Bg. Lusi,
Perjuangan klas sudah ada jauh sebelum Komune Paris.
Seharusnya Dalam BENTUK APA perjuangan klas  berlangsung sampai hilangnya
klas burjuasi ....ini berdasarkan keadaan nyata sekarang ini????
Lin

On Oct 12, 2016 6:18 PM, "nesa...@yahoo.com [GELORA45]" <
GELORA45@yahoogroups.com> wrote:



Setuju! Memang itulah perbedaan satu2nya antara chan dan Tatiana: ideologi
yang berbeda.



Persoalan burjuosi vs proletar itu jelas perbedaannya dalam teori. Tetapi
ketika kita lihat dari praktek didunia riil sekarang ini, baik borjuosi
maupun proletar sudah sama2 menjalani kehidupan kapitalisme. Baik borjuosi
maupun proletar bisa bersikap anti rakyat ketika menang dan berkuasa. Kedua
belah pihak bisa bertindak menurut kehendaknya masing2 tanpa memikirkan
doktrin burjuosi maupun proletar.



Begitu juga agama. Para agamais selalu mengatakan agama adalah nomor 1.
Begitu juga kalangan non agamais mengatakan agama tidak ada dan tidak
penting. Tetapi kedua2nya menerapkan hal yang tidak berkaitan dengan ajaran
agama dan atau apapun yang mereka yakini dan atau tidak mereka yakini.
Kedua pelaku ini bisa bersikap menurut kehendaknya masing2 tanpa memikirkan
dogma agama atau non agama.



Salam

Nesare



*From:* GELORA45@yahoogroups.com [mailto:GELORA45@yahoogroups.com]
*Sent:* Wednesday, October 12, 2016 7:36 AM
*To:* Hsin Hui Lin ehh...@gmail.com [GELORA45] <GELORA45@yahoogroups.com>;
nasional-l...@yahoogroups.com; GELORA_In <GELORA45@yahoogroups.com>
*Cc:* hk. Chan Chung Tak <sa...@netvigator.com>; Tatiana Lukman <
jetaimemuc...@yahoo.com>
*Subject:* Re: [GELORA45] Fwd: Re: Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialismese





Kalau saya melihat diskusi ini makin mendalam dan jelas meninjau dan
membuktikan secara transparan perbedaannya, baik sikap hidup maupun
pandangan filosofinya. Maksud saya; burjuasi bersikukuh memperjuangkan
pandangan penghisapan klasnya, kaum proletar berjuang memenangkan
pandangan filsafat pembebasan klas poletar dan klas tertindas lainnya
dari filsafat penghisapan manusia atas manusia dari klas borjuasi.
Perjuangan yang dimulai sejak Komune Paris akan terus berlangsung dalam
jangka waktu yang sangat panjang sampai suatu masyarakat manusia tanpa
perbedaan klas tercapai.

Am Tue, 11
Oct 2016 19:32:37 +0530 schrieb "Hsin Hui Lin ehh...@gmail.com
[GELORA45]" <GELORA45@yahoogroups.com>:

> Bg Chan,
> Saya ndak akan ikut berdebat antara anda dan TL, sudah ber_tele2.
> Yang jelas tugas seorang seorang pimpinan yg baik dan tepat yalah:
> disamping menjamin keutuhan dan keselamatan negara dan rakyatnya dan
> meningkatkan taraf hidup rakyat, pimpinan Tkk telah berhasil dari
> chairman Mao dan seangkatanny yg berjuang bahu membahu mempertahankan
> keutuhan Tkk sebagai negara,,pembebasan rakyat Tkk dan pimpinan
> selanjutnya dimulai dgn Deng hingga kini telah berhasil Tkk modern
> dgn kekuatan bersenjatanya,ekonomi dan meningkatakan taraf kehidupan
> rakyat. Tkk dibawah Xi dan teamnya malah menyebarkan konsep itu dgn
> One Road One Belt Program agar ke majuan ekonomi, kesejahteraan
> rakyat banyak negera2 didunia maju lebih lanjut dan terjaminnya
> kedaulatan masing negara atas dasar saling dihormati, setara dan
> saling membantu dan maju bersama untuk meningkatkan kesejahteraan
> rakyat bebas dari kekuasaan hegomoni negara manapun. Pada mummy2
> hidup yg ngotot pd ideologinya yg membeku itu dan menjadikan buku2
> klasik ttg teori ML sebagai bantal dan guling tanpa hendak mengakui
> bahwa teori apapun, pure science atau teori sosial, bukanlah bahan
> mati, mummuy, tetapi berkembang terus. Marilah kita nyanyikan lagu
> tua yg sudah dilupakan: BURUNG KAKAK TUA MENCLOK DIJENDELA. NENEK
> SUDAH TUA, GIGINYA TINGGAL DUA .....tapi masih bisa ngotot
> menggigit...percuma aja.....hahaha! Lin ---------- Forwarded message
> ---------- From: "Chan CT" <sa...@netvigator.com>
> Date: Oct 11, 2016 12:26 PM
> Subject: Re: Siauw Giok Tjhan, PKI dan Sosialisme
> To: "Tatiana Lukman" <jetaimemuc...@yahoo.com>, "Lusi D."
> <lus...@rantar.de> Cc: "Yahoogroups" <temu_er...@yahoogroups.com>,
> "DISKUSI FORUM HLD" < diskusifo...@googlegroups.com>, "Roeslan"
> <roesla...@googlemail.com>, "Daeng" <menakjin...@t-online.de>, "Gol"
> <gogo...@gmail.com>, "Mitri" < scorpio200...@yahoo.de>, "Rachmat
> Hadi-Soetjipto" <nc-hadis...@netcologne.de>, "Harry Singgih"
> <harrysing...@gmail.com>, "Jonathan Goeij" <
> jonathango...@yahoo.com>, "Ronggo A." <ronggo...@gmail.com>, "Lingkar
> Sitompul" <lingkarsitom...@gmail.com>, "Ajeg" <ajegil...@yahoo.com>,
> "Mang Broto" <alimoe...@hotmail.com>, "Marsiswo Dirgantoro"
> <mdirgant...@yahoo.com>, "Hsin Hui Lin" <ehh...@gmail.com>, "Kristian
> Ginting" < kristiangintin...@gmail.com>, "GELORA_In"
> <gelora45@yahoogroups.com>, "Billy Gunadi" <billyguna...@rogers.com>,
> "Bilven-Ultimus" < sandalista1...@yahoo.com>, "Boni Triyana"
> <bonnie.triy...@gmail.com>, "Wuting301" <wuting...@sina.com>,
> <nasional-l...@yahoogroups.com>
>
> Weleeeh, benar-benar saya sedang berhadapan dengan seorang nenek kutu
> buku, segala sesuatu harus dicocok-cocokan dengan rumusan yang ada
> dalam buku. Dan celakanya, tidak berani menggunakan otak sendiri
> untuk berpikir, dan berani melihat kenyataan perkembangan jaman yang
> sudah jauh berkembang dan berubah dibanding dengan hampir 100 tahun
> yl, dijaman Lenin mengobarkan Revolusi Oktober!
