Pameo orang Padang merngatakan: "Berkilat ikan dalam air, sudah bisa ditebak jantan atau betina". Begitupun dengan SBY. Sebenarnya dengan mengajukan anaknya untuk maju menjadi Cagub..........lalu barangkali kelak jadi Capres.......itu hanya menunjukkan bahwa SBY gelo (Bahasa Jawa=kecewa) nongkrong menjadi Presiden masa lalu cuma 2 termen. Maunya kan seperti Soeharto sampai puluhan tahun bisa ngangkangi Indonesia.Cuma SBY lupa, dia jadi presiden sebagai mantan Jenderal Militer, sedang Soeharto jadi presiden masih  jenderal aktif, punya bedil punya bayonet dan punya "keberanian" untuk menggebug "nyang nggak sukak" kepadanya.........!Jadi SBY cuma bisa menggunakan Agus anaknya, apa boleh buat. Nafsu besar tenaga kurang, serupa tapi tidak sama bukan?

------ Original Message ------
From: "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To: "Gelora45" <[email protected]>; "Chalik Hamid" <[email protected]>
Sent: Sunday, 25 Sep, 2016 At 3:28 PM
Subject: Re: [GELORA45] Trs: [nasional-list] Presiden: Perwira TNI-Polri Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur ; Pernikahan Pertama SBY Sebelum Masuk Akabri
    
  
      
                    

Ibas sudah abis ?
Kalau tidak sekarang Agus ditonjolkan, SBY tidak bisa bikin dynasti.
Untuk supaya tidak dikatakan SBY menjilat ludahnya sendiri, lalu dibikin cerita kalau Agus punya cedra otot punggung waktu latihan kemiliteran, jadi pasti gagal di kemudian hari klau sudah jadi kolonel mau jadi jendral. Waktu test fisik lari2 pasti gagal. Jadi dibikin alasan mengapa pindah karrier. supaya SBY tidak dituduh menjilat ludahnya sendiri. Sekarang Agus mulai dipopulerkan, untuk hari kemudian ikut jadi calon presiden. Jadi dynastie jalan terus.... SBY ahli strategi : Sudah kawin masuk AKABRI. Supaya tidak dipecat, ya macari anaknya Sarwo Edhie, yang jadi kepala AKABRI., dst.nya........


2016-09-25 6:48 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> >:
               
    
  
      
                    

Lain di mulut lain di hati. Ini pepatah lama yang masih terus aktuil. Itulah yang dilakukan oleh SBY dalam membangun dirinya. Dia mengatakan perwira TNI-Polri jangan bercita-cita jadi Gubernur. Apa kenyataannya??? Kini SBY menjilat ludah yang sudah dia buang. Dia bilang TNI jangan bercita-cita menjadi Gubernur, tetapi sekarang dia berusaha menjadikan anaknya Agus Hari Murti untuk menjadi Gubernur DKI dengan mencopotnya dari TNI. Memang kalau pun nanti Agus tidak menang menjadi Gubernur dan sudah pula keluar dari TNI, Agus tak perlu gelisah. Kekayaan SBY-ibu Ani sudah tersedia untuk dikendalikan putra tercinta ini. Bukan hanya sampai disitu, pintu Partai Demokrat juga sudah terbuka untuk dimasuki oleh Agus, yang dianggap masih bersih. Beda dengan putra ke duanya Ibas yang menurut kabar sudah menjadi incaran KPK karena terlibat dalam korupsi. Jadi, khusus untuk pak SBY ini, pepatah lama masih tetap berlaku: Bagaimana pun menutupi bangkai, baunya akan tercium.
Slm: Chalik Hamid.


  



Pada Minggu, 25 September 2016 4:11, "'Chan CT' [email protected] <mailto:[email protected]> [nasional-list]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > menulis:
  


    
  
      
                    
  

Nah, inilah sikap dan jejak langkah mantan  Presiden SBY, bukanlah seorang yang konsisten dengan apa yang diucapkan, ...  bahkan cenderung menghalalkan segalanya demi ambisi karier politiknya, untuk  KEPENTINGAN PRIBADI nya sendiri! Bukankah ada rumor sebelum dengan Ani, SBY  sudah penah kawin bahkan sudah ada 2 putrinya! Belum lagi kasus Bank Century,  kasus Hambalang yg sampai sekarang belum juga dituntaskan, ...   Sungguh TIDAK PANTAS menjadi seorang pemimpin  bangsa, ...! Mudah-mudahan RAKYAT Indonesia menjadi lebih jeli dalam pemilu dan  tidak lagi tertipu oleh orang-orang macam begini menjadi pemimpin  bangsa!
 

