Saya suka ide bung bahwa “daya pikir” berkorelasi dengan kemiskinan. Ini diluar jangkauan ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi tidak akan bisa mengukur masalah kwalitatif seperti ini.
Tidak mungkin ilmu ekonomi atau ilmu apapun dapat mengukur bagaimana tingkat kemiskinan naik turun karena sholat misalnya. Mungkin bisa mengukur kalau sholat 3 jam, 2 menit, 19 menit akan mempengaruhi produkfitas kerja lalu dikorelasikan ke kemiskinan. Ini bisa terjadi. Tetapi ini ada asumsi yg digunakan dan tetap tidak dapat melihat bagaimana sholat itu sendiri mempengaruhi orang jadi miskin. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan arti dari miskin itu sendiri dimana ada orang yg berpendapat miskin itu tidak diukur dari duit. Belum tentu orang miskin duit juga miskin kebahagian dlsbg. Bagaimana mengukur tingkat kemiskinan yg disebabkan oleh kultur masyarakat yg primordialisme, feodalisme, kenyamanan masyarakat dengan apa2 yg telah dimilikinya, kedekatan dirinya dengan Tuhannya dll. Yang disibukkan oleh kebanyakan orang adalah miskin karena duit. Tetapi belum tentu ini benar krn ada masyarakat yg tidak merasa miskin walaupun hanya berpendapatan $2/hari di Indonesia. Dikasih pekerjaan yg lebih banyak dan berat, mereka2 ini belum tentu mau. Ini terjadi didaerah2 yg religious nya tinggi. Mereka sudah puas dengan apa2 yg telah mereka miliki. Lain sekali dengan cara berpikir orang yg selalu melihat science seperti ilmu ekonomi yg selalu mengukur tingkat kemiskinan dari satu indicator. Lebih celaka lagi adalah mereka2 yg menggunakan data2 ini tanpa mengerti artinya dan apalagi menggunakannya sbg alasan politik utk mencerca musuh politiknya. Salam Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, October 22, 2016 3:49 PM To: GELORA_In <[email protected]>; NESARE <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK? TENTANG KEMISKINAN dari suatu Masyarakat Bangsa /Negera > Semua Data tentang KEMISKINAN adalah Informasi Real dalam bentuk Statistik > dan Perhitungan serta Bilance /Neraca Input dan Input yang Kita Ikuti , > analysa dan Kita pakai sbg DATA INDIKATOR tentang Turbulence (Turun/Naiknya) > angka Kermiskinan. > Dan orang cendrung terpesona dan atau memusatkan Fokus Alaysanya pada Diagram > dan Curve Schema Statistik dari X/Y faktor tsb dan atau orang cenderung > mencari Pembuktian melalui pada Metode Imperical dalam usha membuktikan dan > MEMATERI-kan KEBENARAN ARGUMENTNYA ( They used to provide some considerable Empirical Evidence to support their own Argument in order to show and justify their Argument as an infallible one....) >> Dan Kita cukup lengah dan melupakan INDIKATOR YANG PALING POKOK dan yang >> PALING DASAR yaitu : APA YANG SEBENARNYA yang menyebabkan Turun /Naiknya >> ANGKA2 KEMISKINAN tsb .... * Apakah hal tsb benar2 hanya disebabkan Faktor Ekonomi, faktor Neracan Perdagangan Balance of Trade ) dan Factor yang erat berkaitan > kurs SDR dan atau akibat Jatuhnya Saham2 di Bursa Effect ( Stock Exchange) ataukah Lemahnya investasi dan Lesunya Pasar Komodity Export in contrast dengan Menurunnya Aktivitas Produksi dan atau Rendahnya Produktivitas Kerja dan atau kah semuannya itu Pengaruh Politik Buruk Pemerintah dan atau Bad Governance,.. ? ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Menurut hemat saya INDIKATOR YANG PALING POKOK dan yang PALING DASAR yang TIDAK NAMPAK dan Tidak bisa DIMATERIKAN (NON COMMERCIAL REASONS) ATAU YANG TIDAK BISA DIUKUR SEMATA dalam bentuk DATA2 STATISTIK dan GRAF dari ANALYSA IMPERIST tsb tentang Meningkatnya KEMISKINAN dan PENEYEBABNYA ... THE INVISIBLE NON COMMERCIAL INDOKATOR TSB justru adalah RENDAHNYA DAYA PIKIR MASYARAKAT pada umumya dan DAYA PIKIR sementara PEMIMPIN2 , PEJABAT2 POLITIK DAN PARA DECISION MAKERS dalam membuat RUMUSAN2 /ANALYSA2 serta RESEARCH yang meyakinkan tentang PETA KEMISKIAN itu sendiri...... > KARENA KEMISKINAN itupun TIDAK TUMBUH AUTOMATIS DENGAN SENDIRINYA, sperti > juga setiap JAMUR ada Faktor2 Penyebab Utama yang MENDORONG kearah Tumbuh dan > berkemabngnya setipa Jamur tsb......dan sama halnya dengan ANGKA KEMIKINANA > SELALU