Lha ya itu soalnya: dikemanain tuh dana desanya? Tapi saya sendiri tidak heran 
dan kaget, karena korupsi sudah menjadi kebudayaan dan meresap kedalam sistim 
dan struktur pemerintahan yang tidak mengabdi kepada kepentingan rakyat jelata, 
melainkan hanya mengabdi kepentingan kaum tuan tanah, kaum kabir dan komprador 
yang pada gilirannya mengabdi kepada kaum pemodal/ perusahaan monopoli 
multinasional. Dari jaman Suharto sampai sekarang tak secuilpun berbeda. Hanya 
bedanya adalah dengan Jokowi justru banyak orang yang masuk kategori "kiri" 
menyebar ilusi seolah-olah Jokowi lain dari presiden yang mendahuluinya. 
Padahal fakta dan praktek selama dua tahun dia berkuasa, sama saja tingkah 
lakunya, ngemis modal ke mana-mana, perampasan tanah semakin marak dengan 
alasan "pembangunan". Apa hasil Revolusi mental yang pernah bikin orang kagum 
dengan Jokowi??? KOk mental para pejabat masih sama saja: yaitu mengabdi 
kantongnya sendiri dan perusahaan monopoli kepada siapa mereka mengabdi. 
Herannya masih ada saja pendukung Jokowi yang tidak bangun-bangun dari 
ilusinya. 

    On Saturday, November 26, 2016 3:38 AM, "Karma, I Nengah [PT. Altus 
Logistic Service Indonesia]" <[email protected]> wrote:
 