>
> Saya tidak tahu sampai dimana kebenaran data, perkembangan ekonomi
> yang ditampilkan dari ahli-ahli Tiongkok yang sekarang menetap diluar
> negeri itu, tapi yang pasti, TIDAK ada data resmi yang dikeluarkan
> pemerintah RRT jaman Mao yang begitu ketat merahasiakan, bahkan
> dijaman sekarang setelah Deng yang sedikit terbuka, juga banyak ahli
> ekonomi jadi masih kebingungan, sulit menganalisa perkeembangan
> ekonomi Tiongkok dari data-data yang dibocorkan keluar itu. Karena
> tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya! Itulah salah satu sebab
> banyak ahli-ahli ekonom-barat meleset bahkan selalu SALAH dalam
> memprediksi perkembangan ekonomi Tiongkok sekarang ini. Sudah
> berulang kali mereka berteriak gelembung balon sabun segera meledak
> dan ekonomi Tiongkok tiba saatnya PASTI Collaps, pasti akan bankrut,
> buyar berantakan, ...! Tapi, ... kenyataan TIDAK juga terjadi!
> Sekalipun dalam belasan tahun ini GDB menurun sampai hanya sekitar 6%
> lebih, tetap merupakan SATU negara yang berkemampuan tinggi
> malang-melintang didunia, bahkan banyak negara-negara maju di Eropah
> dan Amerika harus merunduk mempererat kerjasama nya dengan RRT, untuk
> menyelamatkan ekonomi dari krisis yang dihadapi!
>
> Namun demikian, sayapun TIDAK menyangkal KEBERHASILAN RRT dimasa Mao
> dalam membangun dasar ekonomi Tiongkok, dalam usahanya menegembangkan
> industri, khususnya industri baja dan minyak yg ketika itu merupakan
> dasar hitungan kekuatan satu negara, dan tentunya juga industri
> PERTAHANAN! Dari keberhasilan RRT meledakkan bom-atom,
> bom-nuklir, ... sampai peluncuran satelite pertama ditahun 1971,
> dengan mengumandangkan lagu “Dong Fang Hong” (= Merah Diufuk Timur)
> diangkasa raya! Karena memang disinilah titik berat tugas pembangunan
> diletakkan oleh Mao! Lebih dahulu harus menghadapi blokade sejagad AS
> dan juga ditariknya “bantuan” Sovyet, dengan semangat BERDIKARI harus
> membangun Tiongkok! Keteguhan Mao menjalankan politik BERDIKARI
> melawan imperialisme AS inilah yang BERHASIL membawa 700 juta rakyat
> Tiongkok mencapai kemenangan menjebol politik blokade sejagadnya AS
> itu! BETUL-BETUL harus diakui, TANPA MAO tidak ada Tiongkok BARU
> sekarang ini! Sekalipun dalam kenyataan juga terjadi
> KESALAHAN-KESALAHAN yang mengakibatkan banyak korban jatuh, bahkan
> rakyat banyak harus hidup dalam penderitaan dan kemiskinan, ...
> bahkan ada yang mati kelaparan!
>
> Jadi, pada saat kita hendak menilai kekurangan dan kesalahan Mao yang
> terjadi, jangan kebablasan menjadi menghujat dan menegasi JASA dan
> KEBERHASILAN Mao dalam membawa Tiongkok MERDEKA dan maju! Harus ingat,
> tanpa keberhasilan Mao membangun dasar ekonomi yang baik, tidak
> mungkin Deng bisa melancarkan politik terbuka, “Reformasi dan
> Keterbukaan” nya dengan perkembangan ekonomi yang begitu dahsyatnya!
> Yang terjadi ya seperti di Indonesia sekarang inilah, akibat politik
> “bapak Pembangunan” Soeharto yang HANYA menggadaikan kekayaan
> bumi-alam Nusantara pada AS-Jepang, dengan tidak mengutamakan
> pembangunan dasar-ekonomi dan membiarkan rakyat banyak tetap hidup
> dalam kemiskinan, pemerintah berikut tentu sulit untuk menarik keluar
> ekonomi Indonesia dari keterpurukan! Baru Jokowi sekarang memulai
> menitik beratkan pembangunan infrasturktur, berusaha melepas jerat
> cakar AS yang selama ini mencekik RI!
>
> Kembali pada tanpa ada data konkrit, bagaimana kita menilai
> perkembangan ekonomi Tiongkok dimasa Mao? Coba kita lihat data
> bocoran yang ada di internet sekarang ini, sampai dimana kebenarannya
> saya juga tidak tahu, cukup sebagai bahan pertimbangan saja saya
> tampilkan beberapa tahun saja perkembangan peoduksi PERTANIAN. 1950
> naik 23%; 1953 naik 30,3%; 1959 naik 19,5%; 1960 naik 5,4%; 1961
> turun –31%; 1962 turun –10.1%; 1964 naik 17,6%; 1967 turun –9.6%;
> 1968 turun –4,2%; 1969 naik 23%; 1971 naik 12,2%, ... bisa
> diperkirakan begitu semangatnya PETANI berproduksi setelah
> mendapatkan tanah utk digarap, bisa mencapai kenaikan 23% dan ditahun
> 1953 bahkan mencapai 30,3%! Tapi begitu berubah keb ijaksanaan
> membangun Komune Rakyat dengan merampas kembali tanah yang sudah
> dibagikan itu, ditahun 1959 kenaikan merosot menjadi 19,5% saja. Lalu
> menjadi turun –31%, tentu saat itu menghadapi bencana-alam berat
> berturut-turut 3 tahun 1959-1961. Tidak sepenuhnya akibat kemerosotan
> setelah dibentuk Komune Rakyat! Dan dampaknya, ditahun 1965 saya di
> Beijing masih bisa terasa, sekalipun tidak langsung menimpa diri saya
> tentunya. Apa itu?
>
> Karena kesulitan mencukupi kebutuhan sandang-pangan bagi 700 juta
> rakyat Tiongkok, pemerintah terpaksa keluarkan kupon-beras/terigu,
> kupon-kain dan kupon-minyak untuk rakyatnya. Jadi, kalau mau makan
> dikedai disamping kita harus punya duit juga harus keluarkan
> kupan-beras/trigu sesuai berapa mangkok nasi atau mantou (bakpao
> tanpa isi) atau bakmie yang kita pesan! Begitu juga kalau kita beli
> kain untuk bikin baju, harus bisa keluarkan juga kupon yg diperlukan.
> Ketika itu ditahun-tahun 1965-1967, di ibukota Beijing dimana-mana
> juga hanya terlihat orang berbaju biru/hitam saja, dengan mudah bisa
> terlihat orang berbaju tambal-tambalan apalagi yang dinamakan baju
> kapas dimusim dingin, seringkali sudah sulit menerka mana yang
> kain-asli lagi, ... begitu penuhnya potongan kain tambal! Ketika itu
> orang akan sulit menemukan orang Tionghoa berbaju dengan warna lain
> kecuali orang asing. ITULAH KENYATAAN HIDUP yang yang diakui!
> Sekalipun anda TIDAK merasakan sendiri, sebagai tamu-asing selalu
> mendapatkan layanan istimewa dan mewah! Bahkan Cai Shensan, seorang
> jenderal Kuomintang yg tidak hendak menyingkir ke Taiwan dan
> melancarkan perang gerilya didaratan Tiongkok, ... ditangkap dan
> dijebloskan dalam penjara selama 25 tahun, setelah dilepas ke HK baru
> tahu diperlakukan begitu baik dan manusiawinya oleh KOMUNIS! Seorang
> jenderal Kuomintang yang ANTI-KOMUNIS saja bisa mengakui KENYATAAN,
> jadi terharu dan BERTERIMAKASIH pada KOMUNIS Tiongkok yang begitu
> baik memperlakukan tawanannya! Saat kemiskinan melanda, rakyatnya
> bukan saja sebulan lebih tidak pernah makan daging-hewan, bahkan
> tidak sedikit yang mati kelaparan, ... tapi jenderal Kuomintang
> didalam penjara setiap kali makan tetap ada daging, ada ikan! Sedang
> anda sebaliknya! Haaiiyaaa, .... sungguh sangat ironis!
