Tapi, ... masalah SERIUS yang dihadapi bangsa ini, bagaimana kalau kenyataan 
BENAR SBY telah menikah dan punya 2 anak sebelum masuk AKABRI??? Jadi JELAS 
gelar jenderal yang dirahnya itu merupakan PELANGGARAN ketentuan AKABRI dengan 
jalan PENIPUAN! Apa tidak perlu dicabut dan diBATALKAN? Atau mungkin ada sanksi 
HUKUM lainnya?

Salam,
ChanCT


From: Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 4:53 PM
To: [email protected] 
Subject: Re: [GELORA45] Trs: [nasional-list] Presiden: Perwira TNI-Polri Jangan 
Bercita-cita Jadi Gubernur ; Pernikahan Pertama SBY Sebelum Masuk Akabri

  
Pameo orang Padang merngatakan: "Berkilat ikan dalam air, sudah bisa ditebak 
jantan atau betina". Begitupun dengan SBY. Sebenarnya dengan mengajukan anaknya 
untuk maju menjadi Cagub..........lalu barangkali kelak jadi Capres.......itu 
hanya menunjukkan bahwa SBY gelo (Bahasa Jawa=kecewa) nongkrong menjadi 
Presiden masa lalu cuma 2 termen. Maunya kan seperti Soeharto sampai puluhan 
tahun bisa ngangkangi Indonesia.Cuma SBY lupa, dia jadi presiden sebagai mantan 
Jenderal Militer, sedang Soeharto jadi presiden masih  jenderal aktif, punya 
bedil punya bayonet dan punya "keberanian" untuk menggebug "nyang nggak sukak" 
kepadanya.........!Jadi SBY cuma bisa menggunakan Agus anaknya, apa boleh buat. 
Nafsu besar tenaga kurang, serupa tapi tidak sama bukan? 





  ------ Original Message ------
  From: "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
  To: "Gelora45" <[email protected]>; "Chalik Hamid" 
<[email protected]>
  Sent: Sunday, 25 Sep, 2016 At 3:28 PM
  Subject: Re: [GELORA45] Trs: [nasional-list] Presiden: Perwira TNI-Polri 
Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur ; Pernikahan Pertama SBY Sebelum Masuk Akabri

      
    
        
                      
  Ibas sudah abis ?
  Kalau tidak sekarang Agus ditonjolkan, SBY tidak bisa bikin dynasti.
  Untuk supaya tidak dikatakan SBY menjilat ludahnya sendiri, lalu dibikin 
cerita kalau Agus punya cedra otot punggung waktu latihan kemiliteran, jadi 
pasti gagal di kemudian hari klau sudah jadi kolonel mau jadi jendral. Waktu 
test fisik lari2 pasti gagal. Jadi dibikin alasan mengapa pindah karrier. 
supaya SBY tidak dituduh menjilat ludahnya sendiri.
  Sekarang Agus mulai dipopulerkan, untuk hari kemudian ikut jadi calon 
presiden. Jadi dynastie jalan terus....
  SBY ahli strategi : Sudah kawin masuk AKABRI. Supaya tidak dipecat, ya macari 
anaknya Sarwo Edhie, yang jadi kepala AKABRI., dst.nya........

  2016-09-25 6:48 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

                  
        
      
          
                        
    Lain di mulut lain di hati. Ini pepatah lama yang masih terus aktuil. 
Itulah yang dilakukan oleh SBY dalam membangun dirinya. Dia mengatakan perwira 
TNI-Polri jangan bercita-cita jadi Gubernur. Apa kenyataannya??? Kini SBY 
menjilat ludah yang sudah dia buang. Dia bilang TNI jangan bercita-cita menjadi 
Gubernur, tetapi sekarang dia berusaha menjadikan anaknya Agus Hari Murti untuk 
menjadi Gubernur DKI dengan mencopotnya dari TNI. Memang kalau pun nanti Agus 
tidak menang menjadi Gubernur dan sudah pula keluar dari TNI, Agus tak perlu 
gelisah. Kekayaan SBY-ibu Ani sudah tersedia untuk dikendalikan putra tercinta 
ini. Bukan hanya sampai disitu, pintu Partai Demokrat juga sudah terbuka untuk 
dimasuki oleh Agus, yang dianggap masih bersih. Beda dengan putra ke duanya 
Ibas yang menurut kabar sudah menjadi incaran KPK karena terlibat dalam korupsi.
    Jadi, khusus untuk pak SBY ini, pepatah lama masih tetap berlaku: Bagaimana 
pun menutupi bangkai, baunya akan tercium.
    Slm: Chalik Hamid.