  <!--#yiv5464375802 _filtered #yiv5464375802 {font-family:Helvetica;panose-1:2 
11 6 4 2 2 2 2 2 4;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;panose-1:5 
0 0 0 0 0 0 0 0 0;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;panose-1:5 
0 0 0 0 0 0 0 0 0;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Calibri;panose-1:2 15 
5 2 2 2 4 3 2 4;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Tahoma;panose-1:2 11 6 
4 3 5 4 4 2 4;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Verdana;panose-1:2 11 6 4 
3 5 4 4 2 4;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Consolas;panose-1:2 11 6 9 
2 2 4 3 2 4;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:inherit;panose-1:0 0 0 0 0 
0 0 0 0 0;}#yiv5464375802 #yiv5464375802 p.yiv5464375802MsoNormal, 
#yiv5464375802 li.yiv5464375802MsoNormal, #yiv5464375802 
div.yiv5464375802MsoNormal 
{margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";}#yiv5464375802 a:link, #yiv5464375802 
span.yiv5464375802MsoHyperlink 
{color:blue;text-decoration:underline;}#yiv5464375802 a:visited, #yiv5464375802 
span.yiv5464375802MsoHyperlinkFollowed 
{color:purple;text-decoration:underline;}#yiv5464375802 p 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";}#yiv5464375802 code {font-family:"Courier New";}#yiv5464375802 
pre {margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:10.0pt;font-family:"Courier 
New";}#yiv5464375802 tt {font-family:"Courier New";}#yiv5464375802 
span.yiv5464375802HTMLPreformattedChar {font-family:Consolas;}#yiv5464375802 
p.yiv5464375802attach, #yiv5464375802 li.yiv5464375802attach, #yiv5464375802 
div.yiv5464375802attach 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:9.0pt;font-family:"Arial", 
"sans-serif";}#yiv5464375802 p.yiv5464375802bold, #yiv5464375802 
li.yiv5464375802bold, #yiv5464375802 div.yiv5464375802bold 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:10.0pt;font-family:"Arial", 
"sans-serif";font-weight:bold;}#yiv5464375802 p.yiv5464375802green, 
#yiv5464375802 li.yiv5464375802green, #yiv5464375802 div.yiv5464375802green 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";color:#628C2A;}#yiv5464375802 p.yiv5464375802replbq, 
#yiv5464375802 li.yiv5464375802replbq, #yiv5464375802 div.yiv5464375802replbq 
{margin:3.0pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman", 
"serif";}#yiv5464375802 p.yiv5464375802ad, #yiv5464375802 li.yiv5464375802ad, 
#yiv5464375802 div.yiv5464375802ad 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";}#yiv5464375802 p.yiv5464375802underline, #yiv5464375802 
li.yiv5464375802underline, #yiv5464375802 div.yiv5464375802underline 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";}#yiv5464375802 span.yiv5464375802yshortcuts {}#yiv5464375802 
p.yiv5464375802ad1, #yiv5464375802 li.yiv5464375802ad1, #yiv5464375802 
div.yiv5464375802ad1 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";}#yiv5464375802 p.yiv5464375802ad2, #yiv5464375802 
li.yiv5464375802ad2, #yiv5464375802 div.yiv5464375802ad2 
{margin-right:0in;margin-bottom:7.5pt;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times
 New Roman", "serif";}#yiv5464375802 p.yiv5464375802underline1, #yiv5464375802 
li.yiv5464375802underline1, #yiv5464375802 div.yiv5464375802underline1 
{margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New 
Roman", "serif";text-decoration:underline;}#yiv5464375802 
span.yiv5464375802yshortcuts1 {font-family:"Verdana", 
"sans-serif";font-weight:bold;}#yiv5464375802 span.yiv5464375802yshortcuts2 
{font-family:"Verdana", "sans-serif";font-weight:normal;}#yiv5464375802 
span.yiv5464375802EmailStyle34 {font-family:"Calibri", 
"sans-serif";color:#1F497D;}#yiv5464375802 .yiv5464375802MsoChpDefault 
{font-size:10.0pt;} _filtered #yiv5464375802 {margin:1.0in 1.0in 1.0in 
1.0in;}#yiv5464375802 div.yiv5464375802WordSection1 {}#yiv5464375802 _filtered 
#yiv5464375802 {} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Symbol;} _filtered 
#yiv5464375802 {font-family:"Courier New";} _filtered #yiv5464375802 
{font-family:Wingdings;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;} 
_filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;} _filtered #yiv5464375802 
{font-family:Wingdings;} _filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;} 
_filtered #yiv5464375802 {font-family:Wingdings;} _filtered #yiv5464375802 
{font-family:Wingdings;}#yiv5464375802 ol {margin-bottom:0in;}#yiv5464375802 ul 
{margin-bottom:0in;}-->Bagaimana dengan dana desa dari pemerintah tiap tahun    
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, November 25, 2016 4:48 PM
To: Yahoogroups; DISKUSI FORUM HLD; GELORA_In
Cc: Roeslan; Lusi.D; Daeng; Gol; Mitri; Rachmat Hadi-Soetjipto; Harry Singgih; 
Jonathan Goeij; Ronggo A.; Lingkar Sitompul; Ajeg; Mang Broto; Farida Ishaja; 
Marsiswo Dirgantoro; [email protected]; Billy Gunadi; Djin Siauw
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Warga tani Wonosobo melakukan betonisasi 
secara Swadaya.       Bukti lagi bahwa infrastruktur yang sungguh-sungguh 
dibutuhkan rakyat tidak membutuhkan ngemis utang kepada pemodal asing. 
Megaproyek infrastruktur yang didorong Jokowi justru membuat petani sengsara 
karena tanah dan sumber nafkahnya dirampas.  Berkali-kali menuntut perbaikan 
jalan ke pemerintah daerah tidak direalisasi, warga Wonosobo melakukan 
betonisasi secara Swadaya. Wonosobo, 23 November 2016. ratusan warga dan 
anggota kelompok tani dusun Kandangan yang tergabung dalam Aliansi Gerakan 
Reforma Agraria ranting Banyumudal melakukan gotong royong betonisasi jalan 
utama penghubung dusun Ringkuk desa Rimpak, dusun Kandangan dan dusun Jenggil 
desa Banyumudal kecamatan Sapuran kabupaten Wonosobo Jawa tengah. gotong royong 
ini adalah kali kedua yang dilakukan warga dengan biaya secara swadaya. sampai 
saat ini baru sekitar 500 meter yang sudah berhasi di beton dari total panjang 
sekitar 3 KM jalan yang rusak parah. Menurut pak Martoyo (48) salah satu 
pimpinan AGRA ranting Banyumudal, betonisasi ini di lakukan tanpa ada bantuan 
dari pemerintah sedikitpun. Ia juga menjelaskan sudah ber kali-kali warga 
memita kepada pemerintah kabupaten dan juga kepada DPRD untuk memperbaiki jalan 
ini namun hanya di janjikan saja tidak ada prakteknya sampai sekarang. Padahal 
jalan tersebut merupakan akses utama warga menuju pasar dan penghubung dengan 
dua dusun tetangga lainnya. dan merupakan jalan yang sangat fital bagi 
penghidupan masyarakat Kandangan dan sekitarnya. Seperti untuk mengangkut hasil 
pertanian dan lain-lain. Sementara Tafhim, pimpinan AGRA Wonosobo yang juga 
berasal dari desa Banyumudal menjelaskan bahwa betonisasi secara swadaya yang 
dilakukan warga ini merupakan bentuk protes warga kepada pemerintah yang tidak 
serius menyikapi kebutuhan para petani dan masyarakat di pedesaan. berkali-kali 
mereka mendatangi pemerintah kabupaten maupun DPRD, namun tidak ada respon, hal 
ini justru semakin memupuk kesadaran diwarga bahwa orientasi pembangunan yang 
dilakukan pemerintah yang ribuan triliun itu memang bukan untuk kepentingan 
rakyat, melainkan untuk kepentingan kemudahan jalur distribusi serta perluasan 
pasar dan investasi kapital monopoli internasional yang terancam membusuk. 
Untuk membangun jalan sepanjang 500 meter tersebut warga melakukan iuran secara 
sukarela, mengingat secara ekonomi mayoritas warga adalah petani miskin. Tafhim 
juga menyampaikan untuk sampai ke dusun Kandangan ada sekitar 2 Km lebih lagi 
jalan yang masih rusak dan jika ada pihak-pihak yang ingin membantu warga di 
dua desa tersebut tentu warga akan sangat berterima kasih.   

   

Kirim email ke