>
> Masalah Kontradiksi pokok. Sebetulnya pernah saya jawab, sejak 1949, 1
> Oktober memproklamasikan kemerdekaan RRT, keluar kontradiksi pokok
> Tiongkok dan Imperialisme AS TETAP tidak berubah sampai sekarang!
> Hanya BENTUK perjuangannya saja yang beda sesuai dengan perubahan
> sikap AS. Kalau dulu RRT menghadapi AS yang melancarkan politik
> blokade sejagad, berusaha mencekik mati bayi RRT, setelah 1972 Nixon
> datang ke Beijing berjabatan tangan dengan Mao, lalu mengakui RRT
> sebagai satau-satunya Tiongkok didunia ini, hubungan diplomatik
> dilangsungkan, bentuk perjuangan jadi “bersatu dan berjuang”, TIDAK
> lagi antagonis yang bermusuhan, tapi dilangsungkan secara diplomatis
> dan meneruskan perjuangan khususnya dibidang ekonomi dan moneter
> didunia internasional! Sedang kedalam, semula Mao ditahun 1956,
> memulai melancarkan Revolusi sosialisme, dengan menetapkan
> kontradiksi pokok buruh-kapitalis, menjadikan kapitalis musuh yang
> harus dibabat, ... setelah Deng ditahun 1980 kembali memperkenankan
> kapitalis hidup dan berkembang! Kontradiksi pokok bukan lagi
> PERJUANGAN KLAS, tapi mengembangkan tenaga-produksi, meningkatkan
> kesejahteraan rakyat! Titik beratnya pada pembangunan ekonomi.
> Membangun dengan lebih baik dan cepat infrastruktur ekonomi, itu
> jalur KA-Cepat dalam belasan tahun ini sudah lebih 20 ribu Km! Orang
> dahulu bilang KA-Cepat itu hanya untuk segelintir orang kaya dan
> PASTI akan bankrut rugi, ternyata sekarang disambut rakyat banyak
> dengan gembiranya! Mendapatkan kemudahan, kenyamanan dan sangat
> menyingkat waktu perjalanan, termasuk pulang kampung saat tahun Baru
> Imlek!
>
> Sekalipun kemajuan ekonomi di TIongkok sekarang sudah jauh lebih
> tinggi ketimbang 30 tahun sebelumnya, apalagi Tiongkok ditahun 1956,
> dan taraf kesejahteraan rakyat umumnya juga sudah meningkat banyak,
> menurut saya TETAP BELUM tiba saatnya melancarkan revolusi sosialisme
> yang menetapkan kapitalis sebagai sasaran revolusi yang harus
> babat, ... bahkan juga di negara-negara kapitalis termaju didunia ini
> BELUM BISA! Dijaman kapitalis dimana harus kita lalui didunia ini,
> masih tetap harus memperkenankan kapitalis hidup, tumbuh dan
> berkembang. Pemerintah yang berkuasa dengan dukungan dan TUNTUTAN
> rakyat banyak cukup menjinakkan kapitalis berbuat sesuai HUKUM dan
> ketentuan UU yang berlaku, jangan biarkan kapitalis-kapitalis itu
> mengumbar keserakahannya saja!
>
> Revolusi sosialisme dengan membabat kapitalis itu kalian cobalah
> laksanakan disatu negara didunia ini untuk BUKTIKAN KEBENARAN jalan
> pikiran anda yang utopis itu! Dan hanya bisa terjadi dalam mimpi
> disiang hari bolong itu! Revolusi sosialisme hanya bisa ditunda saja
> setelah kesejahteraan masyarakat dinegara itu mencapai kemakmuran
> yang jauh lebih baik, setelah didalam masyarakat itu muncul dan
> tumbuh hubungan produksi baru yang bisa dinamakan hubungan produksi
> sosialis, ...! HARUS BERSABAR, mengikuti perkembangan yang sejalan
> sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat, bukan memaksakan
> kehendak subjektive sendiri yang sudah keburu nafsu dan kebelet
> sekarang juga mesti memasuki masyarakat sosialis. TIDAK AKAN BISA!
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
>
>
> *From:* Tatiana Lukman
> *Sent:* Sunday, October 9, 2016 11:26 PM
> *To:* Chan CT ; Lusi D.
> *Cc:* Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Roeslan ; Daeng ; Gol ;
> Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ;
> Ronggo A. ; Lingkar Sitompul ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo
> Dirgantoro ; Hsin Hui Lin ; Kristian Ginting ; GELORA_In ; Billy
> Gunadi ; Bilven-Ultimus ; Boni Triyana ; Wuting301 ;
> nasional-l...@yahoogroups.com *Subject:* Re: Siauw Giok Tjhan, PKI
> dan Sosialisme
>
> Di bawah ini jawaban saya tentang perbedaan antara NEP dengan reform
> kapitalisnya Deng xiao ping. Di sini tidak ada hubungannya dengan
> falonggung. Yang berhubungan dengan falonggung adalah soal
> 'de-maonisasi". Jangan mencampur aduk. Apa yang anda ajukan di atas
> ini sudah saya jawab di bawah ini. Bahkan sudah saya tunjukkan Lenin
> yang menginstruksikan supaya langkah mundur dihentikan. Ajukan
> dokumen yang memperlihatkan instruski Stalin untuk menghentikan NEP!!
> Dalam waktu 11 tahun sudah berhasil mencapai tujuan NEP. Bandingkan
> dengan kapitalisme Tkk yang sudah lebih 30 tahun, kapan berhenti, dan
> mana unsur-unsur sosialisnya?
>
> Dasar dan alasan saya untuk menolak perbandingan dan digunakannya NEP
> untuk MEMBENARKAN RESTORASI KAPITALIS KAUM REVISIONIS TKK, SEPERTI
> SUDAH SAYA AJUKAN DALAM “jawaban terakhir kepada Chan” adalah sebagai
> berikut.
>
> *Keadaan situasi ekonomi Soviet ketika Lenin mengajukan NEP, sama
> sekali tidak sama dengan situasi Tkk ketika Deng mengadakan reform
> kapitalis guna membongkar struktur sosialis.*
>
> Bulan Mei 1921, Lenin menggambarkan situasi ketika itu sebagai
> berikut: "Owing to our present deplorable conditions, proletarians
> are obliged to earn a living by methods which are not proletarian and
> are not connected with large-scale industry. They are obliged to
> procure goods by petty bourgeois profiteering methods either by
> stealing, or by making them for themselves in a publicly owned
> factory, in order to barter them for agricultural produce -- and that
> is the main economic danger, jeopardizing the existence of the Soviet
> system.". (CW Vol. 32, p. 411). “Deplorable conditions “ itu adalah
> kehancuran ekonomi Soviet setelah keluar dari PD Pertama, kemudian
> diteruskan dengan perang sipil melawan koalisi negeri-negeri
> imperialis yang mendukung sepenuhnya tentara putih di dalam negeri.
> Kekuasaan Soviet baru berumur EMPAT tahun.
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Dan NEP terdiri dari tiga tahap: pertama, mundur ke kapitalisme,
> kedua, konsolidasi dan tahap terakhir, ofensif baru menuju
> SOSIALISME. Di bawah ini penjelasan Martin Nicolaus.