      
    Pada Minggu, 25 September 2016 4:11, "'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:

     


        
      
          
                        

    Nah, inilah sikap dan jejak langkah mantan  Presiden SBY, bukanlah seorang 
yang konsisten dengan apa yang diucapkan, ...  bahkan cenderung menghalalkan 
segalanya demi ambisi karier politiknya, untuk  KEPENTINGAN PRIBADI nya 
sendiri! Bukankah ada rumor sebelum dengan Ani, SBY  sudah penah kawin bahkan 
sudah ada 2 putrinya! Belum lagi kasus Bank Century,  kasus Hambalang yg sampai 
sekarang belum juga dituntaskan, ...  
    Sungguh TIDAK PANTAS menjadi seorang pemimpin  bangsa, ...! Mudah-mudahan 
RAKYAT Indonesia menjadi lebih jeli dalam pemilu dan  tidak lagi tertipu oleh 
orang-orang macam begini menjadi pemimpin  bangsa!

    Salam,
    ChanCT

    Presiden: Perwira  TNI-Polri Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur
    Selasa, 22 Desember 2009  22:28 WIB | 850.292  Views
    Pewarta: handr
       
    Presiden, Susilo Bambang  Yudhoyono (ANTARA)
    Surabaya (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  mengingatkan 
para perwira lulusan akademi TNI dan Polri sebaiknya tidak  bercita-cita 
menjadi kepala daerah mulai dari tingkat gubernur, bupati, dan  walikota.

    Dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri  di Graha 
Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya,  Selasa 
malam, Presiden mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang  prajurit 
berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi  pengabdian 
yang lebih luas lagi kepada negara. 

    "Yang tidak benar kalau kalian  memasuki akademi TNI Polisi lantas 
cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota,  gubernur, pengusaha, dan 
lain-lain. Tidak tepat," ujarnya.

    Presiden  mengatakan para taruna lulusan TNI dan Polri harus bercita-cita 
menjadi perwira  yang berhasil di lingkungannya. 

    Namun, dalam mengejar karir  menuju pucuk jabatan tertinggi, Kepala Negara 
mengingatkan agar mereka tidak  menghalalkan segala cara atau menjatuhkan 
teman-teman sendiri untuk  menghilangkan pesaing.

    "Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada  dinamika, takdir, jalan 
kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya  ingin hati dan pikiran 
kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin  berbakti dan mengabdi di 
lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira,"  tuturnya. 

    Menurut Kepala  Negara, untuk itu Para taruna harus mau bekerja keras dan 
berjuang menjalankan  tugas sebaik-baiknya.

    "Hanya dengan cara itulah kalian berhasil  menghadapi rintangan dan 
tantangan tugas yang tidak ringan," ujarnya. 

    Dalam pengarahannya, Presiden  Yudhoyono menyampaikan tiga hal penting 
berdasarkan pengalamannya sendiri untuk  dipegang para taruna selama perjalanan 
karir mereka.

    Tiga hal itu adalah  mengemban tugas apa pun di mana pun secara 
sungguh-sungguh dengan selalu  memberikan yang terbaik, terus menerus belajar 
sendiri guna meningkatkan  kemampuan, serta tidak pernah menyerah dalam 
mengatasi persoalan.

    Bahkan  sebagai seorang kepala negara pun, Presiden Yudhoyono mengatakan 
tiga hal itu  masih ia pegang teguh hingga sekarang.

    Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi  dan Polri lulusan tahun 2009 akan 
menjalani pelantikan dan pengucapan sumpah  atau prasetya perwira (praspa) di 
Dermaga Ujung, Markas Komando Armada Kawasan  Timur, Surabaya, pada Rabu 23 
Desember 2009 dalam upacara pelantikan yang  dipimpin oleh Presiden Yudhoyono 
sebagai inspektur upacara.

