Ajeg: Larisnya bisnis bimbingan belajar memang tak terelakkan, wong iklim 
politik yang dibangun memang membuka peluang untuk itu. Tidak ada masalah 
dengan berbisnis, selama tidak melibatkan apalagi membisniskan pendidikan. 
Karena ini terjadi, maka pastilah ada yang tidak beres dengan iklim politik, 
khususnya kebijakan tentang pendidikan dan kebijakan tentang bisnis. Dalam hal 
bimbingan belajar, harusnya pemerintah mengatur supaya bimbingan belajar juga 
bisa diikuti anak yang tergolong kurang mampu secara materi.

 

Nesare: iklim politik apa yang membuka atau tidak membuka peluang bisnis? Ada 3 
yang dikaitkan politik, bisnis dan pendidikan. Jelas2 ketiga2nya saling 
berkaitan tetapi koq bisa nulis bisnis tidak masalah sepanjang tidak 
membisniskan pendidikan?! Yang ente mau kan pendidikan gratis artinya bisnis 
cari duit utk pendidikan tidak boleh. Gimana bisa? Wong menjalankan pendidikan 
itu perlu duit baik oleh pemerintah maupun swasta. Ini ‘kan asumsinya sudah 
salah. Seakan2 urusan pendidikan itu adalah urusan pemerintah dan swasta tidak 
boleh masuk ke pendidikan krn ada unsur “membisniskan pendidikan”. Terus 
setelah ditangani pemerintah, eh diejek2 lagi bahwa ujian nasional salah dll. 
Aduh….kritiknya banyak.

 

Sebenarnya maunya ente itu apa?

 

Keteladanan seperti apa yang ente maksud supaya iklim bernegara bisa beres?

 

Sudah ane tulis sebelumnya dinegara berkembang seperti Indonesia ujian nasional 
itu sangat diperlukan.

Bagaimana bisa jalan pendidikan nasionalnya jikalau tidak ada standard? 
Mengingat kwalitas gurunya yang masih minim, mana mampu sekolah disuruh bikin 
kurikulum sendiri atau harus mengikuti kurikulum IB atau AP? Kan hanya sekolah 
swasta yg bayar yg bisa menjalankan sistem2 pendidikan seperti ini. lalu gimana 
dengan sekolah2 negeri? Lalu gimana sekolah2 yg ada diplosok dusun2 atau pulau2 
yang jauh dari mana2?

 

Wong yg menjadi problem adalah system pendidikan nasional, eh yg disalahkan 
ujian nasional, bisnis pendidikan, presiden, pembangkangan hukum, iklim 
bernegara tidak beres dll dimana2 semua variable2 ini adalah variable2 pembantu 
yang dapat memajukan pendidikan nasional.

 

Ente itu ada ide apa? Jangan hanya bisanya mengeritik saja!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, December 13, 2016 8:48 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kelompok "Korporasi" Di Balik Jokowi dan Ahok

 

  

Larisnya bisnis bimbingan belajar memang tak terelakkan, wong 



iklim politik yang dibangun memang membuka peluang untuk itu. 







Tidak ada masalah dengan berbisnis, selama tidak melibatkan 



apalagi membisniskan pendidikan. Karena ini terjadi, maka pastilah 



ada yang tidak beres dengan iklim politik, khususnya kebijakan 



tentang pendidikan dan kebijakan tentang bisnis. Dalam hal bimbingan 



belajar, harusnya pemerintah mengatur supaya bimbingan belajar 



juga bisa diikuti anak yang tergolong kurang mampu secara materi.





Mengenai ujian nasional yang bukan sebagai penentu kelulusan, 



itu baru rencana, baru usulan. Entah bagaimana prakteknya setelah 



Jokowi menolak memoratorium UN. Padahal, putusan MA & MK 



yang melarang ujian nasional masih berlaku, belum pernah dipatuhi, 



dan terus didurhakai.





Pembangkangan hukum oleh pemerintahan SBY dan dilanjutkan 



pemerintahan Jokowi dalam perkara pendidikan adalah kebijakan 



yang betul-betul "mendidik". Ini yang perlu digarisbawahi: 



pembangkangan hukum oleh pemerintah!