Salam,

ChanCT
   Presiden: Perwira  TNI-Polri Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur
Selasa, 22 Desember 2009  22:28 WIB | 850.292  Views

<http://www.antaranews.com/berita/166820/presiden-perwira-tni-polri-jangan-bercita-cita-jadi-gubernur>
Pewarta: handr


  
Presiden, Susilo Bambang  Yudhoyono (ANTARA)



Surabaya (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  mengingatkan para perwira lulusan akademi TNI dan Polri sebaiknya tidak  bercita-cita menjadi kepala daerah mulai dari tingkat gubernur, bupati, dan  walikota. Dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri  di Graha Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya,  Selasa malam, Presiden mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang  prajurit berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi  pengabdian yang lebih luas lagi kepada negara.  "Yang tidak benar kalau kalian  memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota,  gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat," ujarnya. Presiden  mengatakan para taruna lulusan TNI dan Polri harus bercita-cita menjadi perwira  yang berhasil di lingkungannya.  Namun, dalam mengejar karir  menuju pucuk jabatan tertinggi, Kepala Negara mengingatkan agar mereka tidak  menghalalkan segala cara atau menjatuhkan teman-teman sendiri untuk  menghilangkan pesaing. "Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada  dinamika, takdir, jalan kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya  ingin hati dan pikiran kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin  berbakti dan mengabdi di lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira,"  tuturnya.  Menurut Kepala  Negara, untuk itu Para taruna harus mau bekerja keras dan berjuang menjalankan  tugas sebaik-baiknya. "Hanya dengan cara itulah kalian berhasil  menghadapi rintangan dan tantangan tugas yang tidak ringan," ujarnya.  Dalam pengarahannya, Presiden  Yudhoyono menyampaikan tiga hal penting berdasarkan pengalamannya sendiri untuk  dipegang para taruna selama perjalanan karir mereka. Tiga hal itu adalah  mengemban tugas apa pun di mana pun secara sungguh-sungguh dengan selalu  memberikan yang terbaik, terus menerus belajar sendiri guna meningkatkan  kemampuan, serta tidak pernah menyerah dalam mengatasi persoalan. Bahkan  sebagai seorang kepala negara pun, Presiden Yudhoyono mengatakan tiga hal itu  masih ia pegang teguh hingga sekarang. Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi  dan Polri lulusan tahun 2009 akan menjalani pelantikan dan pengucapan sumpah  atau prasetya perwira (praspa) di Dermaga Ujung, Markas Komando Armada Kawasan  Timur, Surabaya, pada Rabu 23 Desember 2009 dalam upacara pelantikan yang  dipimpin oleh Presiden Yudhoyono sebagai inspektur upacara. Taruna  tersebut terdiri atas 275 taruna akademi militer, 195 taruna akademi angkatan  laut, 123 aruna angkatan udara, serta 434 taruna akademi polisi dan 65 taruni  akademi polisi.(*)
Editor: Ruslan Burhani

 

Pernikahan Pertama SBY  Sebelum Masuk Akabri
FEATURED

Ani dan Sus KISAH ini bermula pada tahun  1968, saat seorang anak tentara bernama Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab  dipanggil Sus oleh teman dan keluarganya, lulusan SMA Negri Pacitan Jawa  Timur.

Sus yang sekarang lebih akrab dipanggil SBY  kemudian melanjutkan kuliah disalah satu universitas negri di kota  Surabaya. Di Surabaya inilah SBY menimba ilmu, dan sebagaimana remaja pada  umumnya, banyak berkenalan dengan berbagai wanita. Diantaranya para wanita  terdapat seorang wanita berdarah campuran Jawa-Philipina yang bernama Ida,  mereka memadu kasih dan berikrar untuk setia sehidup-semati.