    Taruna  tersebut terdiri atas 275 taruna akademi militer, 195 taruna 
akademi angkatan  laut, 123 aruna angkatan udara, serta 434 taruna akademi 
polisi dan 65 taruni  akademi polisi.(*) 
    Editor: Ruslan Burhani

    Pernikahan Pertama SBY  Sebelum Masuk Akabri
    FEATURED

    Ani dan Sus KISAH ini bermula pada tahun  1968, saat seorang anak tentara 
bernama Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab  dipanggil Sus oleh teman dan 
keluarganya, lulusan SMA Negri Pacitan Jawa  Timur.
    Sus yang sekarang lebih akrab dipanggil SBY  kemudian melanjutkan kuliah 
disalah satu universitas negri di kota  Surabaya.
    Di Surabaya inilah SBY menimba ilmu, dan sebagaimana remaja pada  umumnya, 
banyak berkenalan dengan berbagai wanita. Diantaranya para wanita  terdapat 
seorang wanita berdarah campuran Jawa-Philipina yang bernama Ida,  mereka 
memadu kasih dan berikrar untuk setia sehidup-semati.
    Dan pada tahun itu pula mereka melangsungkan  pernikahan disebuah kantor 
catatan sipil diJakarta.
    Dampak pernikahan tersebut, kuliah Sus pun  terganggu dan berantakan, 
apalagi saat itu Sus belum memperoleh penghasilan  tetap. Seiring perjalanan 
mahligai rumah-tangganya, Sus dan Ida dikaruniai 2  orang puteri dari 
perkawinan tersebut,yang bernama Adinda dan Devi.
    Beban hidup pun semakin terasa beratnya.  Kemudian mereka pindah ke Malang, 
Sus melanjutkan pendidikannya, dengan kuliah  di-Pendidikan Guru SLP (PGSLP).
    ~ Masuk Akabri meninggalkan anak dan  istri.
    Pada tahun 1970 Sus (SBY) mencoba peruntungan  nasibnya dengan berniat 
memperbaiki masa depannya dengan mengikuti seleksi  menjadi kadet Akabri, 
sekaligus melanjutkan cita-cita masa kecilnya serta  memenuhi harapan ayahanda 
nya. Namun apa daya, salah satu persyaratan adalah  calon Kadet / Taruna Akabri 
tidak diperbolehkan beristri (status lajang). Sus  pun meminta pengertian 
istrinya, Ida agar ihklas untuk ‘Menyembunyikan status  perkawinan mereka’ demi 
kelancarannya mengenyam pendidikan agar di  Akabri.
    Alhasil, SBY akhirnya diterima masuk dan  terdaftar di Akabri.
    Bak gayung bersambut SBY rupanya menjadi  perhatian sebagaian besar pada 
pendidik.
    Selain tampan, SBY ternyata adalah Taruna yang  cerdas dan pandai mengambil 
hati .
    Tak disangka Gubernur Akabri saat itu  (alm.Letjend TNI-AD. Sarwo Edi 
Wibowo) pun terpukau dengan kecerdasan dan  ketampanannya. Hingga tak jarang 
SBY dan kawan-kawan Tarunanya kerapkali  bertandang dan melapor segala sesuatu 
hal kerumah sang jenderal.
    Tak terasa, SBY pun rupanya telah melupakan  istri dan dua anaknya ketika 
salah satu putri sang jenderal menarik  perhatiannya. Apalagi SBY segera 
mendapat ‘lampu hijau’ dan direstui untuk  berpacaran dengan putri sang 
jenderal yang bernama Christiani yang kini akrab  disapa Ani.
    ~ SBY menikah dengan ANI.
    Selesai pendidikan AKABRI pada tahun  1973
    SBY tercatat sebagai lulusan terbaik dengan  pangkat Letnan Dua.
    Dan setahun kemudian, tepatnya tahun 1974 SBY  bertunangan dengan Ani yang 
dianggap sebagai “jalan Tuhan” yang harus dia tempuh  kalau karir militernya 
mau lancar dan bersinar.
    Tahun 1976 SBY pun akhirnya secara resmi  menikahi Ani dengan ‘Status 
Bujangan’.
    Entah setan apa yang waktu itu menguasainya,  sehingga istri dan kedua 
anaknya seolah dianggap tidak pernah ada.
    Bahkan hingga ke 2 puteri nya membutuhkan  tunjangan hidup mereka 
sehari-hari pun tidak pernah dimasukkan dalam daftar  tanggungan keluarga 
anggota TNI-AD.
    Selang beberapa tahun kemudian pada saat SBY dan  Ani sudah dikarunia 
seorang anak laki-laki bernama Agus Hari Murti, saat itulah  keberanian SBY 
muncul untuk berterus terang tentang kebohongan nya selama ini  pada Ani, 