ADA PENYEBABNYA , bahwa KEMISKINAN adalah PRODUKT KETIDAK-TAHUAN , > PRODUKT KETIDAK- SADARAN, PRODUKT KEBODOHAN , PRODUKT KELEMAHAN DAYA PIKIR , > PRODUKT dari KETIDAK ADANYA PERTANGGUNGAN JAWAB INDIVIDU DAN TANGGUNG JAWAB > KOLEKTIVE ( Sense of Belonging > Rasa Pemilikan dan Pertangungan jawaban > Bersama ), dan adalah juga PRODUKT SYSTEM dan TINGKAT PENDIDIKAN serta SYSTEM INFORMASI YANG RENDAH MUTUNYA . AKIBATNYA JELAS ..................dan jika MANUSIA2 SEJANIS INI bisa berhasil DUDUK dan MENDUDUKI JABATAN2 YANNG TINGGI dan MENTUKAN....maka pada akhirnya KITA AKAN PULA LANGSUNG MERASAKAN tentang BAGAIMANA RENDAH MUTU dan atau LEVEL MANAGEMENT yang ada dan selalu Hadir diberbagaiSektor Kehidupan Masyarakat Bangsa ..... >> ...dan selanjutya , AKIBATNYA > Cepat atau Lambat akan nampak dan >> tercermin dalam ANGKA2 dan atau DATA2 STATISTIK yang gencar didiskusikan >> sebagai INDIKATOR to justify The ARGUMENT ........................ Sekia singkatnya. Marc. 2016-10-22 20:05 GMT+02:00 [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> >: Kalau pakai standard mars USD 3 perhari, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%? Kalau pakai standard dewa dewi USD 10 perhari, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%? Kalau pakai standard USA jaman clinton USD 17 perhari, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%? Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ] Sent: Saturday, October 22, 2016 1:59 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [GELORA45] Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK? Seandainya yang dipakai standar internasional USD 2 perhari atau sekitar Rp 800 ribu perbulan, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%? --- BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan di bawah USD 2 per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," ujarnya. ... http://www.jpnn.com/read/2016/10/22/475897/Yakin-Pengangguran-dan-Kemiskinan-Turun-di-Era-Jokowi-JK- Sabtu, 22 Oktober 2016 , 14:48:00 Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK? <http://jpnn.com/picture/watermark/20161022_145224/145224_628027_Enny_Hartati_indef_jpnn.jpg> Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati dalam diskusi Dua Tahun Pemerintahan Jokowi JK di Jakarta Pusat, Minggu (22/10). Foto: Ricardo/JPNN.Com JAKARTA - Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati mengakui adanya penurunan angka pengangguran terbuka selama pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagaimana catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, Enny juga menyodorkan fakta bahwa BPS mencatat adanya penurunan upah buruh di sektor pertanian dan buruh bangunan dalam dua tahun terakhir pemerintahan yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi-JK itu. "Jadi BPS itu juga mencatat ada penurunan upah ril buruh tani sebesar 4,35 persen dan buruh bangunan 2,28 persen," ujar Enny saat menjadi pembicara diskusi tentang Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/10). Pemerhati ekonomi yang juga direktur di INDEF itu menambahkan, ketika upah bagi kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ataupun buruh bangunan menurun, maka penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, anak atau istrinya terpaksa ikut bekerja di sektor informal. “Ini yang membuat angka pengangguran terbuka terlihat menurun. Tapi yang merasakan tidak demikian. Misalnya inflasi memang tiga persen, tapi inflasi bahan makanan mengalami kenaikan luar biasa. Padahal harga komoditas dunia turun, harga pangan kita sendiri saja yang naik," ujar Enny. Selain itu, katanya, kebutuhan terhadap pangan mencapai 70-80 persen dari porsi pengeluaran rumah tangga bagi berpendapatan menengah ke bawah. Akibatnya ketika inflasi meningkat, maka masyarakat tidak mampu membeli komoditas non-pangan. Enny juga menyinggung menurunnya angka kemiskinan. Ia menganggap penurunan angka kemiskinan hanya karena patokan untuk mengukurnya. BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan di bawah USD 2 per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," ujarnya.(gir/jpnn)