> “ The NEP period of Soviet history comprised three broad phases: *the
> retreat in the direction of capitalism,* *the consolidation* *and*
> *the new offensive toward socialism.* *All three phases, and not only
> the retreat, formed part of the NEP design. Taken as a whole, NEP was
> the policy of transforming the capitalist (and even precapitalist)*
> *economic foundation of the USSR into a socialist foundation; it was
> the policy of laying "the economic foundation for the political gains
> of the Soviet state"* (CW, Vol. 33, p. 73); it was the policy of
> transition during the period when "capitalism has been smashed but
> socialism has not yet been built." (CW, Vol. 30, p. 513) As Lenin
> said in one of his last speeches, in November 1922, "NEP Russia will
> become socialist Russia." (CW, Vol. 33, p. 443).
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Lenin sendiri menyatakan NEP adalah kebijakan transisi di mana
> “kapitalisme sudah dihancurkan tapi sosialisme belum dibangun” (CW,
> Vol. 30, p. 513). Dan November 1922, Lenin menulis:”Rusia dengan NEP
> akan menjadi Rusia sosialis” (CW, Vol. 33, p. 443).
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Juga Lenin sendiri, dalam sambutan dan laporan politiknya pada Kongres
> Partai XI, Maret 1922, yang menyatakan tahap pertama dari NEP sudah
> harus dihentikan. Hubungan antara ekonomi baru Negara dengan ekonomi
> tani, sebagai target NEP secara keseluruhan, memang belum berdiri,
> masih dalam proses pembangunannya. Sudah tiba saatnya untuk masuk ke
> tahap kedua NEP, yaitu “menyusun kekuatan kita sendiri”.
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> “Dalam tahap kedua dan ketiga dari NEP, pedagang dan industri kecil
> dilenyapkan, sehingga padapertengahan tahun 20-an, bagian swasta dalam
> perdagangan menurun, sedangkan bagian Negara naik. Di bidang industri
> manufaktur di mana tadinya seperdelapan dari buruh Rusia bekerja di
> perusahaan-perusahaan swasta, pada tahun 1932, bagian swasta sudah
> berkurang menjadi kurang dari 1%. Pada tahun yang sama, para pedagang
> yang disebut “NEPmen” sudah hilang semua.”(Martin Nicolaus “The
> Restoration of Capitalism in Russia”) Di sini jelas unsur-unsur
> sosialis berkompetisi sengit dengan unsur-unsur kapitalis. Dalam
> kompetisi inilah kaum komunis belajar ekonomi dan administrasi guna
> mengalahkan dan mengatasi unsur-unsur kapitalis. Sedangkan yang
> terjadi di Tkk kapitalis adalah sebaliknya. Tidak ada unsur-unsur
> sosialis karena sudah dihancurkan oleh reformnya Deng. Saya tanya
> bolak balik kepada Chan dan S. Suroso untuk menunjukkan unsur-unsur
> sosialis itu, kalau memang ada. Jawabannya: membisu
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Kesimpulan: Dalam waktu 11 tahun Soviet sudah berhasil mengatasi
> kesulitan stagnasi ekonomi tahun 20-an dan terus membangun sosialisme
> sampai menjadi kekuatan yang mampu mengalahkan fasisme Hitler!
> Cobalah rendah hati sedikit, jangan ikut-ikut kaum revisionis Soviet
> yang menegasi hasil-hasil sosialisme Lenin dan Stalin!!! Apalagi
> memalsu dan memutar balik kenyataan sejarah Soviet! Persis seperti
> Suharto memalsu dan memutar balik sejarah Indonesia dan peran PKI.
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Sekarang simak gambaran ekonomi Tkk yang diberikan oleh Dong Pinghan
> sampai tahun 70-an SEBELUM reform kapitalis Deng.
>
> “Ketika Republik Rakyat didirikan, basis industrinya lebih kecil dari
> Belgia, negeri yang sangat kecil. Output industrinya per kapita
> kurang dari seperlima belas dari Belgia.*Tetapi* *pada jaman* *Mao,
> output industri* *Tiongkok* *meningkat 38 kali dan bagian industri
> berat**nya* *meningkat
> 90 kali.* *Dari tahun 1950 sampai 1977, output industri*
> *Tiongkok**meningkat rata-rata 13,5 persen per tahun*. Kecepatan
> industrialisasi ini lebih cepat dari negeri manapun dalam periode
> yang sebanding. Ia melampaui kinerja Jerman, Jepang, dan Uni Soviet
> selama periode perkembangan yang sebanding. Dari tahun 1880 sampai
> 1914, output industri Jerman naik 33 persen setiap sepuluh tahun dan
> peningkatan per kapita-nya adalah 17 persen. Dari 1874-1929, output
> industri Jepang meningkat 43 persen setiap sepuluh tahun dan
> peningkatan per kapita-nya adalah 28 persen. Antara 1928 dan 1958,
> output industri Soviet meningkat 54 persen setiap sepuluh tahun dan
> peningkatan per kapita-nya adalah 44 persen. Sebagai perbandingan,
> antara tahun 1952 dan 1972, output industri Tiongkok meningkat 64,5
> persen setiap sepuluh tahun dan peningkatan per kapita-nya adalah 34
> per cent.[ Maurice Meisner yang dikutip oleh Dong Pinghan:” Celebrate
> 50 years of the Great Proletarian Cultural Revolution” ] “Selama plan
> lima tahun ketiga dan keempat, Tiongkok menginvestasikan 316.642
> miliar yuan dalam infrastruktur, dan aset industri meningkat sebesar
> 215.740 miliar yuan.Pada tahun 1979, ada 355.000 perusahaan, 2,25
> kali jumlah pada tahun 1965. Pada umumnya, perusahaan milik negara
> ini terus diperluas Di antara perusahaan-perusahaan tersebut,
> perusahaan besar dan menengah berjumlah 4,500.[ Hu Sheng yang dikutip
> oleh Dong Pinghan dalam artikel yang sama]
> “Di bidang energi, antara tahun 1967 dan 1976, output minyak Tiongkok
> meningkat rata-rata 18,6 persen per tahun. Pada tahun 1978, produksi
> minyak bumi per tahunmencapai 100 juta ton, berarti meningkat lima
> kali lipat dibanding tahun 1965. Selama 10 tahun Revolusi Kebudayaan,
> Tiongkok mempertahankan pertumbuhan
> 9,2 persen per tahun dalam output batubara, bahan kimia, dan
> listrik.” [Maurice Meisner].
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Jadi kondisi dan situasi ekonomi Tkk pada tahun 1976-77 SAMA SEKALI
> tidak membutuhkan KEBIJAKAN MUNDUR dan MENGAMBIL MEKANISME KAPITALIS.
