Lain di mulut lain di hati. Ini pepatah lama yang masih terus aktuil. Itulah
yang dilakukan oleh SBY dalam membangun dirinya. Dia mengatakan perwira
TNI-Polri jangan bercita-cita jadi Gubernur. Apa kenyataannya??? Kini SBY
menjilat ludah yang sudah dia buang. Dia bilang TNI jangan bercita-cita menjadi
Gubernur, tetapi sekarang dia berusaha menjadikan anaknya Agus Hari Murti untuk
menjadi Gubernur DKI dengan mencopotnya dari TNI. Memang kalau pun nanti Agus
tidak menang menjadi Gubernur dan sudah pula keluar dari TNI, Agus tak perlu
gelisah. Kekayaan SBY-ibu Ani sudah tersedia untuk dikendalikan putra tercinta
ini. Bukan hanya sampai disitu, pintu Partai Demokrat juga sudah terbuka untuk
dimasuki oleh Agus, yang dianggap masih bersih. Beda dengan putra ke duanya
Ibas yang menurut kabar sudah menjadi incaran KPK karena terlibat dalam
korupsi.Jadi, khusus untuk pak SBY ini, pepatah lama masih tetap berlaku:
Bagaimana pun menutupi bangkai, baunya akan tercium.Slm: Chalik Hamid.
Pada Minggu, 25 September 2016 4:11, "'Chan CT' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
Nah, inilah sikap dan jejak langkah mantan Presiden SBY, bukanlah seorang yang
konsisten dengan apa yang diucapkan, ... bahkan cenderung menghalalkan
segalanya demi ambisi karier politiknya, untuk KEPENTINGAN PRIBADI nya sendiri!
Bukankah ada rumor sebelum dengan Ani, SBY sudah penah kawin bahkan sudah ada 2
putrinya! Belum lagi kasus Bank Century, kasus Hambalang yg sampai sekarang
belum juga dituntaskan, ...
Sungguh TIDAK PANTAS menjadi seorang pemimpin bangsa, ...! Mudah-mudahan RAKYAT
Indonesia menjadi lebih jeli dalam pemilu dan tidak lagi tertipu oleh
orang-orang macam begini menjadi pemimpin bangsa!
Salam,ChanCT
Presiden: Perwira TNI-Polri Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur
Selasa, 22 Desember 2009 22:28 WIB | 850.292 ViewsPewarta: handr Presiden,
Susilo Bambang Yudhoyono (ANTARA)Surabaya (ANTARA News) - Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono mengingatkan para perwira lulusan akademi TNI dan Polri
sebaiknya tidak bercita-cita menjadi kepala daerah mulai dari tingkat gubernur,
bupati, dan walikota.
Dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri di Graha
Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, Selasa malam,
Presiden mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang prajurit
berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian
yang lebih luas lagi kepada negara.
"Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya
ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak
tepat," ujarnya.
Presiden mengatakan para taruna lulusan TNI dan Polri harus bercita-cita
menjadi perwira yang berhasil di lingkungannya.
Namun, dalam mengejar karir menuju pucuk jabatan tertinggi, Kepala Negara
mengingatkan agar mereka tidak menghalalkan segala cara atau menjatuhkan
teman-teman sendiri untuk menghilangkan pesaing.
"Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada dinamika, takdir, jalan
kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya ingin hati dan pikiran
kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin berbakti dan mengabdi di
lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira," tuturnya.
Menurut Kepala Negara, untuk itu Para taruna harus mau bekerja keras dan
berjuang menjalankan tugas sebaik-baiknya.
"Hanya dengan cara itulah kalian berhasil menghadapi rintangan dan tantangan
tugas yang tidak ringan," ujarnya.
Dalam pengarahannya, Presiden Yudhoyono menyampaikan tiga hal penting
berdasarkan pengalamannya sendiri untuk dipegang para taruna selama perjalanan
karir mereka.
Tiga hal itu adalah mengemban tugas apa pun di mana pun secara sungguh-sungguh
dengan selalu memberikan yang terbaik, terus menerus belajar sendiri guna
meningkatkan kemampuan, serta tidak pernah menyerah dalam mengatasi persoalan.