Dan pada tahun itu pula mereka melangsungkan  pernikahan disebuah kantor catatan sipil diJakarta.

Dampak pernikahan tersebut, kuliah Sus pun  terganggu dan berantakan, apalagi saat itu Sus belum memperoleh penghasilan  tetap. Seiring perjalanan mahligai rumah-tangganya, Sus dan Ida dikaruniai 2  orang puteri dari perkawinan tersebut,yang bernama Adinda dan Devi.

Beban hidup pun semakin terasa beratnya.  Kemudian mereka pindah ke Malang, Sus melanjutkan pendidikannya, dengan kuliah  di-Pendidikan Guru SLP (PGSLP).

~ Masuk Akabri meninggalkan anak dan  istri.

Pada tahun 1970 Sus (SBY) mencoba peruntungan  nasibnya dengan berniat memperbaiki masa depannya dengan mengikuti seleksi  menjadi kadet Akabri, sekaligus melanjutkan cita-cita masa kecilnya serta  memenuhi harapan ayahanda nya. Namun apa daya, salah satu persyaratan adalah  calon Kadet / Taruna Akabri tidak diperbolehkan beristri (status lajang). Sus  pun meminta pengertian istrinya, Ida agar ihklas untuk ‘Menyembunyikan status  perkawinan mereka’ demi kelancarannya mengenyam pendidikan agar di  Akabri.

Alhasil, SBY akhirnya diterima masuk dan  terdaftar di Akabri.

Bak gayung bersambut SBY rupanya menjadi  perhatian sebagaian besar pada pendidik.

Selain tampan, SBY ternyata adalah Taruna yang  cerdas dan pandai mengambil hati .

Tak disangka Gubernur Akabri saat itu  (alm.Letjend TNI-AD. Sarwo Edi Wibowo) pun terpukau dengan kecerdasan dan  ketampanannya. Hingga tak jarang SBY dan kawan-kawan Tarunanya kerapkali  bertandang dan melapor segala sesuatu hal kerumah sang jenderal.

Tak terasa, SBY pun rupanya telah melupakan  istri dan dua anaknya ketika salah satu putri sang jenderal menarik  perhatiannya. Apalagi SBY segera mendapat ‘lampu hijau’ dan direstui untuk  berpacaran dengan putri sang jenderal yang bernama Christiani yang kini akrab  disapa Ani.

~ SBY menikah dengan ANI.

Selesai pendidikan AKABRI pada tahun  1973

SBY tercatat sebagai lulusan terbaik dengan  pangkat Letnan Dua.

Dan setahun kemudian, tepatnya tahun 1974 SBY  bertunangan dengan Ani yang dianggap sebagai “jalan Tuhan” yang harus dia tempuh  kalau karir militernya mau lancar dan bersinar.

Tahun 1976 SBY pun akhirnya secara resmi  menikahi Ani dengan ‘Status Bujangan’.

Entah setan apa yang waktu itu menguasainya,  sehingga istri dan kedua anaknya seolah dianggap tidak pernah ada.

Bahkan hingga ke 2 puteri nya membutuhkan  tunjangan hidup mereka sehari-hari pun tidak pernah dimasukkan dalam daftar  tanggungan keluarga anggota TNI-AD.

Selang beberapa tahun kemudian pada saat SBY dan  Ani sudah dikarunia seorang anak laki-laki bernama Agus Hari Murti, saat itulah  keberanian SBY muncul untuk berterus terang tentang kebohongan nya selama ini  pada Ani, dengan mengatakan bahwa sebelumnya dia sudah pernah menikah dan sudah  punya 2 orang puteri.

Bak disambar petir di siang bolong Ani kaget,  terkejut, marah, panik dan frustasi.

Bahkan mahligai rumah tangga nya pun, gonjang  ganjing terancam bubar.

Namun turut campurnya peran fihak keluarga  mereka yang segera turun tangan demi menyelamatkan karir dan rumah tangga, serta  nama besar keluarga, SBY diharuskan segera menceraikan istri pertama.