> Ketika Deng melakukan reform kapitalis, Tkk sudah melewati dan
> menyelesaikan tahap Revolusi Demokrasi Baru dari tahun 1949 sampai
> tahun 50-an (52/54). Dalam periode inilah Tkk menerapkan KAPITALISME
> NEGARA. Usia RRT ketika Deng mulai membongkar struktur ekonomi
> sosialis sudah LIMA BELAS tahun! Hal ini dijelaskan oleh Hongsheng
> Jiang sbb: “Tahun 1949, setelah hampir 30 tahun berlangsung kekerasan
> revolusioner melawan berbagai macam musuh, penjajah Jepang dan rejim
> Kuomintang, PKT akhirnya merebut kerkuasaan Negara dan mendirikan
> RRT. Sebelum didirikannya RRT, PKT bersama beberapa “partai
> demopkratik dan organisasi rakyat” membuat “program umum Konferensi
> konsultatif politik rakyat Tiongkok yang disyahkan dalam sidang pleno
> Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tkk, tanggal 29 September,
> 1949. Program ini berfungsi sebagai konstitusi sementara yang
> memproklamasikan “RRT adalah sebuah Demokrasi Baru atau Negara
> demokrasi rakyat”. *“Kediktaturan demokrasi rakyat adalah kekuasaan
> Negara front persatuan demokrasi rakyat: klas buruh, kaum tani, kaum
> borjuis kecil, borjuasi nasional dan unsur-unsur patriotic dan
> demokratis lainnya*”. Dinyatakan juga tujuannya adalah “melindungi
> kepentingan ekonomi dan kepemilikan pribadi dari kaum buruh, tani,
> borjuis kecil dan borjuasi nasional” dan “mengembangkan ekonomi
> rakyat Demokrasi Baru dan akan mengembangkan Tkk agraria menjadi Tkk
> industri” (“The Paris Commune in Shanghai” oleh Hongsheng Jiang).
> Sekali lagi harus ditekankan d*alam* *periode inilah* diterapkan
> KAPITALISME NEGARA dan borjuasi nasional bukan musuh revolusi. Jadi
> di Tkk Mao juga menerapkan KAPITALISME NEGARA. Mao tidak melompati
> tahap Revolusi Borjuis Demokratis.
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Setelah Mao meninggal tahun 1976, kaum revisionis MENGEMBALIKAN DAN
> MEMUNDURKAN Tkk ke dalam periode RDB yang sebetulnya sudah lama
> selesai, dengan cara membongkar Komune Rakyat, menghapus status buruh
> tetap, sistim kerja 8 jam, hak mogok buruh, hak-hak demokratis yang
> didapat sebagai hasil RBKP, yaitu 4 Besar: Da ming (speeking freely),
> Da fang (airing vieuws fully), Da zi bao (writing big character
> posters), Da bian lun (holding big debates), pelayanan kesehatan dan
> pendidikan gratis dan jaminan social lainnya. KEMUNDURAN KE TAHAP
> “RDB” ini sebetulnya adalah apa yang disebut RESTORASI KAPITALISME.
> Dan inilah yang oleh kaum revisionis diselubungi dengan nama “tahap
> awal sosialis” dan anda menggunakan nama “RDB”. Anda ingin
> menunjukkan seolah-olah ingin menerapkan RDB nya Mao, padahal RDB nya
> Mao sudah lama selesai. Dan dari dulu sampai sekarang anda tetap
> tidak bisa menjawab pertanyaan saya nomer 4, yaitu “Anda bilang
> periode revolusi Tkk sekarang adalah Rev. Demokrasi Baru. Siapa musuh
> dan kawan atau sekutu dalam RDB sekarang? Tolong bandingkan dengan
> RDB Mao yang sudah selesai pada tahun 50-an. Dalam RDB-nya Mao,
> musuhnya adalah kaum tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador dan
> kaum imperialis. Lantas apa nama periode revolusi sejak PKT didirikan
> sampai Mao meninggal tahun 1976? Apa cara produksi (mode of
> production) di Tkk sekarang, yaitu di “Sosialisme dengan ciri Tkk”?
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Mengapa tidak bisa jawab? Jawabannya sederhana saja. Karena
> memang*tidak mungkin* dan absurd menamakan periode dari 1976 sampai
> sekarang sebagai periode RDB!!!! Bayangkan RDB anda sudah berlangsung
> selama 40 tahun!!! Inikah perkembangan Marxisme oleh Deng? Seperti
> sudah saya bilang berkali-kali: musuh RDBnya Mao justru berubah
> menjadi PENGUASA Tiongkok sekarang dan SEKUTU dalam periode RDBnya
> kaum revisionis seperti anda!!! Mereka adalah kaum kabir, kapitalis
> komprador dan kaum imperialis!!! Tapi ini anda tutupi dengan alasan
> jaman sudah berubah, kelihaian diplomasi Tkk dan tuduhan kepada saya
> sebagai orang yang mandeg, tidak melihat kenyataan dan
> sebagainya….Dan herannya, anda masih punya muka untuk mengklaim
> menjunjung FMTT dan menjalankan RDBnya Mao!!! Ini kan betul-betul
> pemalsuan dan penipuan! RDBnya Mao yang hanya berlangsung kurang
> lebih 5-6 tahun setelah RRT didirikan, anda sulap menjadi 40 tahun
> dan tidak tahu kapan selesainya!!!!
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Akhirnya memang masalahnya, seperti juga berkali-kali bung Sie tik
> katakan, ada pada pendirian kelas dan pada kelas mana orang
> memihak.Dalam diskusi dengan Lusi atau Roeslan pun tampak jelas
> bahwa anda SELALU BERPIHAK KEPADA KAUM MAJIKAN, KAUM KAPITALIS, KAUM
> PENGUASA. Oleh karena itu KOLABORASI KELAS kaum revisionis Tkk bagi
> anda adalah kelihaian diplomasi Tkk.
> Salah satu tujuan NEP adalah memperbaiki dan memperkuat aliansi
> antara kaum buruh dan kaum tani. Karena dalam “War Communism”,
> kebijakan yang diterapkan sejak 1918, selama berlangsung perang
> sipil, adalah untuk menghadapi agresi negeri-negeri imperialis dan
> kekuatan tentara putih dalam negeri yang ingin mencekik Soviet.
> Negara menguasai semua sector produksi, baik pertanian maupun
> industry dan distribusi diabdikan pertama-tama untuk usaha melawan
> serangan musuh luar dan dalam negeri. Dapat dibayangkan penderitaan
> dan pengorbanan kaum tani, kaum buruh dan sector penduduk lainnya.
> Kelaparan memang terjadi dalam periode itu. Setelah kekuasaan Soviet
> berhasil dipertahankan dan musuh dikalahkan, maka Lenin mengambil
> NEP, disamping untuk menstimulasi ekonomi yang dalam keadaan hancur,
> juga memajukan aliansi buruh tani melalui terjalinnya ekonomi tani
> dengan ekonomi baru Negara.
>
> <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
> <!--[endif]-->
> Kebijakan lain dalam pertanian selama berlangsung NEP yang harus
> diingat adalah dimulainya proses kolektivisasi. Hal ini juga diajukan
> oleh AA, yaitu pendirian (KOLHOZ) dan pertanian negara (SOLHOZ).
> Artinya Soviet ketika itu kembali mengambil mekanisme kapitalis tapi
> bersamaan dengan itu juga menuju ke Sosialisme, yaitu dengan
> kolektivisasi dalam pertanian. Nah, sekarang bandingkan dengan apa
> yang diperbuat Deng dengan reform kapitalisnya. Seperti kata prof.
> Wertheim, Komune Rakyat dibubarkan! Apa ini tidak bertentangan dengan
> NEPnya Lenin dan Stalin??? Mao berusaha meningkatkan kesadaran kaum
> tani supaya meninggalkan cara produksi individualnya dan dengan
> demikian memupuk perasaan dan semangat kolektif. Dari pembentukan tim
> saling bantu sampai Komune rakyat. Tapi Deng malah
> membubarkannya!!!Apa arti pembubaran Komune rakyat? Artinya hubungan
> dan aliansi antara kaum buruh dan kaum tani dihancurkan!!! Apa tidak
> kelihatan jelas perbedaan fundamental antara NEP dan reform
> kapitalisnya Deng!
