Nah, inilah sikap dan jejak langkah mantan Presiden SBY, bukanlah seorang yang 
konsisten dengan apa yang diucapkan, ... bahkan cenderung menghalalkan 
segalanya demi ambisi karier politiknya, untuk KEPENTINGAN PRIBADI nya sendiri! 
Bukankah ada rumor sebelum dengan Ani, SBY sudah penah kawin bahkan sudah ada 2 
putrinya! Belum lagi kasus Bank Century, kasus Hambalang yg sampai sekarang 
belum juga dituntaskan, ... 
Sungguh TIDAK PANTAS menjadi seorang pemimpin bangsa, ...! Mudah-mudahan RAKYAT 
Indonesia menjadi lebih jeli dalam pemilu dan tidak lagi tertipu oleh 
orang-orang macam begini menjadi pemimpin bangsa!

Salam,
ChanCT

Presiden: Perwira TNI-Polri Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur
Selasa, 22 Desember 2009 22:28 WIB | 850.292 Views
Pewarta: handr
 
Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (ANTARA)
Surabaya (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para 
perwira lulusan akademi TNI dan Polri sebaiknya tidak bercita-cita menjadi 
kepala daerah mulai dari tingkat gubernur, bupati, dan walikota.

Dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri di Graha 
Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, Selasa malam, 
Presiden mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang prajurit 
berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian 
yang lebih luas lagi kepada negara. 

"Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya 
ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak 
tepat," ujarnya.

Presiden mengatakan para taruna lulusan TNI dan Polri harus bercita-cita 
menjadi perwira yang berhasil di lingkungannya. 

Namun, dalam mengejar karir menuju pucuk jabatan tertinggi, Kepala Negara 
mengingatkan agar mereka tidak menghalalkan segala cara atau menjatuhkan 
teman-teman sendiri untuk menghilangkan pesaing.

"Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada dinamika, takdir, jalan 
kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya ingin hati dan pikiran 
kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin berbakti dan mengabdi di 
lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira," tuturnya. 

Menurut Kepala Negara, untuk itu Para taruna harus mau bekerja keras dan 
berjuang menjalankan tugas sebaik-baiknya.

"Hanya dengan cara itulah kalian berhasil menghadapi rintangan dan tantangan 
tugas yang tidak ringan," ujarnya. 

Dalam pengarahannya, Presiden Yudhoyono menyampaikan tiga hal penting 
berdasarkan pengalamannya sendiri untuk dipegang para taruna selama perjalanan 
karir mereka.

Tiga hal itu adalah mengemban tugas apa pun di mana pun secara sungguh-sungguh 
dengan selalu memberikan yang terbaik, terus menerus belajar sendiri guna 
meningkatkan kemampuan, serta tidak pernah menyerah dalam mengatasi persoalan.

Bahkan sebagai seorang kepala negara pun, Presiden Yudhoyono mengatakan tiga 
hal itu masih ia pegang teguh hingga sekarang.

Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi dan Polri lulusan tahun 2009 akan menjalani 
pelantikan dan pengucapan sumpah atau prasetya perwira (praspa) di Dermaga 
Ujung, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, pada Rabu 23 Desember 
2009 dalam upacara pelantikan yang dipimpin oleh Presiden Yudhoyono sebagai 
inspektur upacara.

Taruna tersebut terdiri atas 275 taruna akademi militer, 195 taruna akademi 
angkatan laut, 123 aruna angkatan udara, serta 434 taruna akademi polisi dan 65 
taruni akademi polisi.(*) 
Editor: Ruslan Burhani



Pernikahan Pertama SBY Sebelum Masuk Akabri
FEATURED


Ani dan Sus KISAH ini bermula pada tahun 1968, saat seorang anak tentara 
bernama Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil Sus oleh teman dan 
keluarganya, lulusan SMA Negri Pacitan Jawa Timur.

Sus yang sekarang lebih akrab dipanggil SBY kemudian melanjutkan kuliah disalah 
satu universitas negri di kota Surabaya.
Di Surabaya inilah SBY menimba ilmu, dan sebagaimana remaja pada umumnya, 
banyak berkenalan dengan berbagai wanita. Diantaranya para wanita terdapat 
seorang wanita berdarah campuran Jawa-Philipina yang bernama Ida, mereka memadu 
kasih dan berikrar untuk setia sehidup-semati.