SBY pun segera menceraikan Ida dan berjanji  untuk bertanggung jawab soal kehidupan kedua puteri nya. Namun untuk mendapat  santunan hidup sebagai jaminan masa depan itu Ida harus bersedia menerima  kesepakatan bahwa mereka tidak akan menuntut status sebagai mantan istri dan  anak-anak kandung SBY sampai kapanpun.

Ida pun kemudian menikah lagi dengan WNA Jerman  dan bermukim di Jerman.

Sementara Dinda dan Devi tetap di Indonesia  bersama keluarga ibunya yang tinggal diJakarta.

Dan waktu pun berjalan terus, sebagai tentara  cerdas sekaligus menantu seorang jenderal saat itu, karir SBY pun semakin  bersinar. Problema rumah tangga terlewati sudah, kebahagiaan rumah tangganya  dengan Ani bahkan semakin bertambah dengan hadirnya anak laki-laki ke 2 yang  diberi nama Edhi Baskoro.

~ Kekecewaan ADINDA dan DEVI

Tahun 1990 sewaktu SBY menjabat Kepala Staff  Teritorial TNI-AD, Adinda memohon kepada SBY agar sebagai ayah bersedia menjadi  wali nikahnya. Karena saat itu Adinda sendiri akan dipersunting seorang pria  pujaannya yang bernama Danang, putera dari Ir. H. Lukman Hakim (mantan Kepala  Divisi Produksi Pertamina).

SBY pun tak keberatan, bahkan pernikahan  dilangsungkan dirumah dinas SBY diCilangkap secara sederhana.

Namun kebahagiaan Adinda mendadak sirna ketika  SBY ternyata tetap tidak mau mengakuinya sebagai anak. Karena pada para tamu SBY  mengaku bahwa Adinda adalah keponakannya. Adinda sangat terluka saat itu. Devi  sang adik juga yang mendengar perkataan SBY pun sangat sedih.

Meski terikat janji sang bunda (Ida) bahwa  mereka tidak akan menuntut status.

Namun tentulah Adinda dan Devi ingin mendapatkan  kasih sayang seorang ayahanda.

Mengapa sang ayah (SBY) begitu tega  memutar-balikkan fakta, dengan mengatakan mereka hanya keponakan ?

Adinda dan Devi pun akhirnya sadar, mereka bukan  siapa-siapa, mereka sedih tak berdaya, namun hati nurani selalu bertanya,  bukankah mereka juga anak yang sah ? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan  pengakuan sebagaimana layaknya seorang anak ?

Ironisnya, inisial mereka berdua, Adinda dan  Devi, juga tak tertulis dalam riwayat hidup sang ayah (SBY), saat tampil  mencalonkan diri sebagai Capres 2004.

Dan saat arsip dinas dan kenegaraan juga tak  pernah mencantumkan nama mereka, Adinda dan Devi harus bisa menerima kenyataan  tersebut. Namun pada saat hak azasi mereka terus dikucilkan secara tak wajar  dari sebagaimana layaknya kepribadian seseorang yang kini jadi figur  kepemimpinan sebuah bangsa.

Jelas saja, melahirkan protes yang selama ini  terkubur dalam-dalam oleh 2 puteri yang kerap teraniaya .

Apalagi semua harta ayah mereka dikuasai atas  nama ibu tirinya, ibu Ani, yang membuat mereka tidak bisa menerima lagi semua  kenyataan ini.

~ ADINDA menggugat ayahnya

Janji untuk menjamin masa depan sebagai komitmen  keluarga pasca perceraian ibunya. ternyata juga jarang mereka dapatkan.  Akibatnya Adinda memberanikan diri menggugat ayahnya secara perdata dengan  menyewa pengacara dalam pembagian harta gono gini.

Di pengadilan Adinda memenangkan perkara dan  memperoleh dua rumah di Pondok-Indah dan menteng Jakarta pusat, kedua rumah  tersebut tidak mereka tempati dan dkontrakkan saja hingga saat ini.

Saat ini Adinda hidup sebagai orang biasa yang  jauh dari publitas media, tinggal bersama suami dan anak-anakya dikawasan  Jagakarsa, Jakarta Selatan. Adinda adalah alumni Universitas Trisakti dan  bekerja sebagai konsultan pada sebuah perusahaan pertambangan. Suaminya Danang  Bin H.Ir Lukman Hakim, pegawai di Kementerian Pertahanan sebagai Kepala Litbang.  Mereka hidup rukun dan banyak dibimbing oleh pamannya Dr. Sofyan Sauri (adik  dari Lukman Hakim). Sedangkan adiknya Devi tinggal di Amerika-Serikat namun  tidak banyak diketahui aktifitasnya dan kehidupannya saat ini.