Sebuah keteladanan yang bikin iklim bernegara nggak beres terus.

 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

Setelah MA & MK memerintahkan UN dihentikan, apakah kemudian dihentikan atau 
diacuhkan begitu saja?

Apakah sekarang kwalitas pendidikan sudah merata sehingga UN diadakan lagi?


Saya baca di website kemendikbud "Hasil UN tidak digunakan untuk penentu 
kelulusan siswa. Namun fungsi UN tetap penting karena digunakan untuk mengukur 
kompetensi siswa dan salah satu dasar pertimbangan seleksi ke jenjang yang 
lebih tinggi. <http://un.kemdikbud.go.id/> " tetapi kenapa kok bisa terjadi 
murid yg tidak lulus sekolah gara2 UN?

 

UN memang menciptakan peluang bisnis baru menciptakan juga lapangan kerja baru 
terutama dikalangan bisnis bimbingan belajar, dalam hal ini kalangan bisnis 
tidak perlu disalahkan mereka hanya memanfaatkan peluang yg ada, tetapi dilain 
pihak mereka2 yg secara finansial kurang mampu akan sukar mengikuti.

 

Di California atau juga state2 yg lain ada yg namanya SBAC (Smarter Balanced 
Assessment Consortium <http://www.cde.ca.gov/ta/tg/sa/> ) yang setiap tahun 
melakukan test bahkan mulai dari anak2 SD (mulai kelas 3 SD sampai SMA) yg 
tujuannya utk standarisasi dan ini tidak mempengaruhi nilai rapor ataupun 
kenaikan kelas sama sekali, diselenggarakan oleh masing2 state dgn masukan2 
dari setiap school disctrict. Kalau kita perhatikan justru mirip2 dgn yg 
diusulkan Mendikbud Muhadjir Effendy yg ditolak itu. Disediakan juga website 
utk practice, setiap murid bisa mencoba latihan sendiri, coba disini pilih dulu 
gradenya (grade 3-12): 
https://login4.cloud1.tds.airast.org/student/V171/Pages/LoginShell.aspx?c=SBAC_PT

 

--- ajegilelu@... wrote :





Banyak ujian, satu tujuan: mencetak gelombang kuli berijazah



untuk kepentingan korporasi nekolim.





--- jonathangoeij@... wrote:

 

Banyak sekali ujian-nya, ada ujian nasional setelah itu ujian masuk perguruan 
tinggi lagi. Apa ujiannya sama/mirip2 atau beda sama sekali?

 

--- ajegilelu@... wrote :





UN mengakibatkan bimbingan belajar jadi laris memang tak terelakan.



Yang seru kalau bimbingan belajar yang menyebabkan diadakannya UN..



Tapi yah dua-duanya sejalan saja sebagai fabrikasi pendukung semangat



korporatif: bisnis yang menguntungkan :)





Madrasah dan SMK juga kena UN, wong yang diuji cuma 3 mata pelajaran



'pokok' yaitu, Bahasa Indonesia, Matematik, dan Bahasa Inggris!



Untuk tingkat SMA/sederajat ditambah mata pelajaran jurusan / kejuruan



seperti Kimia; Sosiologi; Sastra; Mesin; atau Fiqh untuk madrasah.





Masuk perguruan tinggi ada lagi tesnya, walau yang lebih menentukan



diterima-tidaknya adalah jawaban meyakinkan dari soal-soal yang



menjurus ke kekuatan finansial ortu, hahaha....! Bedebah betul kalau
tujuan pendidikan hanya untuk menjadikan sekolahan sebagai toko ijazah.







Barangkali setelah 10 tahun disemai dan ditanam rezim SBY-JK, para



cukong menanggap di era Jokowi-JK-Ahok ini Indonesia sudah memiliki



generasi awal yang kooperatif sebagai pendukung mekanisme korporasi.



Setidaknya sebagai kuli berijazah merangkap pasar / konsumen.

 

--- jonathangoeij@... wrote:





kelihatannya UN itu cuman bikin laris bisnis bimbingan belajar, apakah begitu?

 



Kirim email ke