Bahkan sebagai seorang kepala negara pun, Presiden Yudhoyono mengatakan tiga
hal itu masih ia pegang teguh hingga sekarang.
Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi dan Polri lulusan tahun 2009 akan menjalani
pelantikan dan pengucapan sumpah atau prasetya perwira (praspa) di Dermaga
Ujung, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, pada Rabu 23 Desember
2009 dalam upacara pelantikan yang dipimpin oleh Presiden Yudhoyono sebagai
inspektur upacara.
Taruna tersebut terdiri atas 275 taruna akademi militer, 195 taruna akademi
angkatan laut, 123 aruna angkatan udara, serta 434 taruna akademi polisi dan 65
taruni akademi polisi.(*) Editor: Ruslan Burhani Pernikahan Pertama SBY Sebelum
Masuk Akabri
FEATURED
Ani dan Sus KISAH ini bermula pada tahun 1968, saat seorang anak tentara
bernama Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil Sus oleh teman dan
keluarganya, lulusan SMA Negri Pacitan Jawa Timur.Sus yang sekarang lebih akrab
dipanggil SBY kemudian melanjutkan kuliah disalah satu universitas negri di
kota Surabaya.
Di Surabaya inilah SBY menimba ilmu, dan sebagaimana remaja pada umumnya,
banyak berkenalan dengan berbagai wanita. Diantaranya para wanita terdapat
seorang wanita berdarah campuran Jawa-Philipina yang bernama Ida, mereka memadu
kasih dan berikrar untuk setia sehidup-semati.Dan pada tahun itu pula mereka
melangsungkan pernikahan disebuah kantor catatan sipil diJakarta.Dampak
pernikahan tersebut, kuliah Sus pun terganggu dan berantakan, apalagi saat itu
Sus belum memperoleh penghasilan tetap. Seiring perjalanan mahligai
rumah-tangganya, Sus dan Ida dikaruniai 2 orang puteri dari perkawinan
tersebut,yang bernama Adinda dan Devi.Beban hidup pun semakin terasa beratnya.
Kemudian mereka pindah ke Malang, Sus melanjutkan pendidikannya, dengan kuliah
di-Pendidikan Guru SLP (PGSLP).~ Masuk Akabri meninggalkan anak dan istri.Pada
tahun 1970 Sus (SBY) mencoba peruntungan nasibnya dengan berniat memperbaiki
masa depannya dengan mengikuti seleksi menjadi kadet Akabri, sekaligus
melanjutkan cita-cita masa kecilnya serta memenuhi harapan ayahanda nya. Namun
apa daya, salah satu persyaratan adalah calon Kadet / Taruna Akabri tidak
diperbolehkan beristri (status lajang). Sus pun meminta pengertian istrinya,
Ida agar ihklas untuk ‘Menyembunyikan status perkawinan mereka’ demi
kelancarannya mengenyam pendidikan agar di Akabri.Alhasil, SBY akhirnya
diterima masuk dan terdaftar di Akabri.Bak gayung bersambut SBY rupanya menjadi
perhatian sebagaian besar pada pendidik.Selain tampan, SBY ternyata adalah
Taruna yang cerdas dan pandai mengambil hati .Tak disangka Gubernur Akabri saat
itu (alm.Letjend TNI-AD. Sarwo Edi Wibowo) pun terpukau dengan kecerdasan dan
ketampanannya. Hingga tak jarang SBY dan kawan-kawan Tarunanya kerapkali
bertandang dan melapor segala sesuatu hal kerumah sang jenderal.Tak terasa, SBY
pun rupanya telah melupakan istri dan dua anaknya ketika salah satu putri sang
jenderal menarik perhatiannya. Apalagi SBY segera mendapat ‘lampu hijau’ dan
direstui untuk berpacaran dengan putri sang jenderal yang bernama Christiani
yang kini akrab disapa Ani.~ SBY menikah dengan ANI.Selesai pendidikan AKABRI
