Maksud saya, kegubernuran Ahok sekarang bukanlah karenaorang memilih dia menjadi gubernur, melainkan akibat dari lowongnya posisi gubernur. Umumnya, petahana memang punya peluang lebih besar untuk bertahan. Akibat dari lompatnya Walikota Solo menjadi Gubernur DKI lantas Gubernur DKI itu lompat menjadi presiden adalah timbulnya pemahaman seolah DKI-1 hanya sebagai batu loncatan untuk menjadi RI-1. Sistem kutu loncat, menjabat setengah-setengah begini, apa juga menjadi trend di AS? --- jonathangoeij@... wrote:
Saya kira seorang incumbent gubernur mempunyai peluang yg cukup besar jadi presiden, dgn jadwal yg seperti sekarang pilpres dan pilgub waktunya berbeda dimasa yad akan makin banyak gubernur yg setengah jalan karena terpilih jadi presiden. Keadaan seperti ini bukan hanya di Indonesia tetapi juga di US, saya kasih contoh George W. Bush terpilih kembali jadi Gubernur Texas th 1998, baru menjabat ditengah jalan sudah berhenti karena terpilih jadi presiden th 2000. --- ajegilelu@... wrote : Bagaimanapun, jabatan Gubernur Jokowi harusnya baru berakhir pada 2017. Kegubernuran Ahok hanyalahakibat dari sistem yng diberlalukan. Selain penggusuran, "program Ahok" lainnya (termasuk Sumber Waras dan reklamasi pulau 'G') juga dibeking penuh oleh Jokowi. Demi melayani masyarakat? Tidak. Ada aroma politik sandera yang cukup nyaring di sini. --- jonathangoeij@... wrote: kelihatannya gusur dan rusun itu warisan Jokowi yg diteruskan Ahok. --- ajegilelu@... wrote : Seperti inikah? [ 'yang minta ganti rugi itu komunis' ] [ Kalau ngotot itu ideologi komunis ] [ sudah miskin kok belagu ] [ tidak bisa menggratiskan ] dsb.