>
>
>
> On Sunday, October 9, 2016 3:54 PM, Chan CT <sa...@netvigator.com>
> wrote:
>
>
> *Tatiana:*
> *Saya bilang Liu-Deng revisionis, pengkhianat usaha sosialisme,
> pengkhianat FMTT berdasarkan pada sepak terjang dan teorinya sendiri
> yang sudah saya ajukan dengan panjang lebar. Tapi semuanya itu sama
> sekali tidak anda sentuh!!! Apakah pembongkaran Komune rakyat dan
> penghapusan semua hak-hak kaum buruh itu (sudah bolak balik saya
> ajukan) bukan fakta? Jelaskan alasan anda untuk menolak bahwa
> Liu-deng dan anda sendiri bukan penempuh jalan kapitalisme? Berikan
> bantahan bahwa Liu-Deng tidak merevisi esensi Sosialisme? *
>
> *ChanCT:*
> Saya juga sudah berulang kali mengajukan argumentasi dengan
> menyangkal data yang kalian gunakan itu TIDAK AKURAT, bahkan dari
> Falungong! Apanya yang tidak disentuh, ...??? Bukan kalian yang tidak
> membacanya dengan baik-baik apa yang saya ajukan?!
>
> Masih di sekitar tgl 22-23 Sept. saat memperbincangkan “Kapitalisme
> Negara” nya Lenin, dibawah ini apa yang pernah saya menyatakan dan
> tidak anda tanggapi, ...:
>
> Lenin dengan berani menyebutkan “kapitalisme negara” masih dibawah
> diktatur proletariat, karena tali kendali ekonomi nasional tetap
> dipegang oleh NEGARA, dengan menggunakan BUMN-BUMN nya. Sedang Deng,
> menyatakan ekonomi sosialis mempunyai ekonomi pasar nya sendiri,
> dengan tetap mempertahankan keunggulan ekonomi sosialis dengan
> mengambil keunggulan ekonomi pasar! Membuang bagian-bagian ekonomi
> sosialis berencana yang terlalu tersentralisasi, artinya berikan
> kebebasan daerah juga ikut menentukan sendiri pengembangan ekonomi
> daerah sesuai kebutuhan dan kondisi konkritnya. Sedang ekonomi pasar
> juga dijalankan secara terbatas saja, tidak dibiarkan berkeembang
> liar apalagi menjadi neolibralisme! Dan kenyataan yang dijalan RRT,
> tali kendali ekonomi nasional TETAP dipegak erat-erat oleh NEGARA!
> Tidak bedanya dengan pemikiran Lenin.
>
> Jadi, nampak jelas, yang SALAH adalah Stalin, yang kata Fuwa Tetsiro,
> setelah 5 tahun Lenin meninggal, keputusan Lenin NEP nya itu dicabut,
> membatalkan meneruskan “kepitalisme negara” dibawah diktatur
> propletariat! Dan itulah yang kemudian juga diikuti oleh Mao setelah
> tahun 1956 di Tiongkok. Jadi ikutan SALAH! TENTU, menyatakan Stalin
> dan Mao salah dalam hal membabat kapitalis, jangan kebablasan menjadi
> menghujat bahkan menegasi jasa-jasanya yang luar biasa besarnya bagi
> RAKYAT Rusia dan RAKYAT Tiongkok! Begitu sikap Deng terhadap
> kesalahan Mao dan dengan TEGAS menyalahkan sikap Krushchove yang
> menghujat Stalin dan anti-Stalin!
>
> Begitu juga dengan Deng membubarkan komune rakyat ditahun 1980 itu,
> dia tidak anti-komune rakyat secara prinsip. Tidak! Yang disalahkan,
> dilaksanakan terlalu cepat, karena KESADARAN petani di TIongkok belum
> sampai kekesadaran sepenuhnya kerja kolektif, usaha meningkatkan
> KESADARAN rakyat itu TIDAK bisa dipaksakan apalagi gunakan KEKERASAN!
> Harus dilakukan dengan SABAR melalui proses kehidupan dan kerja yang
> cukup panjang, agar mereka sendiri mencapai kekesadaran KERJA
> KOLEKTIF sebagai KEHARUSAN! Itulah yang saya perhatikan mengapa desa
> Xiao Gang yang dipilih dan diangkat menjadi model desa reformasi yang
> BERHASIL, merubah desa miskin terbelakang menjadi desa yang maju
> sekarang ini. Karena desa Xiao Gang itulah yang menempuh jalan wajar
> sebagaimana proses kesadaran PETANI yang terjadi. Setelah hak-guna
> tanah diserahkan kembali pada setiap keluarga petani, kembali terjadi
> kerja petani secara individual, sendiri-sendiri yang ternyata sulit
> untuk berkembang. Muncullah 18 petani bertekad mensukseskan produksi
> pertaniannya, menyatukan diri bekerjasama, dan kemudian membentuk
> koperasi kerja dan kemudian ditingkatkan menjadi koperasi tingkat
> tinggi, yang mengolah kebutuhan dan kepentingan warga desa Xiao Gang.
> Kalau diperhatikan lebih lanjut, sekalipun belum menyebutkan diri
> komune rakyat, hakekat koperasi-tingkat tinggi di Xiao Gang itu ya
> sudah komune rakyat! Mengapa? Karena hak-guna tanah yang semula
> dibagikan pada petani itu, semua sudah tergabung kembali dalam SAHAM
> koperasi yang mereka bentuk, dan pembagian pekerjaan juga dilakukan
> oleh barisan produksi yang mereka tentukan sendiri.
>
> https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/194113
> <https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/
messages/194113?soc_src=mail&soc_trk=ma>
> Tentu saja anda tidak pernah bisa berhasil memahami yang
> diperjuangkan SGT adalah SOSIALISME, sekalipun dimasa hidupnya di
> Indonesia, selama itu Siauw berjuang keras tetap mempertahankan
> sistem kapitalis yang menjamin tumbuh/berkembangnya modal domestic.
> Sama halnya anda tidak pernah bisa memahami pejuang-pejuang kawakan
> macam Liu-Deng yang menyabung nyawa bersama Ketua Mao dalam
> perjalanan Long March, hanya karena hendak tetap memperkenankan
> kapitalis di TIongkok tumbuh berkembang, ... tetap memperkenankan
> kapitalis ikut berperan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena
> anda TIDAK BERANI melihat kenyataan konkrit tingkat perjuangan
> sekarang didunia ini, dimana masyarakat masih miskin, kapitalisme
> baru tumbuh, klas BURUH masih minoritas dan lemah, ... tenaga
> produksi masih terbelakang, mayoritas mutlak adalah PETANI, TIDAK
> bisa membasmi KAPITALISME! Lenin yang BENAR ditahun 21, dengan berani
> mengoreksi kesalahan semula membabati kapitalis yang baru tumbuh di
> Rusia, menetapkan NEP, kembali memperkenankan kapitalis tumbuh
> berkembang bahkan juga kapitalis-asing. Yang SALAH itu Stalin,
> setelah 5 tahun Lenin meninggal mencabut keputusan NEP nya Lenin, ...
