Sama ngawurnya dengan penguasa yang membuat regulasiuntuk kepentingan 
pengusaha. 

Lebih brengsek lagi, penguasa merangkap pengusaha 
yang membiarkan konco-konconya memangsa masyarakat, 
terutama umat yang sedang merayakan.
--- jonathangoeij@... wrote:
saya rasa kalau pihak agama ikut campur apalagi di-backing pemerintah akan 
bikin kacau balau.

--- ajegilelu@... wrote :
Peran regulator pemerintah memang penting. Itu pun
tergantung mental dan karakter pimpinannya. Kalau
dasarnya mental korup dengan karakter oligarki ya kecut.
Sepertinya tidak ada pilihan lain kecuali kekuatan politik
revolusioner untuk merombak tabiat kapitalisme.

Kesimpulannya, memang dibutuhkan waktu yang sangat
panjang bagi kapitalisme untuk memahami sosialisme.
Malah barangkali cuma sampai tahap gontok-gontokan
Kanan vs Kiri, selamanya.
Kalau seperti itu lalu apa berarti konsep kesetimbangan
Nasakom itu salah? Atau sekedar sudah tewas? Sudah tak
ada lagi yang mau membaca bahwa alam memberikan
setidaknya kaki kanan dan kaki kiri (juga tangan) dalam
satu badan?
Kalau nggak berani jawab ini mbok ya malu dikitlahyang ngaku-ngaku sebagai 
titisan Soekarno segala, ehe...
Soal perayaan keagamaan, buat saya pribadi nggak adamasalah dengan 
pemanfaatannya sebagai peluang. Toh
tugas agamalah untuk membahagiakan manusia.
Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah, pihak agamamembiarkan umatnya saling 
memangsa, atau malahcuma dimangsa, diporotin habis-habisan oleh kapitalis
sampai akhirnya bersedia mati-matian membela kepentingan
kapitalis dengan membantah bukan sedang merayakan
ritual keagamaan melainkan merayakan "peluang bisnis"...
Padahal, mestinya orang bisa tetap merayakan peristiwa
keagamaan sambil memberi peluang kepada orang lain
untuk berbahagia dengan meraih rejeki tambahan. Bukan
dengan diporotin, tapi bila perlu dengan memberi sedekah
kepada mereka yang malang.
Dalam hal ini, walau tidak sejalan dengan Republican, saya
hargai keteguhan si kapitalis Trump waktu mengembalikan
ucapan "Merry Christmas" menggantikan "Happy Holiday"
yang berlaku di era Obama. Ikut senang melihat orang Kanan
merasa punya pahlawan baru.
--- jonathangoeij@... wrote:
Saya menuju bagian yg anda singgung pada kalimat terakhir lebih dahulu, 
hubungan antara kapitalisme dan sosialisme. Menurut saya kapitalisme kalau 
tidak dipaksa tidak akan pernah menjalankan sosialisme. Kita lihat saja 
misalnya dalam hal gaji, sebisa mungkin pihak kapitalis akan membayar gaji 
sekecil mungkin bahkan kalau mungkin tidak dibayar, itu kalau benar2 terserah 
pasar, sedang pihak proletar khan sebisa mungkin minta gaji setinggi mungkin 
yang akan sukar dipenuhi, disinilah peran pemerintah sebagai mediasi dgn 
menentukan upah minimum dimana kaum masih bisa hidup layak (ukuran relatif 
tentu saja) sementara bisnis juga masih bisa menyerap.
Bagi kalangan bisnis, agama atau perayaan agama hanyalah peluang, dalam kaitan 
dgn natal ada masyarakat atau pangsa pasar yang bersedia membeli dan 
menyediakan duit bahkan kalau perlu utang, ada kebutuhan untuk relax bersantai 
bersama keluarga melihat anak2 bergembira menerima hadiah. Disini ada kebutuhan 
kejiwaan yang terpuaskan sehingga bersedia membayar mahal. Ada take and give. 
Disini saya lihat sih oke2 saja nggak masalah, ada kebutuhan dan juga dana yg 
bersedia dikeluarkan, ada yg melihat kebutuhan itu dgn men-suplay barang atau 
jasa atau suasana.
Kembali ke masalah agama, menurut saya sih agama itu biar jadi urusan pribadi 
masing2, jangan dipaksakan doktrin agama ke orang lain. Kalau ada yg melihat 
natal seharusnya hanya dijalankan secara sjahdu digereja tanpa hura2 ataupun 
berbagi kado ya terserah saja dan jalankan saja, tidak ada yg melarang dan ada 
yg menyediakan jasanya juga seperti para pendeta dan geraja.


--- ajegilelu@... wrote :

Sejujurnya tugas agama adalah untuk membahagiakan manusia. 
Santa Claus misalnya, yang konon merupakan "evolusi" dari 
Saint Nicholas, kondang sebagai patron bagi kaum malang 
(prajurit, pelacur, pencuri dsb) dan rutin memberi hadiah kepada 
kaum miskin setiap Desember. Dia adalah simbol kegembiraan 
di saat perayaan Natal. Jadi, tidak ada masalah samasekali 
dengan meledaknya industri pernak-pernik keagamaan pada 
saat perayaan, karena memberi tambahan rejeki bagi perusahaan 
dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Menjadi masalah ketika di jaman modern ini pemberian hadiah /kegembiraan saat 
Natal "diswastakan" menjadi tugas publik
(pebisnis dan industrialis), bukan lagi tugas pemuka masyakarat / 
agama. Dan, kaum miskin diterjemahkan menjadi 'anak-anak'. 
Walhasil, "demokratisasi" pemberian hadiah pun berlangsung 
dengan menugaskan para orangtua.
Masalah bertambah repot ketika tradisi bergembira dengan 
segala pernak-pernik yang cuma muncul saat perayaan Natal itu 
mati-matian dibantah kaitannya dengan tradisi keagamaan. 
Padahal, umat manusia terlanjur menerima bahwa Santa Claus 
merupakan wujud modern dari Saint Nicholas. Lebih-lebih 
di Indonesia yang pernah dijajah Belanda, terlanjur akrab dengan 
tokoh pemberi hadiah dalam sosok Sinterklas, lengkap dengan 
pembantu (budak?)nya si Piet Hitam. Sulit bagi orang Indonesia 
untuk menghapus begitu saja kaitan keagamaan dari Santa Claus / 
Sinterklas mengingat kostum Sinterklas yang mengenakan 
topi tinggi ala topi Paus lengkap dengan tanda salibnya - untunglah
Indonesia segera dijajah bangsa lain yang memperkenalkan 
Sinterklas dalam wujud Santa Claus yang bertopi tidur itu.
Bagaimanapun, upaya kalangan bisnis untuk mencopot keagamaan 
dari tradisi Clausisme patut dihargai. Pertanyaannya adalah, 
kenapa masih membajak perayaan Natal untuk memberi kegembiraan? 
Tidak beranikah para pebisnis dengan sedikit kreativitas
melakukannya, memberi kegembiraan itu, di luar musim Natal?
Betul-betul memberi dan bukan jualan.
Boleh jadi kreativitas Starbucks yang seolah melepas peluang ini
sebenarnya cuma strategi bisnis untuk membidik keuntungan 
yang lain. Kalau betul seperti itu tampaknya Anda benar waktu 
bilang naluri bisnis akan kembali ke habitatnya. Dan itu menunjuk 
pada satu hal: masih dibutuhkan waktu yang sangat panjang bagi 
dunia bisnis / kapitalisme untuk memahami sosialisme.
   

Kirim email ke