dengan mengatakan bahwa sebelumnya dia sudah pernah menikah dan sudah  punya 2 
orang puteri.
    Bak disambar petir di siang bolong Ani kaget,  terkejut, marah, panik dan 
frustasi.
    Bahkan mahligai rumah tangga nya pun, gonjang  ganjing terancam bubar.
    Namun turut campurnya peran fihak keluarga  mereka yang segera turun tangan 
demi menyelamatkan karir dan rumah tangga, serta  nama besar keluarga, SBY 
diharuskan segera menceraikan istri pertama.
    SBY pun segera menceraikan Ida dan berjanji  untuk bertanggung jawab soal 
kehidupan kedua puteri nya. Namun untuk mendapat  santunan hidup sebagai 
jaminan masa depan itu Ida harus bersedia menerima  kesepakatan bahwa mereka 
tidak akan menuntut status sebagai mantan istri dan  anak-anak kandung SBY 
sampai kapanpun.
    Ida pun kemudian menikah lagi dengan WNA Jerman  dan bermukim di Jerman.
    Sementara Dinda dan Devi tetap di Indonesia  bersama keluarga ibunya yang 
tinggal diJakarta.
    Dan waktu pun berjalan terus, sebagai tentara  cerdas sekaligus menantu 
seorang jenderal saat itu, karir SBY pun semakin  bersinar. Problema rumah 
tangga terlewati sudah, kebahagiaan rumah tangganya  dengan Ani bahkan semakin 
bertambah dengan hadirnya anak laki-laki ke 2 yang  diberi nama Edhi Baskoro.
    ~ Kekecewaan ADINDA dan DEVI
    Tahun 1990 sewaktu SBY menjabat Kepala Staff  Teritorial TNI-AD, Adinda 
memohon kepada SBY agar sebagai ayah bersedia menjadi  wali nikahnya. Karena 
saat itu Adinda sendiri akan dipersunting seorang pria  pujaannya yang bernama 
Danang, putera dari Ir. H. Lukman Hakim (mantan Kepala  Divisi Produksi 
Pertamina).
    SBY pun tak keberatan, bahkan pernikahan  dilangsungkan dirumah dinas SBY 
diCilangkap secara sederhana.
    Namun kebahagiaan Adinda mendadak sirna ketika  SBY ternyata tetap tidak 
mau mengakuinya sebagai anak. Karena pada para tamu SBY  mengaku bahwa Adinda 
adalah keponakannya. Adinda sangat terluka saat itu. Devi  sang adik juga yang 
mendengar perkataan SBY pun sangat sedih.
    Meski terikat janji sang bunda (Ida) bahwa  mereka tidak akan menuntut 
status.
    Namun tentulah Adinda dan Devi ingin mendapatkan  kasih sayang seorang 
ayahanda.
    Mengapa sang ayah (SBY) begitu tega  memutar-balikkan fakta, dengan 
mengatakan mereka hanya keponakan ?
    Adinda dan Devi pun akhirnya sadar, mereka bukan  siapa-siapa, mereka sedih 
tak berdaya, namun hati nurani selalu bertanya,  bukankah mereka juga anak yang 
sah ? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan  pengakuan sebagaimana layaknya 
seorang anak ?
    Ironisnya, inisial mereka berdua, Adinda dan  Devi, juga tak tertulis dalam 
riwayat hidup sang ayah (SBY), saat tampil  mencalonkan diri sebagai Capres 
2004.
    Dan saat arsip dinas dan kenegaraan juga tak  pernah mencantumkan nama 
mereka, Adinda dan Devi harus bisa menerima kenyataan  tersebut. Namun pada 
saat hak azasi mereka terus dikucilkan secara tak wajar  dari sebagaimana 
layaknya kepribadian seseorang yang kini jadi figur  kepemimpinan sebuah bangsa.
    Jelas saja, melahirkan protes yang selama ini  terkubur dalam-dalam oleh 2 
puteri yang kerap teraniaya .
    Apalagi semua harta ayah mereka dikuasai atas  nama ibu tirinya, ibu Ani, 
yang membuat mereka tidak bisa menerima lagi semua  kenyataan ini.
    ~ ADINDA menggugat ayahnya
    Janji untuk menjamin masa depan sebagai komitmen  keluarga pasca perceraian 
ibunya. ternyata juga jarang mereka dapatkan.  Akibatnya Adinda memberanikan 
diri menggugat ayahnya secara perdata dengan  menyewa pengacara dalam pembagian 
harta gono gini.
    Di pengadilan Adinda memenangkan perkara dan  memperoleh dua rumah di 
Pondok-Indah dan menteng Jakarta pusat, kedua rumah  tersebut tidak mereka 