pada tahun 1973SBY tercatat sebagai lulusan terbaik dengan pangkat Letnan
Dua.Dan setahun kemudian, tepatnya tahun 1974 SBY bertunangan dengan Ani yang
dianggap sebagai “jalan Tuhan” yang harus dia tempuh kalau karir militernya mau
lancar dan bersinar.Tahun 1976 SBY pun akhirnya secara resmi menikahi Ani
dengan ‘Status Bujangan’.Entah setan apa yang waktu itu menguasainya, sehingga
istri dan kedua anaknya seolah dianggap tidak pernah ada.Bahkan hingga ke 2
puteri nya membutuhkan tunjangan hidup mereka sehari-hari pun tidak pernah
dimasukkan dalam daftar tanggungan keluarga anggota TNI-AD.Selang beberapa
tahun kemudian pada saat SBY dan Ani sudah dikarunia seorang anak laki-laki
bernama Agus Hari Murti, saat itulah keberanian SBY muncul untuk berterus
terang tentang kebohongan nya selama ini pada Ani, dengan mengatakan bahwa
sebelumnya dia sudah pernah menikah dan sudah punya 2 orang puteri.Bak disambar
petir di siang bolong Ani kaget, terkejut, marah, panik dan frustasi.Bahkan
mahligai rumah tangga nya pun, gonjang ganjing terancam bubar.Namun turut
campurnya peran fihak keluarga mereka yang segera turun tangan demi
menyelamatkan karir dan rumah tangga, serta nama besar keluarga, SBY diharuskan
segera menceraikan istri pertama.SBY pun segera menceraikan Ida dan berjanji
untuk bertanggung jawab soal kehidupan kedua puteri nya. Namun untuk mendapat
santunan hidup sebagai jaminan masa depan itu Ida harus bersedia menerima
kesepakatan bahwa mereka tidak akan menuntut status sebagai mantan istri dan
anak-anak kandung SBY sampai kapanpun.Ida pun kemudian menikah lagi dengan WNA
Jerman dan bermukim di Jerman.Sementara Dinda dan Devi tetap di Indonesia
bersama keluarga ibunya yang tinggal diJakarta.Dan waktu pun berjalan terus,
sebagai tentara cerdas sekaligus menantu seorang jenderal saat itu, karir SBY
pun semakin bersinar. Problema rumah tangga terlewati sudah, kebahagiaan rumah
tangganya dengan Ani bahkan semakin bertambah dengan hadirnya anak laki-laki ke
2 yang diberi nama Edhi Baskoro.~ Kekecewaan ADINDA dan DEVITahun 1990 sewaktu
SBY menjabat Kepala Staff Teritorial TNI-AD, Adinda memohon kepada SBY agar
sebagai ayah bersedia menjadi wali nikahnya. Karena saat itu Adinda sendiri
akan dipersunting seorang pria pujaannya yang bernama Danang, putera dari Ir.
H. Lukman Hakim (mantan Kepala Divisi Produksi Pertamina).SBY pun tak
keberatan, bahkan pernikahan dilangsungkan dirumah dinas SBY diCilangkap secara
sederhana.Namun kebahagiaan Adinda mendadak sirna ketika SBY ternyata tetap
tidak mau mengakuinya sebagai anak. Karena pada para tamu SBY mengaku bahwa
Adinda adalah keponakannya. Adinda sangat terluka saat itu. Devi sang adik juga
yang mendengar perkataan SBY pun sangat sedih.Meski terikat janji sang bunda
(Ida) bahwa mereka tidak akan menuntut status.Namun tentulah Adinda dan Devi
ingin mendapatkan kasih sayang seorang ayahanda.Mengapa sang ayah (SBY) begitu
tega memutar-balikkan fakta, dengan mengatakan mereka hanya keponakan ?Adinda
dan Devi pun akhirnya sadar, mereka bukan siapa-siapa, mereka sedih tak
berdaya, namun hati nurani selalu bertanya, bukankah mereka juga anak yang sah
? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan pengakuan sebagaimana layaknya