>
> Hari ini (29 Sept 2016) sayapun mendapatkan kabar gembira, rupanya
> Xi-Li setelah memimpin 1000 hari, menetapkan perbaikan nasib bagi 9
> kelompok warganya. Langkah konkrit dari program Kongres ke-18 PKT
> dengan plan 5 Tahun ke-13 yang menargetkan menyelesaikan 70 juta
> rakyat miskin yang tersisa dalam waktu 5 tahun kedepan, atau
> konkritnya selesai di tahun 2020, Tiongkok bebas dari rakyat miskin!
> Apakah ini bukan satu keberhasilan luar biasa dari PKT yang menempuh
> jalan Sosialisme bercirikhas Tiongkok!
>
> Bukankah ini SATU PRESTASI yang luar biasa dalam usaha mengentaskan
> KEMISKINAN yang selama ini diderita 1,4 milyar RAKYAT Tiongkok! Itulah
> jalan sosialisme yang ditempuh Tiongkok sekarang ini, ... sudah
> ratusan juta lapisan klas menengah! Coba saja perhatikan bagaimana
> rakyat TIongkok menggunakan hari liburnya untuk bertamasya, tidak
> hanya didalam negeri ke kota-kota besar dan daerah-daerah
> berpemandangan indah, laut dan gunung, juga keluar negeri. Dan
> menjadi harapan banyak negara didunia untuk mengundang masuk
> touris-tourist dari RRT, sekalipun dipihak lain banyak penduduk
> setempat jadi jengkel dengan kejorokan dan kekasaran sikap touris RRT
> itu, karena banyak diantara mereka memang asal PETANI yg belum
> berkebudayaan! Jadi, disatu pihak kurang senang, tapi dipihak lain
> tergiur dengan daya belanja yang kuat! Hehehee, ...
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
> *From:* Tatiana Lukman
> *Sent:* Sunday, October 9, 2016 6:43 PM
> *To:* Lusi D. ; Chan CT
> *Cc:* Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Roeslan ; Daeng ; Gol ;
> Mitri ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ;
> Ronggo A. ; Lingkar Sitompul ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo
> Dirgantoro ; Hsin Hui Lin ; Kristian Ginting ; GELORA_In ; Billy
> Gunadi ; Bilven-Ultimus ; Boni Triyana ; Wuting301 ;
> nasional-l...@yahoogroups.com *Subject:* Re: Siauw Giok Tjhan, PKI
> dan Sosialisme
>
> Chan : Sangat baik untuk diikuti lebih seksama bagaimana seharusnya
> melihat
> > masalah, melihat secara TEPAT sikap seorang PEJUANG yang telah
> > menyabung nyawa dan mengorbankan segalanya demi RAKYAT BANYAK, ...
> > hanya karena BEDA PENDAPAT, menentang kebijaksanaan Lenin, Stalin,
> > Mao, ... PKI, lalu seenak udelnya mencap remo, penghianat, penempuh
> > jalan kapitalisme, anti PKI, anti Sosialisme dan bahkan anti
> > komunisme. Seolah-olah hanya dirinya sendirilah yang paling BENAR,
> > paling MURNI dan paling SUCI didunia ini.
>
> *Tatiana:*
> *Nah, beginilah selalu reaksi orang yang mengklaim dirinya“selalu
> pakai otak sendiri”. Sama sekali tidak memperdulikan, apa lagi
> menjawab argumentasi dan alasan yang saya ajukan . Saya bilang
> Liu-Deng revisionis, pengkhianat usaha sosialisme, pengkhianat FMTT
> berdasarkan pada sepak terjang dan teorinya sendiri yang sudah saya
> ajukan dengan panjang lebar. Tapi semuanya itu sama sekali tidak anda
> sentuh!!! Apakah pembongkaran Komune rakyat dan penghapusan semua
> hak-hak kaum buruh itu (sudah bolak balik saya ajukan) bukan fakta?
> Jelaskan alasan anda untuk menolak bahwa Liu-deng dan anda sendiri
> bukan penempuh jalan kapitalisme? Berikan bantahan bahwa Liu-Deng
> tidak merevisi esensi Sosialisme? Ajukan argumentasi anda bahwa
> “Sosialisme dengan ciri Tkk” bukan penipuan dan tunjukkan unsur-unsur
> sosialisnya! Jelaskan teori anda bahwa periode revolusi Tkk sekarang
> adalah RDB!! Sampai sekarang anda tidak mampu menjawab
> pertanyaan-pertanyaan itu, tapi kok masih punya muka untuk menuduh
> seolah-olah saya menuduh asal menuduh. Kalau anda masih mau pakai
> akar sehat, sebenarnya anda tidak bisa menuduh saya “mencap seenak
> udelnya sendiri”, karena saya mengajukan bukti-buktinya. Bukan
> tuduhan namanya, kalau orang bisa menampilkan bukti-buktinya. Memang
> tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang yang sudah tidak berpikir
> sehat lagi!!! *
>
> *Saya masih harus menunda jawaban terhadap STDjin, karena kekurangan
> waktu. Soal SGT, PKI dan Sosialisme pun belum selesai. *
>
>
> On Sunday, October 9, 2016 10:33 AM, Lusi D. <lus...@rantar.de> wrote:
>
>
> Lha selama ini bung Chan menulis bukan pikirannya sendiri tokh?
>
>
>
>
> Am Sun, 9 Oct 2016 10:21:13 +0800
> schrieb "Chan CT" <sa...@netvigator.com>:
>
> > Nah, akhirnya S Tiong Djin berhasil meluangkan waktu menanggapi
> > sendiri tulisan Tatiana sehubungan dengan buku tulisannya. Lihat
> > tulisan dibawah ini.
> >
> > Sangat baik untuk diikuti lebih seksama bagaimana seharusnya melihat
> > masalah, melihat secara TEPAT sikap seorang PEJUANG yang telah
> > menyabung nyawa dan mengorbankan segalanya demi RAKYAT BANYAK, ...
> > hanya karena BEDA PENDAPAT, menentang kebijaksanaan Lenin, Stalin,
> > Mao, ... PKI, lalu seenak udelnya mencap remo, penghianat, penempuh
> > jalan kapitalisme, anti PKI, anti Sosialisme dan bahkan anti
> > komunisme. Seolah-olah hanya dirinya sendirilah yang paling BENAR,
> > paling MURNI dan paling SUCI didunia ini.
> >
> > Salam,
> > ChanCT
> >
> >
> > From: Djin Siauw
> > Sent: Sunday, October 9, 2016 12:14 AM
> >
> >
> >
> >
> > Tatiana yang baik
> >
> >
> >
> > Apa kabar?
> >
> >
> >
> > Pertama saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian besar Anda
> > atas tulisan-tulisan saya tentang SGT dan upaya Anda melakukan
> > penelitian tentang sosok SGT dan jalan pikirannya.
> >
> >
> >
> > Saya terperanjat melihat diskusi Anda meluncur ke sebuah kesimpulan
> > bahwa saya menyalah gunakan nama SGT untuk mengukuhkan sikap saya
> > yang anti PKI dan pendukung kapitalisme. Entah dari mana kesimpulan
> > ini lahir.
> >
> >
> >
> > Saya tidak akan berpanjang lebar dan secara terperinci menanggapi
> > semua butir argumentasi yang Anda tuangkan di dalam tulisan-tulisan
> > Anda di dunia maya. Secara singkat dan global saya yang akan
> > mengemukakan beberapa hal sbb:
> >
> >
> >
> > 1. Saya dan saya yakin kakak saya, tidak pernah bersikap anti
> > PKI, anti sosialisme maupun anti komunisme. Bahwa kami melihat
> > perkembangan dunia dan bagaimana pemerintah seharusnya menjamin
> > kesejahtraan rakyat dengan kaca mata berbeda dengan Anda, itu bisa
> > saja. Dan kalau Anda mendukung paham demokrasi, sebenarnya perbedaan
> > ini tidak perlu mengundang permusuhan atau perdebatan sengit yang
> > tidak membangun.