~ Janji Ibu ANI kepada ADINDA

Dan pada saat SBY membutuhkan dukungan  pencitraan menjelang Pilpres 2004 dan 2009 ibu Ani sering kali menghubungi via  telepon pada Adinda dan ibunya di Jerman, agar tidak usah mengungkap dan  meributkan status mereka di dalam keluarga SBY. Karena Ani sangat kawatir jika  masalah itu bisa mempengaruhi popularitas dan citra SBY, lebih -lebih saat  menghadapi Pilpres.

Ibu Ani menjanjikan bahwa status mereka akan  diselesaikan dan diungkap setelah SBY tidak lagi menjabat sebagai Presiden  Republik-Indonesia. Mereka secara resmi akan dicantumkan dalam daftar keluarga  SBY.

Maka untuk saat ini mereka disarankan untuk  tetap bersabar sebelum dicantumkan sebagai anak kandung dalam daftar keluarga  secara resmi.

~ TUTUP KASUS ITU , BERAPA PUN BIAYA  NYA

SBY sangat sensitif dalam menanggapi setiap  berita ataupun pernyataan dari beberapa sumber yang mengungkit masalah ini.  Terhadap siapapun yang mempersoalkan hal tersebut. SBY langsung menugaskan TIM  dan para intelnya untuk membungkam.

Masyarakat mungkin sudah lupa dengan pernyataan  anggota DPR-RI Zainal Maarif yang sudah melaporkan kasus pernikahan SBY  tersebut. Setelah didekati Zainal Maarif belakangan mencabut laporan dan meminta  maaf. Dan aneh dia bahkan diangkat menjadi Kader Partai Demokrat dan mendapat  fasilitas signifikan.

Demikian juga Jenderal TNI (purn) R.Hartono yang  pernah mengungkap masalah pernikahan tersebut, ditaklukkannya dengan  pendekatan-pendekatan material finansial dan ancaman pengungkapan rahasianya.  TIM SBY juga sudah tak terhitung berapa kali melakukan operasi media dengan  membungkam media massa dengan dana yang sangat besar.

Dibalik potret keluarga ideal Kepala Negara  ternyata tersimpan kisah ‘Penghianatan Cinta, Kasih dan Sayang’. Kebohongan yang  dilakukan bukan hanya dilakukan terhadap keluarga, tetapi terhadap seluruh  Rakyat, Korps TNI-AD, Bangsa dan Negara. Namun pengungkapan kebohongan dan  penghianatan ini selalu harus berhadapan dengan kekuasaan, sebagian besar  berhasil disumpal dengan uang dan kuasa, selebihnya tiarap karena juga akan  diungkap balik rahasia dan kejahatannya.

Setelah “Drama Century” dan “Sinetron  Nazaruddin” , akankah sepenggal kisah keluarga, yang pantas diindikasikan  sebagai ‘PETUALANG PENJAHAT KELAMIN’ akan kah menjadi pelajaran bagi rakyat  Indonesia ? ataukah hanya akan menjadi hiburan ala sinetron di tengah kesulitan  hidup rakyat jelata ?

Salam Kejujuran Anak negeri,

SELANGKAH MAJU PANTANG TUK RAGU !

Oleh : ” Rakyat Bersatu ”

Siapa orang tua kandung SBY yang sesungguhnya  Raden Soekotjo atau ‘Supriadi’ kah..?

Bila terungkap Kebohongan SBY pra terdaftar  sebagai Taruna AKABRI. maka ibu Ani adalah istri kedua SBY

Sumber:
https://skandalindonesia.wordpress.com/2013/04/13/pernikahan-pertama-sb  [truncated <https://skandalindonesia.wordpress.com/2013/04/13/pernikahan-pertama-sb%20%5Btruncated> by  WhatsApp]

      
                

  


  

  

      
                
  
            



      
                

                

Kirim email ke