Ngomong sebenarnya yang dinamakan atribut natal seperti Santa Claus, Reindeer, Snowman, Snowflake, Tree, dlsb.nya itu sama sekali bukan atribut natal. Atribut2 itu hanyalah masalah bisnis dan tradisi saja tidak lebih tidak kurang. Setiap memasuki bulan awal Oktober sampai dengan akhir tahun waktu rasanya jadi singkat dan duit kayak diporot habis2an, Oktober mulai dengan riuh rendah Halloween dgn berbagai pernik2nya seperti pumpkin kostum dlsb, kostum ini boleh dibilang pembuangan duit besar2an lha wong harga kostum yg sekitar $50an itu cuman buat sekali dua kali pakai setelah itu cuman buat bikin lemari penuh, begitu Halloween lewat sudah langsung dilanjutkan dgn Thanksgiving mulailah barang2 dijual dgn harga sale yg sampai puncaknya pada Black Friday hari setelah Thanksgiving, hari berikutnya langsung saja berbagai atribut seperti Santa Claus dlsb itu marak rumah2 dihias hadiah2 buat anak2 harus dibeli kalau punya 10 saja anak2 (baik itu anak, keponakan, cucu, cucu keponakan) maka itu artinya harus beli 10 kado belum lagi vacation. Dus artinya masa pembuangan duit besar2an. Tetapi selain itu bagi kalangan bisnis tentu menggiurkan sekali, bisnis rame dan lancar, department2 store antri, rumah makan penuh sesak, mall2 penuh, demikian juga lembaga keuangan melihat peluang dgn menawarkan credit card bunga 0% selama sesedikitnya setahun bahkan lebih (ada yg dua tahun) baik utk belanja ataupun balance transfer. Banyak tenaga kerja dibutuhkan biarpun untuk temporari beberapa bulan saja. Singkat kata masa2 booming bisnis meningkat GDP meningkat tenaga kerja terserap dlsb. Balik ke Starbucks, naluri bisnis akan kembali kehabitatnya.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Kalau melihat reaksi keras di Virginia, Texas, atau medsos, atas pencopotan "atribut natal" dari perabotan Starbukcs ini (gembar-gembor mau boikot, hasutan untuk beralih ke teh sampai ajakanuntuk merusak gerai) pertanyaannya bisa menjadi, haram bagi siapa?Jelas bukan bagi Islam, Yahudi, maupun Ateis. Tetapi bisa saja perobahan tampilan ini jadi haram buat siapa pun jika manajemen ternyata mengkhianati pernyataan sang CEO tentang niat meningkatkan hubungan tripartit, manajemen-karyawan-konsumen. Jadi, niat yang diwujudkan dengan merobah tampilan ini - dengan mencopot logo Starbucks hingga tersisa lingkaran putih yang menyorot kumpulan orang - boleh jugalah dilihat sebagai tahapan perkembangan bisnis dalam kapitalisme, di mana perusahaan besar semakin mengembangkan sayap sosialismenya. Lain cerita memang kalau melihat ini (dan itu) cuma dari sudut pandang religi. Ini menarik. Ditambah keoknya PT Coca Cola di Madrid yang kena gebuk kelas pekerja (berita yang dilansir Tatiana) harus menjadi pelajaran bagi MNC / nekolim dalam mengais rejeki di atas dunia. Sebuah pelajaran berharga untuk memanusiakan manusia - dan bukan untuk mengagamakan manusia melulu. Atau, dengan meminjam istilah perjuangan, bolehlah dicermati apa betul saat ini kapitalisme sedang memasuki era 'revolusi sosial' setelah para MNC / nekolim keluar memenangkan "revolusi korporatnya" masing-masing? Kalau jawabannya iya, maka ini bisa menjadi titik terang untuk menemukan jawaban kenapa republik ini sangat kesulitan membangun 'indonesia incorporated'. --- jonathangoeij@... wrote: apakah minum Starbucks juga haram? cup-nya ada reindeer, snowman, etc. --- ajegilelu@... wrote : Starbucks Kicks Off War on Christmas 2016! BY MATT MILLER Nov 1, 2016 O Come all ye hateful as we once again kick off the second annual 12 Days of the War on Christmas. You might recall our maiden campaign stretched for 44 non-denominational days of gun-toting Christmas cards, Texas exorcisms, and questionably shaped candy trees. As is tradition, we must begin the War on Christmas season with the age-old unveiling of the Starbucks cup. This involves the ancient custom of the family hopping in the car, driving to the corner coffee spot, and purchasing a Starbucks caffeinated beverage in a special, limited edition holiday cup that inevitably pisses everyone off. Last year, the season began on November 6, when PC culture warriors bravely spoke out against Starbucks's attempt to take the words "Christ" and "Christmas" off their holiday cups. Social media personality Joshua Feuerstein braved the corporate wrath of loyal Starbucks employees by tricking them into saying the banned words "Merry Christmas."Today, November 1, Starbucks revealed its 2016 cup. This year's design depicts a number of hand-drawn individuals on a green cup with a white circle. From the official press release: "The green cup and the design represent the connections Starbucks has as a community with its partners (employees) and customers. During a divisive time in our county, Starbucks wanted to create a symbol of unity as a reminder of our shared values, and the need to be good to each other," said Howard Schultz, chairman and CEO. Like last year's red cup, it does not contain the word "Christmas." While Feuerstein has not yet embarked on a brave campaign to right this wrong, people are already feeling the angry spirit of this most wonderful time of the year. Confusingly enough, some seem to believe that the red (which did not represent Christmas last year), should be brought back to these green cups to make them more Christmas-y. esquire.com