seorang anak ?Ironisnya, inisial mereka berdua, Adinda dan Devi, juga tak
tertulis dalam riwayat hidup sang ayah (SBY), saat tampil mencalonkan diri
sebagai Capres 2004.Dan saat arsip dinas dan kenegaraan juga tak pernah
mencantumkan nama mereka, Adinda dan Devi harus bisa menerima kenyataan
tersebut. Namun pada saat hak azasi mereka terus dikucilkan secara tak wajar
dari sebagaimana layaknya kepribadian seseorang yang kini jadi figur
kepemimpinan sebuah bangsa.Jelas saja, melahirkan protes yang selama ini
terkubur dalam-dalam oleh 2 puteri yang kerap teraniaya .Apalagi semua harta
ayah mereka dikuasai atas nama ibu tirinya, ibu Ani, yang membuat mereka tidak
bisa menerima lagi semua kenyataan ini.~ ADINDA menggugat ayahnyaJanji untuk
menjamin masa depan sebagai komitmen keluarga pasca perceraian ibunya. ternyata
juga jarang mereka dapatkan. Akibatnya Adinda memberanikan diri menggugat
ayahnya secara perdata dengan menyewa pengacara dalam pembagian harta gono
gini.Di pengadilan Adinda memenangkan perkara dan memperoleh dua rumah di
Pondok-Indah dan menteng Jakarta pusat, kedua rumah tersebut tidak mereka
tempati dan dkontrakkan saja hingga saat ini.Saat ini Adinda hidup sebagai
orang biasa yang jauh dari publitas media, tinggal bersama suami dan
anak-anakya dikawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Adinda adalah alumni
Universitas Trisakti dan bekerja sebagai konsultan pada sebuah perusahaan
pertambangan. Suaminya Danang Bin H.Ir Lukman Hakim, pegawai di Kementerian
Pertahanan sebagai Kepala Litbang. Mereka hidup rukun dan banyak dibimbing oleh
pamannya Dr. Sofyan Sauri (adik dari Lukman Hakim). Sedangkan adiknya Devi
tinggal di Amerika-Serikat namun tidak banyak diketahui aktifitasnya dan
kehidupannya saat ini.~ Janji Ibu ANI kepada ADINDADan pada saat SBY
membutuhkan dukungan pencitraan menjelang Pilpres 2004 dan 2009 ibu Ani sering
kali menghubungi via telepon pada Adinda dan ibunya di Jerman, agar tidak usah
mengungkap dan meributkan status mereka di dalam keluarga SBY. Karena Ani
sangat kawatir jika masalah itu bisa mempengaruhi popularitas dan citra SBY,
lebih -lebih saat menghadapi Pilpres.Ibu Ani menjanjikan bahwa status mereka
akan diselesaikan dan diungkap setelah SBY tidak lagi menjabat sebagai Presiden
Republik-Indonesia. Mereka secara resmi akan dicantumkan dalam daftar keluarga
SBY.Maka untuk saat ini mereka disarankan untuk tetap bersabar sebelum
dicantumkan sebagai anak kandung dalam daftar keluarga secara resmi.~ TUTUP
KASUS ITU , BERAPA PUN BIAYA NYASBY sangat sensitif dalam menanggapi setiap
berita ataupun pernyataan dari beberapa sumber yang mengungkit masalah ini.
Terhadap siapapun yang mempersoalkan hal tersebut. SBY langsung menugaskan TIM
dan para intelnya untuk membungkam.Masyarakat mungkin sudah lupa dengan
pernyataan anggota DPR-RI Zainal Maarif yang sudah melaporkan kasus pernikahan
SBY tersebut. Setelah didekati Zainal Maarif belakangan mencabut laporan dan
meminta maaf. Dan aneh dia bahkan diangkat menjadi Kader Partai Demokrat dan
mendapat fasilitas signifikan.Demikian juga Jenderal TNI (purn) R.Hartono yang
pernah mengungkap masalah pernikahan tersebut, ditaklukkannya dengan
pendekatan-pendekatan material finansial dan ancaman pengungkapan rahasianya.