> >
> >
> >
> > 2. Saya tidak pernah menyatakan di dalam tulisan-tulisan saya
> > bahwa SGT anti PKI dan getol mendukung kapitalisme dalam arti yang
> > Anda singgung. Itu tidak pernah tertuang di dalam tulisan-tulisan
> > saya. Kutipan-kutipan yang Anda ambil dari tulisan-tulisan
> > tersebut, menurut saya out of context. Entah apakah sebenarnya
> > Anda sudah membaca buku saya tentang biografi politik SGT secara
> > keseluruhan? Mungkin kalau Anda membaca buku tersebut dengan teliti
> > dan dengan kepala dingin, Anda akan mencapai sebuah kesimpulan yang
> > berbeda.
> >
> >
> >
> > Yang saya tegaskan dalam tulisan-tulisan itu adalah: SGT bukan
> > anggota PKI. Akan tetapi dalam perjuangan mencapai sosialisme ala
> > Indonesia, ia sepenuhnya sejalan dengan Soekarno, PKI dan
> > partai-partai kiri lainnya.
> >
> >
> >
> > 3. Secara ringkas saya ulangi berbegai hasil penelitian saya ttg
> > SGT:
> >
> >
> >
> > a. Ia adalah seorang Marxist yang mengangumi keberhasilan Mao Tse
> > Tung dalam membangun masyarakat sosialisme di Tiongkok. Dalam
> > konteks ini, ia tentu saja sangat dekat dengan banyak tokoh PKI dan
> > tidak mungkin memiliki sikap anti PKI.
> >
> >
> >
> > b. Dekat dengan banyak tokoh PKI dan tidak anti PKI bukan berarti
> > ia tidak pernah menentang beberapa kebijakan PKI dan sikap politik
> > para tokohnya. Justru karena ia bukan anggota PKI, ia bisa bebas
> > bersikap di luar disiplin partai.
> >
> >
> >
> > c. Hubungan dengan banyak tokoh PKI sudah terjalin sejak tahun
> > 30-an dan sejak kegiatan politik di awal kemerdekaan pada waktu SGT
> > turut memimpin Partai Sosialis.
> >
> >
> >
> > d. Akan tetapi SGT yang sejak FDR bubar pada tahun 1948, tidak
> > lagi tergabung dalam partai apapun. Dan ini nampak dari sepak
> > terjangnya di parlemen. Ia jelas tidak mengikuti disiplin partai
> > apapun. Di zaman demokrasi parlementer (1949-1959), ia mendirikan
> > dan memimpin Fraksi Nasional Progresif yang terdiri dari beberapa
> > partai nasionalis dan beberapa tokoh tidak berpartai. Partai yang
> > paling berpengaruh di fraksi ini adalah Murba, yang bisa
> > dikategorikan “musuh politik” PKI sejak awal kemerdekaan.
> >
> >
> >
> > SGT-pun sangat dekat dengan tokoh-tokoh Murba. SGT berperan dalam
> > mendorong Sukarni, ketua Murba, untuk menjadi dubes RI di RRT pada
> > 1961. Ketika PKI memimpin gerakan mengganyang Murba di zaman
> > Demokrasi Terpimpin, SGT menolak membawa Baperki turut melakukan
> > pengganyangan tersebut. Sikap ini sangat dihargai oleh banyak tokoh
> > Murba, terutama Adam Malik, sehingga selama SGT menjadi tapol, Adam
> > Malik secara diam-diam berupaya membantunya – dengan kerap mengatur
> > pemeriksaan kesehatan SGT di RSPAD. Dan Adam Malik-lah sebagai
> > Wapres yang memungkinkan SGT memperoleh “exit-permit” untuk berobat
> > di Belanda pada September 1978.
> >
> >
> >
> > e. Di zaman Demokrasi Parlementer, Berbagai RUU (Rancangan
> > Undang-Undang) diperdebatkan di parlemen. Kerap terjadi perdebatan
> > antara anggota-anggota Fraksi Nasional Progresif dengan
> > anggota-anggota Fraksi PKI. Anda bisa mengikuti berbagai perdebatan
> > ini di risalah-risalah dan ikhtisar-ikhtisar parlemen.
> >
> >
> >
> > f. Menurut saya kebijakan ekonomi PKI di zaman Demokrasi
> > Parlementer berdeda dengan kebijakan ekonomi di zaman Demokrasi
> > Terpimpin, terutama setelah 1963. SGT kerap memberi masukan ke para
> > tokoh PKI, termasuk Njoto dan ayah Anda, dalam perumusan kebijakan
> > ekonomi PKI, karena ia memang dianggap ahli ekonomi di kalangan
> > politikus kiri (Utrech, yang juga berada di DPA bersama SGT,
> > menyatakan kepada saya, bahwa berbagai rumusan ekonomi yang kemudian
> > masuk dalam pidato2 Soekarno kerap diutarakan SGT dalam DPA).
> >
> >
> >
> > Jadi tidak mengherankan bahwa kebijakan-kebijakan PKI di zaman
> > demokrasi terpimpoin seirama dengan apa yang SGT utarakan sejak
> > zaman Demokrasi Parlementer, terutama yang berkaitan dengan
> > pengembangan modal domestic. Apalagi setelah konsepsi ini masuk
> > dalam Manipol, GBHN 1963 dan masuk pula dalam pidato kenegaraan
> > Bung Karno. Kesemuanya ini didukung baik secara sungguh-sungguh
> > maupun secara lip service oleh semua partai dan ormas politik di
> > zaman itu. Dan kebijakan-kebijakan PKI yang Anda uraikan keluar di
> > zaman itu pula. Mungkin Anda perlu memperhatikan kebijakan ekonomi
> > PKI pada tahun 50-an.
> >
> >
> >
> > g. Salah satu contoh perbedaan konsep tentang “kapitalisme”
> > antara SGT dan yang dianut oleh PKI bisa dilihat dalam perdebatan
> > antara SGT dan Sakirman di parlemen pada 1951 tentang RUU Pedoman
> > Baru – yang menghendaki semua kepemilkan perusahaan bis dan
> > transportasi dialihkan ke tangan “golongan ekonomi lemah” – artinya
> > non Tionghoa dan pengharusan semua perusahaan baru dimiliki oleh
> > 75% WNI. SGT menentang kebijakan ini berdasarkan argumentasi bahwa
> > perusahaan-perusahaan yang dimiliki para pedagang Tionghoa yang
> > sudah berpengalaman sejak zaman penjajahan Belanda - apapun status
> > kewarganegaraan-nya, seharusnya dilindungi dan dibantu
> > perkembangannya, karena ini akan membantu pembangunan ekonomi
> > nasional. Sakirman menentang SGT yang dianggapnya menginginkan
> > dipertahankannya sistim kapitalisme yang merugikan pembangunan
> > ekonomi.
> >
> >
> >
> > Saya ketengahkan pula dalam tulisan2 saya bahwa massa Baperki
> > sebagian besar adalah pedagang-pedagang Tionghoa. Konsepsi
> > “kapitalisme” yang didukung oleh SGT seirama dengan jati diri
> > mereka. Komunisme yang dikenal pad
> ...


Kirim email ke