Dan pada tahun itu pula mereka melangsungkan pernikahan disebuah kantor catatan 
sipil diJakarta.

Dampak pernikahan tersebut, kuliah Sus pun terganggu dan berantakan, apalagi 
saat itu Sus belum memperoleh penghasilan tetap. Seiring perjalanan mahligai 
rumah-tangganya, Sus dan Ida dikaruniai 2 orang puteri dari perkawinan 
tersebut,yang bernama Adinda dan Devi.

Beban hidup pun semakin terasa beratnya. Kemudian mereka pindah ke Malang, Sus 
melanjutkan pendidikannya, dengan kuliah di-Pendidikan Guru SLP (PGSLP).

~ Masuk Akabri meninggalkan anak dan istri.

Pada tahun 1970 Sus (SBY) mencoba peruntungan nasibnya dengan berniat 
memperbaiki masa depannya dengan mengikuti seleksi menjadi kadet Akabri, 
sekaligus melanjutkan cita-cita masa kecilnya serta memenuhi harapan ayahanda 
nya. Namun apa daya, salah satu persyaratan adalah calon Kadet / Taruna Akabri 
tidak diperbolehkan beristri (status lajang). Sus pun meminta pengertian 
istrinya, Ida agar ihklas untuk ‘Menyembunyikan status perkawinan mereka’ demi 
kelancarannya mengenyam pendidikan agar di Akabri.

Alhasil, SBY akhirnya diterima masuk dan terdaftar di Akabri.

Bak gayung bersambut SBY rupanya menjadi perhatian sebagaian besar pada 
pendidik.

Selain tampan, SBY ternyata adalah Taruna yang cerdas dan pandai mengambil hati 
.

Tak disangka Gubernur Akabri saat itu (alm.Letjend TNI-AD. Sarwo Edi Wibowo) 
pun terpukau dengan kecerdasan dan ketampanannya. Hingga tak jarang SBY dan 
kawan-kawan Tarunanya kerapkali bertandang dan melapor segala sesuatu hal 
kerumah sang jenderal.

Tak terasa, SBY pun rupanya telah melupakan istri dan dua anaknya ketika salah 
satu putri sang jenderal menarik perhatiannya. Apalagi SBY segera mendapat 
‘lampu hijau’ dan direstui untuk berpacaran dengan putri sang jenderal yang 
bernama Christiani yang kini akrab disapa Ani.

~ SBY menikah dengan ANI.

Selesai pendidikan AKABRI pada tahun 1973

SBY tercatat sebagai lulusan terbaik dengan pangkat Letnan Dua.

Dan setahun kemudian, tepatnya tahun 1974 SBY bertunangan dengan Ani yang 
dianggap sebagai “jalan Tuhan” yang harus dia tempuh kalau karir militernya mau 
lancar dan bersinar.

Tahun 1976 SBY pun akhirnya secara resmi menikahi Ani dengan ‘Status Bujangan’.

Entah setan apa yang waktu itu menguasainya, sehingga istri dan kedua anaknya 
seolah dianggap tidak pernah ada.

Bahkan hingga ke 2 puteri nya membutuhkan tunjangan hidup mereka sehari-hari 
pun tidak pernah dimasukkan dalam daftar tanggungan keluarga anggota TNI-AD.

Selang beberapa tahun kemudian pada saat SBY dan Ani sudah dikarunia seorang 
anak laki-laki bernama Agus Hari Murti, saat itulah keberanian SBY muncul untuk 
berterus terang tentang kebohongan nya selama ini pada Ani, dengan mengatakan 
bahwa sebelumnya dia sudah pernah menikah dan sudah punya 2 orang puteri.

Bak disambar petir di siang bolong Ani kaget, terkejut, marah, panik dan 
frustasi.

Bahkan mahligai rumah tangga nya pun, gonjang ganjing terancam bubar.

Namun turut campurnya peran fihak keluarga mereka yang segera turun tangan demi 
menyelamatkan karir dan rumah tangga, serta nama besar keluarga, SBY diharuskan 
segera menceraikan istri pertama.

SBY pun segera menceraikan Ida dan berjanji untuk bertanggung jawab soal 
kehidupan kedua puteri nya. Namun untuk mendapat santunan hidup sebagai jaminan 
masa depan itu Ida harus bersedia menerima kesepakatan bahwa mereka tidak akan 
menuntut status sebagai mantan istri dan anak-anak kandung SBY sampai kapanpun.

Ida pun kemudian menikah lagi dengan WNA Jerman dan bermukim di Jerman.

Sementara Dinda dan Devi tetap di Indonesia bersama keluarga ibunya yang 
tinggal diJakarta.

Dan waktu pun berjalan terus, sebagai tentara cerdas sekaligus menantu seorang 
jenderal saat itu, karir SBY pun semakin bersinar. Problema rumah tangga 
terlewati sudah, kebahagiaan rumah tangganya dengan Ani bahkan semakin 
bertambah dengan hadirnya anak laki-laki ke 2 yang diberi nama Edhi Baskoro.

~ Kekecewaan ADINDA dan DEVI

Tahun 1990 sewaktu SBY menjabat Kepala Staff Teritorial TNI-AD, Adinda memohon 
kepada SBY agar sebagai ayah bersedia menjadi wali nikahnya. Karena saat itu 
Adinda sendiri akan dipersunting seorang pria pujaannya yang bernama Danang, 
putera dari Ir. H. Lukman Hakim (mantan Kepala Divisi Produksi Pertamina).

SBY pun tak keberatan, bahkan pernikahan dilangsungkan dirumah dinas SBY 
diCilangkap secara sederhana.

Namun kebahagiaan Adinda mendadak sirna ketika SBY ternyata tetap tidak mau 
mengakuinya sebagai anak. Karena pada para tamu SBY mengaku bahwa Adinda adalah 
keponakannya. Adinda sangat terluka saat itu. Devi sang adik juga yang 
mendengar perkataan SBY pun sangat sedih.

Meski terikat janji sang bunda (Ida) bahwa mereka tidak akan menuntut status.

Namun tentulah Adinda dan Devi ingin mendapatkan kasih sayang seorang ayahanda.

Mengapa sang ayah (SBY) begitu tega memutar-balikkan fakta, dengan mengatakan 
mereka hanya keponakan ?

Adinda dan Devi pun akhirnya sadar, mereka bukan siapa-siapa, mereka sedih tak 
berdaya, namun hati nurani selalu bertanya, bukankah mereka juga anak yang sah 
? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan pengakuan sebagaimana layaknya 
seorang anak ?

Ironisnya, inisial mereka berdua, Adinda dan Devi, juga tak tertulis dalam 
riwayat hidup sang ayah (SBY), saat tampil mencalonkan diri sebagai Capres 2004.

Dan saat arsip dinas dan kenegaraan juga tak pernah mencantumkan nama mereka, 
Adinda dan Devi harus bisa menerima kenyataan tersebut. Namun pada saat hak 
azasi mereka terus dikucilkan secara tak wajar dari sebagaimana layaknya 
kepribadian seseorang yang kini jadi figur kepemimpinan sebuah bangsa.

Jelas saja, melahirkan protes yang selama ini terkubur dalam-dalam oleh 2 
puteri yang kerap teraniaya .

Apalagi semua harta ayah mereka dikuasai atas nama ibu tirinya, ibu Ani, yang 
membuat mereka tidak bisa menerima lagi semua kenyataan ini.

~ ADINDA menggugat ayahnya

Janji untuk menjamin masa depan sebagai komitmen keluarga pasca perceraian 
ibunya. ternyata juga jarang mereka dapatkan. Akibatnya Adinda memberanikan 
diri menggugat ayahnya secara perdata dengan menyewa pengacara dalam pembagian 
harta gono gini.

Di pengadilan Adinda memenangkan perkara dan memperoleh dua rumah di 
Pondok-Indah dan menteng Jakarta pusat, kedua rumah tersebut tidak mereka 
tempati dan dkontrakkan saja hingga saat ini.

