Seandainya yang dipakai standar internasional USD 2 perhari atau sekitar Rp 800 
ribu perbulan, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 
60%, 70%?
 

 ---
 BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per 
bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan 
di bawah USD 2  per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," ujarnya.

 ...
 
http://www.jpnn.com/read/2016/10/22/475897/Yakin-Pengangguran-dan-Kemiskinan-Turun-di-Era-Jokowi-JK-
 
http://www.jpnn.com/read/2016/10/22/475897/Yakin-Pengangguran-dan-Kemiskinan-Turun-di-Era-Jokowi-JK-

  
 Sabtu, 22 Oktober 2016 , 14:48:00
 Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK?
 

 
 
 
 Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati dalam diskusi Dua Tahun Pemerintahan Jokowi 
JK di Jakarta Pusat, Minggu (22/10). Foto: Ricardo/JPNN.Com
 JAKARTA - Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati mengakui adanya penurunan angka 
pengangguran terbuka selama pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagaimana 
catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, Enny juga menyodorkan fakta bahwa 
BPS mencatat adanya penurunan upah buruh di sektor pertanian dan buruh bangunan 
dalam dua tahun terakhir pemerintahan yang lebih dikenal dengan sebutan 
Jokowi-JK itu.
 "Jadi BPS itu juga mencatat ada penurunan upah ril buruh tani sebesar 4,35 
persen dan buruh bangunan 2,28 persen," ujar Enny saat menjadi pembicara 
diskusi tentang Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Cikini, Jakarta Pusat, 
Sabtu (22/10).
 Pemerhati ekonomi yang juga direktur di INDEF itu menambahkan, ketika upah 
bagi kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ataupun buruh bangunan 
menurun, maka penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 
Akibatnya, anak atau istrinya terpaksa ikut bekerja di sektor informal.
 “Ini yang membuat angka pengangguran terbuka terlihat menurun. Tapi yang 
merasakan tidak demikian. Misalnya inflasi memang tiga persen, tapi inflasi 
bahan makanan mengalami kenaikan luar biasa. Padahal harga komoditas dunia 
turun, harga pangan kita sendiri saja yang naik," ujar Enny.
 Selain itu, katanya, kebutuhan terhadap pangan mencapai 70-80 persen dari 
porsi pengeluaran rumah tangga bagi berpendapatan menengah ke bawah. Akibatnya 
ketika inflasi meningkat, maka masyarakat tidak mampu membeli komoditas 
non-pangan.
 Enny juga menyinggung menurunnya angka kemiskinan. Ia menganggap penurunan 
angka kemiskinan hanya karena patokan untuk mengukurnya.
 
 BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per 
bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan 
di bawah USD 2  per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," 
ujarnya.(gir/jpnn)
 

 

Kirim email ke