia ke dalam Islam. Rasulullah saw.
saja tidak medoakan kebinasaan bagi orang musyrik Thaif. Beliau bahkan
berdoa, "Aku berharap dari anak keturunan mereka akan ada orang-orang yang
beribadah kepada Allah." Dan ternyata Allah rnewujudkan harapannya.

 

Rasulullah saw. bersabda:

 

"Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian
mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan
keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah kalian mendoakan
keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian (mendoakan keburukan sebab
jika waktu doa kalian) bertepatan dengan saat-saat dikabulnya doa, maka
Allah akan mengabulkan doa kalian (yang buruk itu)" (HR Abu Daud)

 

Imam Ghazali menyebutkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah Bin
Al-Mubarak seraya mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Ibnul-Mubarak
bertanya, "Pernahkah kamu mendoakan keburukan baginya?" la menjawab, "Ya,
pernah." Ibnul-Mubarak mengatakan, "Engkau telah menghancurkannya."

 

Mestinya, daripada Anda menjadi penyebab kehancurannya - dengan mendoakan
keburukan baginya-lebih baik engkau menjadi penyebab kesalehannya dengan
mendoakan kebaikan untuknya. Sebagaimana dilakukan Rasulullah saw., beliau
mendoakan kebaikan kepada anak-anak maka Allah memberikan barokah kepada
mereka di kemudian hari dengan amal saleh, harta, dan anak. Ibnu 'Abbas
-semoga Allah meridhainya- mengatakan, 

 

"Rasulullah saw. memelukku di dadanya seraya berdoa, 'Ya Allah ajarkanlah
padanya hikmah'." (HR Bukhari) 

 

Dalam riwayat lain, bunyi doanya adalah, "Ya Allah ajarkanlah padanya
al-Al-Qur'an ."

 

Dan berkat doa Rasulullah saw. itu Ibnu 'Abbas menjadi habrul-ummah (ulama
yang luas ilmunya) dan turjumanul-Al-Qur'an (pakar al-Al-Qur'an ). 

 

Rasulullah saw. menempuh jalan doa untuk menyelamatkan anak agar tidak
memilih ibunya yang Nasrani dan meninggalkan bapaknya yang muslim. Itu
merupakan pelajaran betapa pentingnya doa, sesuatu yang tidak dimiliki oleh
sistem lain di luar Islam. 'Abdur-Razzaq meriwayatkan dari 'Abdul-Hamid
Al-Anshari dari ayahnya dari kakeknya, bahwa kakeknya masuk Islam sedangkan
isterinya enggan masuk Islam. Maka ia membawa anaknya yang masih kecil dan
belum dewasa. Kemudian Rasulullah saw. menyuruh ayahnya duduk di sini dan
ibunya duduk di sana dan menyuruh si anak untuk memilih. Rasulullah saw.
berdoa, "Ya Allah, berilah dia petunjuk."  Maka si anak pergi (memilih)
bapaknya. (Diriwayat-kan pula oleh Ahmad dan An-Nasai)

 

Durhaka jauh di bawah kekafiran. Namun demikian, berkaitan dengan kekafiran
saja Rasulullah saw. menempuh jalan doa. Karenanya dapat kita katakan bahwa
doa bisa mencerabut akar-akar kedurhakaan jika orangtua melakukannya dengan
ikhlas dan tak kenal henti, bahkan saat bepergian (safar). Imam Muslim
meriwayatkan bahwa Nabi saw. apabila telah duduk tegak di atas kendaraannya,
untuk melakukan safar, bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan:

 

"Maha Suci (Allah) Yang telah memudahkan (perjalanan) ini bagi kami padahal
sebelumnya kami tidak mampu melakukannya. Dan sesungguhnya kami kepada Tuhan
kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, dalam
perjalanan ini, kebaikan dan ketakwaan dan amal yang Engkau ridhai. Ya
Allah, ringankanlah bagi kami perjalanan ini dan dekatkanlah bagi kami jarak
yang jauh. Ya Allah, Engkaulah Yang Menyertai kami dalam perjalanan dan Yang
Mengurusi keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
kepenatan perjalanan, dari pemandangan yang menyedihkan, dan dari keburukan
saat kami kembali, yang menimpa harta, keluarga, dan anak."

 

Para ibu di zaman Rasulullah saw. begitu antusias mendapatkan doa Rasulullah
saw. bagi anak-anak mereka supaya mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan
akhirat. Ummu Sulaim, ibu Anas -semoga Allah meridhainya- meminta kepada
Rasulullah saw. agar mendoakan anaknya lalu beliau pun berdoa untuknya. Ummu
Sulaim berkata, "Wahai Rasulullah, ini pelayanmu, Anas, doakanlah dia." Maka
beliau berdoa, "Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya dan limpahkanlah
barokah dalam segala yang Engkau berikan kepadanya." (Riwayat Bukhari,
Muslim, dan At-Tirmidzi)

 

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Bukhari, Anas mengatakan, "Ibuku
membawaku kepada Rasulullah saw. la memakaikan sarung kepadaku dengan
separuh kerudungnya dan memakaikan baju dengan separuhnya yang lain.
Kemudian ia mengatakan, "Wahai Rasulullah saw. inilah Unais (si Anas kecil)
anakku. Aku membawanya kepadamu agar ia melayanimu. Maka doakanlah dia."
Maka Rasulullah saw. berdoa, "Ya Allah perbanyaklah harta dan anak-nya."
Anas mengatakan, "Demi Allah, hartaku banyak, anak dan cucu-cucuku hari ini
berjumlah kira-kira seratus orang."

 

Dari 'Abdillah Bin Hisyam -semoga Allah meridhainya- bahwa ia dibawa ibunya
kepada Rasu-lullah saw. ketika masih kecil. Maka Rasulullah saw. mengusap
kepalanya dan tidak membai'atnya. Dalam riwayat lain, Rasulullah saw.
mengusap kepalanya dan mendoakannya." (Al-Hakim dalam al-Mustadarak no.
3456)

 

Dari Abu Hamzah Bin 'Abdillah, ia mengatakan,

 

"Aku bertanya kepada Abu 'Abdillah Bin 'Utbah Bin Mas'ud, Apa yang kau ingat
dari Rasulullah saw.?' Dia menjawab, 'Aku masih ingat saat beliau membawaku,
dan usiaku waktu itu lima atau enam tahun, lalu menyuruhku duduk di kamarnya
seraya mengusap kepalaku dan mendoakan barokah untukku dan keturunanku'."
(Al-Hakim)

 

Mungkin ada yang berkata, "Anak memang pembangkang dan tidak patuh kepada
kedua orang tuanya." Jawaban untuk hal itu adalah kelapangan dada Nabi
Ya'qub terhadap anaknya yang mengatakan, "Aku akan mintakan ampun untukmu
kepada Tuhanku."

 

Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In'ikasi
Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa 'Aqlihi) Oleh Muhammad
Rasyid Dimas

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke