Sejujurnya tugas agama adalah untuk membahagiakan manusia. 
Santa Claus misalnya, yang konon merupakan "evolusi" dari 
Saint Nicholas, kondang sebagai patron bagi kaum malang 
(prajurit, pelacur, pencuri dsb) dan rutin memberi hadiah kepada 
kaum miskin setiap Desember. Dia adalah simbol kegembiraan 
di saat perayaan Natal. Jadi, tidak ada masalah samasekali 
dengan meledaknya industri pernak-pernik keagamaan pada 
saat perayaan, karena memberi tambahan rejeki bagi perusahaan 
dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Menjadi masalah ketika di jaman modern ini pemberian hadiah /kegembiraan saat 
Natal "diswastakan" menjadi tugas publik
(pebisnis dan industrialis), bukan lagi tugas pemuka masyakarat / 
agama. Dan, kaum miskin diterjemahkan menjadi 'anak-anak'. 
Walhasil, "demokratisasi" pemberian hadiah pun berlangsung 
dengan menugaskan para orangtua.
Masalah bertambah repot ketika tradisi bergembira dengan 
segala pernak-pernik yang cuma muncul saat perayaan Natal itu 
mati-matian dibantah kaitannya dengan tradisi keagamaan. 
Padahal, umat manusia terlanjur menerima bahwa Santa Claus 
merupakan wujud modern dari Saint Nicholas. Lebih-lebih 
di Indonesia yang pernah dijajah Belanda, terlanjur akrab dengan 
tokoh pemberi hadiah dalam sosok Sinterklas, lengkap dengan 
pembantu (budak?)nya si Piet Hitam. Sulit bagi orang Indonesia 
untuk menghapus begitu saja kaitan keagamaan dari Santa Claus / 
Sinterklas mengingat kostum Sinterklas yang mengenakan 
topi tinggi ala topi Paus lengkap dengan tanda salibnya - untunglah
Indonesia segera dijajah bangsa lain yang memperkenalkan 
Sinterklas dalam wujud Santa Claus yang bertopi tidur itu.
Bagaimanapun, upaya kalangan bisnis untuk mencopot keagamaan 
dari tradisi Clausisme patut dihargai. Pertanyaannya adalah, 
kenapa masih membajak perayaan Natal untuk memberi kegembiraan? 
Tidak beranikah para pebisnis dengan sedikit kreativitas
melakukannya, memberi kegembiraan itu, di luar musim Natal?
Betul-betul memberi dan bukan jualan.
Boleh jadi kreativitas Starbucks yang seolah melepas peluang ini
sebenarnya cuma strategi bisnis untuk membidik keuntungan 
yang lain. Kalau betul seperti itu tampaknya Anda benar waktu 
bilang naluri bisnis akan kembali ke habitatnya. Dan itu menunjuk 
pada satu hal: masih dibutuhkan waktu yang sangat panjang bagi 
dunia bisnis / kapitalisme untuk memahami sosialisme.
--- jonathangoeij@... wrote:
Ngomong sebenarnya yang dinamakan atribut natal seperti Santa Claus, Reindeer, 
Snowman, Snowflake, Tree, dlsb.nya itu sama sekali bukan atribut natal. 
Atribut2 itu hanyalah masalah bisnis dan tradisi saja tidak lebih tidak kurang. 
Setiap memasuki bulan awal Oktober sampai dengan akhir tahun waktu rasanya jadi 
singkat dan duit kayak diporot habis2an, Oktober mulai dengan riuh rendah 
Halloween dgn berbagai pernik2nya seperti pumpkin kostum dlsb, kostum ini boleh 
dibilang pembuangan duit besar2an lha wong harga kostum yg sekitar $50an itu 
cuman buat sekali dua kali pakai setelah itu cuman buat bikin lemari penuh, 
begitu Halloween lewat sudah langsung dilanjutkan dgn Thanksgiving mulailah 
barang2 dijual dgn harga sale yg sampai puncaknya pada Black Friday hari 
setelah Thanksgiving, hari berikutnya langsung saja berbagai atribut seperti 
Santa Claus dlsb itu marak rumah2 dihias hadiah2 buat anak2 harus dibeli kalau 
punya 10 saja anak2 (baik itu anak, keponakan, cucu, cucu keponakan) maka itu 
artinya harus beli 10 kado belum lagi vacation. Dus artinya masa pembuangan 
duit besar2an.
Tetapi selain itu bagi kalangan bisnis tentu menggiurkan sekali, bisnis rame 
dan lancar, department2 store antri, rumah makan penuh sesak, mall2 penuh, 
demikian juga lembaga keuangan melihat peluang dgn menawarkan credit card bunga 
0% selama sesedikitnya setahun bahkan lebih (ada yg dua tahun) baik utk belanja 
ataupun balance transfer. Banyak tenaga kerja dibutuhkan biarpun untuk 
temporari beberapa bulan saja. Singkat kata masa2 booming bisnis meningkat GDP 
meningkat tenaga kerja terserap dlsb.
Balik ke Starbucks, naluri bisnis akan kembali kehabitatnya.
--- ajegilelu@... wrote :
Kalau melihat reaksi keras di Virginia, Texas, atau medsos, atas 
pencopotan "atribut natal" dari perabotan Starbukcs ini (gembar-
gembor mau boikot, hasutan untuk beralih ke teh sampai ajakan
untuk merusak gerai) pertanyaannya bisa menjadi, haram bagi siapa?
Jelas bukan bagi Islam, Yahudi, maupun Ateis.
Tetapi bisa saja perobahan tampilan ini jadi haram buat siapa punjika manajemen 
ternyata mengkhianati pernyataan sang CEOtentang niat meningkatkan hubungan 
tripartit, manajemen-karyawan-
konsumen.
Jadi, niat yang diwujudkan dengan merobah tampilan ini - denganmencopot logo 
Starbucks hingga tersisa lingkaran putih yang
menyorot kumpulan orang - boleh jugalah dilihat sebagai tahapan
perkembangan bisnis dalam kapitalisme, di mana perusahaan besar
semakin mengembangkan sayap sosialismenya. Lain cerita memang
kalau melihat ini (dan itu) cuma dari sudut pandang religi.
Ini menarik. Ditambah keoknya PT Coca Cola di Madrid yangkena gebuk kelas 
pekerja (berita yang dilansir Tatiana) harus menjadipelajaran bagi MNC / 
nekolim dalam mengais rejeki di atas dunia.Sebuah pelajaran berharga untuk 
memanusiakan manusia - danbukan untuk mengagamakan manusia melulu. Atau, dengan 
meminjamistilah perjuangan, bolehlah dicermati apa betul saat ini 
kapitalismesedang memasuki era 'revolusi sosial' setelah para MNC / 
nekolimkeluar memenangkan "revolusi korporatnya" masing-masing?
Kalau jawabannya iya, maka ini bisa menjadi titik terang untukmenemukan jawaban 
kenapa republik ini sangat kesulitan membangun'indonesia incorporated'.
--- jonathangoeij@... wrote:
apakah minum Starbucks juga haram?
cup-nya ada reindeer, snowman, etc.