TIM SBY juga sudah tak terhitung berapa kali melakukan operasi media dengan
membungkam media massa dengan dana yang sangat besar.Dibalik potret keluarga
ideal Kepala Negara ternyata tersimpan kisah ‘Penghianatan Cinta, Kasih dan
Sayang’. Kebohongan yang dilakukan bukan hanya dilakukan terhadap keluarga,
tetapi terhadap seluruh Rakyat, Korps TNI-AD, Bangsa dan Negara. Namun
pengungkapan kebohongan dan penghianatan ini selalu harus berhadapan dengan
kekuasaan, sebagian besar berhasil disumpal dengan uang dan kuasa, selebihnya
tiarap karena juga akan diungkap balik rahasia dan kejahatannya.Setelah “Drama
Century” dan “Sinetron Nazaruddin” , akankah sepenggal kisah keluarga, yang
pantas diindikasikan sebagai ‘PETUALANG PENJAHAT KELAMIN’ akan kah menjadi
pelajaran bagi rakyat Indonesia ? ataukah hanya akan menjadi hiburan ala
sinetron di tengah kesulitan hidup rakyat jelata ?Salam Kejujuran Anak
negeri,SELANGKAH MAJU PANTANG TUK RAGU !Oleh : ” Rakyat Bersatu ”Siapa orang
tua kandung SBY yang sesungguhnya Raden Soekotjo atau ‘Supriadi’ kah..?Bila
terungkap Kebohongan SBY pra terdaftar sebagai Taruna AKABRI. maka ibu Ani
adalah istri kedua SBYSumber:
https://skandalindonesia.wordpress.com/2013/04/13/pernikahan-pertama-sb
[truncated by WhatsApp] #yiv0581333586 #yiv0581333586 --
#yiv0581333586ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp #yiv0581333586hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp #yiv0581333586ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp .yiv0581333586ad
{padding:0 0;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp .yiv0581333586ad p
{margin:0;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mkp .yiv0581333586ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-sponsor
#yiv0581333586ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-sponsor #yiv0581333586ygrp-lc #yiv0581333586hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-sponsor #yiv0581333586ygrp-lc .yiv0581333586ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0581333586 #yiv0581333586actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0581333586
#yiv0581333586activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0581333586
#yiv0581333586activity span {font-weight:700;}#yiv0581333586
#yiv0581333586activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0581333586 #yiv0581333586activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0581333586 #yiv0581333586activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0581333586 #yiv0581333586activity span
.yiv0581333586underline {text-decoration:underline;}#yiv0581333586
.yiv0581333586attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0581333586 .yiv0581333586attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0581333586 .yiv0581333586attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0581333586 .yiv0581333586attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0581333586 .yiv0581333586attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0581333586 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0581333586 .yiv0581333586bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0581333586
.yiv0581333586bold a {text-decoration:none;}#yiv0581333586 dd.yiv0581333586last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0581333586 dd.yiv0581333586last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0581333586
dd.yiv0581333586last p span.yiv0581333586yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0581333586 div.yiv0581333586attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0581333586 div.yiv0581333586attach-table
{width:400px;}#yiv0581333586 div.yiv0581333586file-title a, #yiv0581333586
div.yiv0581333586file-title a:active, #yiv0581333586
div.yiv0581333586file-title a:hover, #yiv0581333586 div.yiv0581333586file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0581333586 div.yiv0581333586photo-title a,
#yiv0581333586 div.yiv0581333586photo-title a:active, #yiv0581333586
div.yiv0581333586photo-title a:hover, #yiv0581333586
div.yiv0581333586photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0581333586
div#yiv0581333586ygrp-mlmsg #yiv0581333586ygrp-msg p a
span.yiv0581333586yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0581333586
.yiv0581333586green {color:#628c2a;}#yiv0581333586 .yiv0581333586MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0581333586 o {font-size:0;}#yiv0581333586
#yiv0581333586photos div {float:left;width:72px;}#yiv0581333586
#yiv0581333586photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0581333586
#yiv0581333586photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0581333586
#yiv0581333586reco-category {font-size:77%;}#yiv0581333586
#yiv0581333586reco-desc {font-size:77%;}#yiv0581333586 .yiv0581333586replbq
{margin:4px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-mlmsg select, #yiv0581333586 input, #yiv0581333586 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-mlmsg pre, #yiv0581333586 code {font:115%
monospace;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-mlmsg #yiv0581333586logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-msg
p#yiv0581333586attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-reco #yiv0581333586reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-sponsor
#yiv0581333586ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-sponsor #yiv0581333586ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-sponsor #yiv0581333586ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0581333586 #yiv0581333586ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0581333586
#yiv0581333586ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0581333586