Itu kan cara berpikir ente.

Ente pikir ada orang Indonesia kaya’ gitu.

Kalau apa yg dikatakan oleh ente benar, ya orang yg tinggal di rusunawa itu 
mestinya sudah ada mati kan?

 

Coba kasih tahu kita2 ini yg mati kelaparan ini sudah berapa orang dan siapa2 
namanya?

 

Oh waktu ane jalan2 kenegara ente, ane lihat ada pengemis di kota2 besar. Ane 
jadi bingung koq bisa ada pengemis di USA?

Katanya kalau miskin bisa minta duit kepemerintah yg begitu kaya. Koq masih ada 
pengemis ya?

Apakah negara miskin juga?

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, October 22, 2016 11:23 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era 
Jokowi-JK?

 

  

 

Kalau pakai kriteria Rp 2 perhari mungkin angka kemiskinan nggak sampai 1%.

 

Yg jelas menurut kriteria BPS mereka yg income-nya Rp 300 ribu perbulan sudah 
jadi orang kaya bukan lagi orang miskin, tapi semua income-nya cuman cukup buat 
bayar sewa rusunawa-nya Ahok setelah itu nggak ada uang tersisa buat makan 
minum hidup dalam kegelapan tanpa listrik PLN tanpa air PDAM.

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Kalau pakai standard mars USD 3 perhari, kira2 berapa ya angka kemiskinan di 
Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%?

Kalau pakai standard dewa dewi USD 10 perhari, kira2 berapa ya angka kemiskinan 
di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%?

Kalau pakai standard USA jaman clinton USD 17 perhari, kira2 berapa ya angka 
kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 60%, 70%?

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, October 22, 2016 1:59 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: [GELORA45] Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK?

 

 

Seandainya yang dipakai standar internasional USD 2 perhari atau sekitar Rp 800 
ribu perbulan, kira2 berapa ya angka kemiskinan di Indonesia? lebih dari 50%, 
60%, 70%?

 

---

BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per 
bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan 
di bawah USD 2  per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," ujarnya.

...

http://www.jpnn.com/read/2016/10/22/475897/Yakin-Pengangguran-dan-Kemiskinan-Turun-di-Era-Jokowi-JK-

 

Sabtu, 22 Oktober 2016 , 14:48:00


Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK?


 

  
<http://jpnn.com/picture/watermark/20161022_145224/145224_628027_Enny_Hartati_indef_jpnn.jpg>
 

Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati dalam diskusi Dua Tahun Pemerintahan Jokowi 
JK di Jakarta Pusat, Minggu (22/10). Foto: Ricardo/JPNN.Com

JAKARTA - Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati mengakui adanya penurunan angka 
pengangguran terbuka selama pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagaimana 
catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, Enny juga menyodorkan fakta bahwa 
BPS mencatat adanya penurunan upah buruh di sektor pertanian dan buruh bangunan 
dalam dua tahun terakhir pemerintahan yang lebih dikenal dengan sebutan 
Jokowi-JK itu.

"Jadi BPS itu juga mencatat ada penurunan upah ril buruh tani sebesar 4,35 
persen dan buruh bangunan 2,28 persen," ujar Enny saat menjadi pembicara 
diskusi tentang Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Cikini, Jakarta Pusat, 
Sabtu (22/10).

Pemerhati ekonomi yang juga direktur di INDEF itu menambahkan, ketika upah bagi 
kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ataupun buruh bangunan menurun, 
maka penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, 
anak atau istrinya terpaksa ikut bekerja di sektor informal.

“Ini yang membuat angka pengangguran terbuka terlihat menurun. Tapi yang 
merasakan tidak demikian. Misalnya inflasi memang tiga persen, tapi inflasi 
bahan makanan mengalami kenaikan luar biasa. Padahal harga komoditas dunia 
turun, harga pangan kita sendiri saja yang naik," ujar Enny.

Selain itu, katanya, kebutuhan terhadap pangan mencapai 70-80 persen dari porsi 
pengeluaran rumah tangga bagi berpendapatan menengah ke bawah. Akibatnya ketika 
inflasi meningkat, maka masyarakat tidak mampu membeli komoditas non-pangan.

Enny juga menyinggung menurunnya angka kemiskinan. Ia menganggap penurunan 
angka kemiskinan hanya karena patokan untuk mengukurnya.

BPS mengukur warga miskin jika penghasilannya kurang dari Rp 280 ribu per 
bulan. Sedangkan standar internasional, warga miskin adalah yang berpenghasilan 
di bawah USD 2  per hari. “Jadi ini juga persoalan metodologi," 
ujarnya.(gir/jpnn)

 

 



Kirim email ke