--- ajegilelu@... wrote :
Starbucks Kicks Off War on Christmas 2016!
BY MATT MILLER  Nov 1, 2016 O Come all ye hateful as we once again kick off the 
second annual 12 Days of the War on Christmas. You might recall our maiden 
campaign stretched for 44 non-denominational days of gun-toting Christmas 
cards, Texas exorcisms, and questionably shaped candy trees. As is tradition, 
we must begin the War on Christmas season with the age-old unveiling of the 
Starbucks cup. This involves the ancient custom of the family hopping in the 
car, driving to the corner coffee spot, and purchasing a Starbucks caffeinated 
beverage in a special, limited edition holiday cup that inevitably pisses 
everyone off. 
Last year, the season began on November 6, when PC culture warriors bravely 
spoke out against Starbucks's attempt to take the words "Christ" and 
"Christmas" off their holiday cups. Social media personality Joshua Feuerstein 
braved the corporate wrath of loyal Starbucks employees by tricking them into 
saying the banned words "Merry Christmas."Today, November 1, Starbucks revealed 
its 2016 cup. This year's design depicts a number of hand-drawn individuals on 
a green cup with a white circle. From the official press release: "The green 
cup and the design represent the connections Starbucks has as a community with 
its partners (employees) and customers. During a divisive time in our county, 
Starbucks wanted to create a symbol of unity as a reminder of our shared 
values, and the need to be good to each other," said Howard Schultz, chairman 
and CEO. Like last year's red cup, it does not contain the word "Christmas." 
While Feuerstein has not yet embarked on a brave campaign to right this wrong, 
people are already feeling the angry spirit of this most wonderful time of the 
year. Confusingly enough, some seem to believe that the red (which did not 
represent Christmas last year), should be brought back to these green cups to 
make them more Christmas-y.
esquire.com

   

Kirim email ke