Saat ini Adinda hidup sebagai orang biasa yang jauh dari publitas media, 
tinggal bersama suami dan anak-anakya dikawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. 
Adinda adalah alumni Universitas Trisakti dan bekerja sebagai konsultan pada 
sebuah perusahaan pertambangan. Suaminya Danang Bin H.Ir Lukman Hakim, pegawai 
di Kementerian Pertahanan sebagai Kepala Litbang. Mereka hidup rukun dan banyak 
dibimbing oleh pamannya Dr. Sofyan Sauri (adik dari Lukman Hakim). Sedangkan 
adiknya Devi tinggal di Amerika-Serikat namun tidak banyak diketahui 
aktifitasnya dan kehidupannya saat ini.

~ Janji Ibu ANI kepada ADINDA

Dan pada saat SBY membutuhkan dukungan pencitraan menjelang Pilpres 2004 dan 
2009 ibu Ani sering kali menghubungi via telepon pada Adinda dan ibunya di 
Jerman, agar tidak usah mengungkap dan meributkan status mereka di dalam 
keluarga SBY. Karena Ani sangat kawatir jika masalah itu bisa mempengaruhi 
popularitas dan citra SBY, lebih -lebih saat menghadapi Pilpres.

Ibu Ani menjanjikan bahwa status mereka akan diselesaikan dan diungkap setelah 
SBY tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik-Indonesia. Mereka secara 
resmi akan dicantumkan dalam daftar keluarga SBY.

Maka untuk saat ini mereka disarankan untuk tetap bersabar sebelum dicantumkan 
sebagai anak kandung dalam daftar keluarga secara resmi.

~ TUTUP KASUS ITU , BERAPA PUN BIAYA NYA

SBY sangat sensitif dalam menanggapi setiap berita ataupun pernyataan dari 
beberapa sumber yang mengungkit masalah ini. Terhadap siapapun yang 
mempersoalkan hal tersebut. SBY langsung menugaskan TIM dan para intelnya untuk 
membungkam.

Masyarakat mungkin sudah lupa dengan pernyataan anggota DPR-RI Zainal Maarif 
yang sudah melaporkan kasus pernikahan SBY tersebut. Setelah didekati Zainal 
Maarif belakangan mencabut laporan dan meminta maaf. Dan aneh dia bahkan 
diangkat menjadi Kader Partai Demokrat dan mendapat fasilitas signifikan.

Demikian juga Jenderal TNI (purn) R.Hartono yang pernah mengungkap masalah 
pernikahan tersebut, ditaklukkannya dengan pendekatan-pendekatan material 
finansial dan ancaman pengungkapan rahasianya. TIM SBY juga sudah tak terhitung 
berapa kali melakukan operasi media dengan membungkam media massa dengan dana 
yang sangat besar.

Dibalik potret keluarga ideal Kepala Negara ternyata tersimpan kisah 
‘Penghianatan Cinta, Kasih dan Sayang’. Kebohongan yang dilakukan bukan hanya 
dilakukan terhadap keluarga, tetapi terhadap seluruh Rakyat, Korps TNI-AD, 
Bangsa dan Negara. Namun pengungkapan kebohongan dan penghianatan ini selalu 
harus berhadapan dengan kekuasaan, sebagian besar berhasil disumpal dengan uang 
dan kuasa, selebihnya tiarap karena juga akan diungkap balik rahasia dan 
kejahatannya.

Setelah “Drama Century” dan “Sinetron Nazaruddin” , akankah sepenggal kisah 
keluarga, yang pantas diindikasikan sebagai ‘PETUALANG PENJAHAT KELAMIN’ akan 
kah menjadi pelajaran bagi rakyat Indonesia ? ataukah hanya akan menjadi 
hiburan ala sinetron di tengah kesulitan hidup rakyat jelata ?

Salam Kejujuran Anak negeri,

SELANGKAH MAJU PANTANG TUK RAGU !

Oleh : ” Rakyat Bersatu ”

Siapa orang tua kandung SBY yang sesungguhnya Raden Soekotjo atau ‘Supriadi’ 
kah..?

Bila terungkap Kebohongan SBY pra terdaftar sebagai Taruna AKABRI. maka ibu Ani 
adalah istri kedua SBY

Sumber:
https://skandalindonesia.wordpress.com/2013/04/13/pernikahan-pertama-sb 
[truncated by WhatsApp]

Kirim email ke