tempati dan dkontrakkan saja hingga saat ini.
    Saat ini Adinda hidup sebagai orang biasa yang  jauh dari publitas media, 
tinggal bersama suami dan anak-anakya dikawasan  Jagakarsa, Jakarta Selatan. 
Adinda adalah alumni Universitas Trisakti dan  bekerja sebagai konsultan pada 
sebuah perusahaan pertambangan. Suaminya Danang  Bin H.Ir Lukman Hakim, pegawai 
di Kementerian Pertahanan sebagai Kepala Litbang.  Mereka hidup rukun dan 
banyak dibimbing oleh pamannya Dr. Sofyan Sauri (adik  dari Lukman Hakim). 
Sedangkan adiknya Devi tinggal di Amerika-Serikat namun  tidak banyak diketahui 
aktifitasnya dan kehidupannya saat ini.
    ~ Janji Ibu ANI kepada ADINDA
    Dan pada saat SBY membutuhkan dukungan  pencitraan menjelang Pilpres 2004 
dan 2009 ibu Ani sering kali menghubungi via  telepon pada Adinda dan ibunya di 
Jerman, agar tidak usah mengungkap dan  meributkan status mereka di dalam 
keluarga SBY. Karena Ani sangat kawatir jika  masalah itu bisa mempengaruhi 
popularitas dan citra SBY, lebih -lebih saat  menghadapi Pilpres.
    Ibu Ani menjanjikan bahwa status mereka akan  diselesaikan dan diungkap 
setelah SBY tidak lagi menjabat sebagai Presiden  Republik-Indonesia. Mereka 
secara resmi akan dicantumkan dalam daftar keluarga  SBY.
    Maka untuk saat ini mereka disarankan untuk  tetap bersabar sebelum 
dicantumkan sebagai anak kandung dalam daftar keluarga  secara resmi.
    ~ TUTUP KASUS ITU , BERAPA PUN BIAYA  NYA
    SBY sangat sensitif dalam menanggapi setiap  berita ataupun pernyataan dari 
beberapa sumber yang mengungkit masalah ini.  Terhadap siapapun yang 
mempersoalkan hal tersebut. SBY langsung menugaskan TIM  dan para intelnya 
untuk membungkam.
    Masyarakat mungkin sudah lupa dengan pernyataan  anggota DPR-RI Zainal 
Maarif yang sudah melaporkan kasus pernikahan SBY  tersebut. Setelah didekati 
Zainal Maarif belakangan mencabut laporan dan meminta  maaf. Dan aneh dia 
bahkan diangkat menjadi Kader Partai Demokrat dan mendapat  fasilitas 
signifikan.
    Demikian juga Jenderal TNI (purn) R.Hartono yang  pernah mengungkap masalah 
pernikahan tersebut, ditaklukkannya dengan  pendekatan-pendekatan material 
finansial dan ancaman pengungkapan rahasianya.  TIM SBY juga sudah tak 
terhitung berapa kali melakukan operasi media dengan  membungkam media massa 
dengan dana yang sangat besar.
    Dibalik potret keluarga ideal Kepala Negara  ternyata tersimpan kisah 
‘Penghianatan Cinta, Kasih dan Sayang’. Kebohongan yang  dilakukan bukan hanya 
dilakukan terhadap keluarga, tetapi terhadap seluruh  Rakyat, Korps TNI-AD, 
Bangsa dan Negara. Namun pengungkapan kebohongan dan  penghianatan ini selalu 
harus berhadapan dengan kekuasaan, sebagian besar  berhasil disumpal dengan 
uang dan kuasa, selebihnya tiarap karena juga akan  diungkap balik rahasia dan 
kejahatannya.
    Setelah “Drama Century” dan “Sinetron  Nazaruddin” , akankah sepenggal 
kisah keluarga, yang pantas diindikasikan  sebagai ‘PETUALANG PENJAHAT KELAMIN’ 
akan kah menjadi pelajaran bagi rakyat  Indonesia ? ataukah hanya akan menjadi 
hiburan ala sinetron di tengah kesulitan  hidup rakyat jelata ?
    Salam Kejujuran Anak negeri,
    SELANGKAH MAJU PANTANG TUK RAGU !
    Oleh : ” Rakyat Bersatu ”
    Siapa orang tua kandung SBY yang sesungguhnya  Raden Soekotjo atau 
‘Supriadi’ kah..?
    Bila terungkap Kebohongan SBY pra terdaftar  sebagai Taruna AKABRI. maka 
ibu Ani adalah istri kedua SBY
    Sumber:
    https://skandalindonesia.wordpress.com/2013/04/13/pernikahan-pertama-sb  
[truncated by  WhatsApp]      
                    
      



     
     
           
                    
      
                

        
                                 

Kirim email ke