Mestinya lembaga pendidikan seperti UIN bisa menanggulangi radikalisme.

Religious study itu ada dimana2 diseluruh dunia termasuk ivy league di USA. Di 
yale univ. ada 8 agama yg dipelajari termasuk Islamic study. Begitu juga 
diuniversitas2 lainnya yang mempunyai fakultas/departemen agama tertentu dalam 
religious studynya. Yang dipelajari itu bukan hapal alquran atau alkitab atau 
kitab2 suci agama lainnya. Didalam Islamic study mereka belajar macem2 bukan 
hanya agama saja misalnya: sejarah agamanya yg focus ke Islamic civilization, 
hukum, masyarakat. Begitu juga mereka belajar ttg philosofi, teologi, sufi, 
shia, alawi dll. Jadi ada pembelajaran ttg pemikiran agama, Mereka juga dapat 
berinteraksi dengan department lain seperti: sejarah, politik, sociology dll.

 

Jadi lulusannya diharapkan mengerti secara komprehensif ttg sejarah agamanya 
dan sebagai pemikir bukan penghapal.

 

Ini yang dipelajari direligious study termasuk Islamic study.

Biasanya orang2 lulusan religious study dapat melihat agamanya dari kacamata 
yang lebih luas. Ini dapat membuka wawasan sekurang2nya walaupun tidak menjamin 
lulusannya tidak akan menjadi radikal.

 

UIN yang sudah ada seperti Syarif Hidayatullah itu lumayan bagus. Rektornya 
komaruddin hidayat itu sekuler. Jadi sebetulnya universitat atau tempat belajar 
apapun kalau kurikulumnya berdasarkan science akan sekuler. Kenapa? Karena 
basisnya science itu objektif bukan sectarian. Memang dalam praktisnya lembaga2 
pendidikan itu dapat saja digunakan oleh pemimpin2nya demi kepentingan 
pribadi/golongan. Tetapi mestinya tidak akan terlalu parah kalau sekali lagi 
lembaga pendidikannya bisa mengacu ke science. Lihat pesantren dan madrasah 
yang kurikulumnya tidak hanya mempelajari kitab kuning saja kan. Pesantren dan 
madrasah yang khas Indonesia berkembang. Ada pelajaran biologi, matematika, 
fisika dll. Juga diajarkan bertani, menjahit, beternak, perbengkelan dll. 
Walaupun memang ada yg hanya belajar agama Islam saja seperti pesantren salafi.

 

Kalau kita lihat keprihatinan tom Ilyas akan adanya arus masuk dari Arab ke 
Indonesia itu memang beralasan. Sama dengan alasan mereka2 yang percaya 
UINusantara ini dapat menjadi pusat kajian Islam yg dapat menangkal 
radikalisme. 

 

Tanpa adanya UINusantara pun, uang dan faham wahabi dan salafi sudah masuk 
Indonesia. Sudah lama masuknya. Cerita masjid Salman di ITB itu sudah banyak 
didengar dimana2.

 

Islam sekarang ini melakukan ekspansi yang dieksport dari timur tengah dengan 
faham2 salafi, wahabi dll. Ini adalah revivalisme dari Islam yang belum selesai 
di timur tengah. Sejarah masuknya faham2 kontemporer ini  berakar pada 
pemusnahan Masyumi oleh Bung Karno. Sayangnya kelompok kontemporer agama ini 
kesannya radikal. Setelah Natsir kalah berpolitik, dia mendirikan DDII = dewan 
dakwah islamiah indonesia yang fokus ke penyebaran agama Islam/dakwah. Orang2 
Masyumi ini setelah mendukung Suharto jadi presiden mengkudeta Bung Karno, 
mereka dipakai/diakomodisir oleh Suharto. Berdirilah DDII. DDII ini adalah 
organisasi Islam pertama yang dengan serius mengirim mhsw ke timur tengah. Duit 
dari petrodollar dimana negara2 Arab kebanjirian duit/windfall profit 
disalurkan ke Indonesia lewat DDII ini. DDII ini jugalah yang bikin LIPIA = 
lembaga ilmu islam dan arab yang adalah cabang univ. islam muhammad ibnu sa'ud 
di Riyadh. Sekarang ini bisa dilihat hasilnya: HTI= hizbut tahrir indonesia, 
cabangnya hizbut tahrir yang mulai dari kampus IPB. Yang lain adalah gerakan 
Tarbiyah mulai dari kampus salman ITB adalah pengikut faham IM = ikhwanul 
muslimin.  PKS adalah parpol nya IM ini. Yang ketiga adalah gerakan salafi yang 
adalah kepanjangan tangannya DDII dan LIPIA. 

 

Karena unsur kepentingan dilevel politik praktis, sering kali kelompok mesjid 
dermaga IPB bersiteru dengan kelompok mesjid Salman ITB. Sekarang yang menang 
adalah ITB dengan naiknya pamor PKS. 

 

PKS sudah mulai turun lapangan. Dulu menguasai depok dengan memenangkan Nur 
Mahmudi Ismail sbg Walikota Depok. Kasus kemenangan Depok itu menjadi semacam 
case study. Programnya Nur Mahmudi Ismail banyak diganjel oleh parpol non PKS 
shg pengembangan kota Depok tersendat2. PKS terus mendukung Adang Daradjatun 
yang adalah mantan wakil kepala Polri. Fauzi Bowo secara resmi diusung oleh 
Golkar, PDIP, PPP, PDS, dan Demokrat. PAN mungkin dukung Fauzi juga tapi belum 
ketahuan. Kesannya memang PKS dikroyok oleh parpol lain. 

 

Jadi jangan melihat radikalisme Islam itu sebagai masalah agama saja. Ada 
dimensi lain diluar sekedar agama Islam saja. disinilah letak pentingnya suatu 
lembaga UINusantara dan UII UII lainnya. Yang saya ketahui sebetulnya Jokowi 
bisa saja mmbantu mengembangkan UII UII yg sudah ada. Kenapa Jokowi tergerak 
utk mendirikan UINusantara itu kelihatannya karena adanya sokongan dari negara 
lain seperti Inggris dll dalam memerangi terorisme. Ini sebetulnya alasannya. 
Jadi ada factor politik, kerjasama dengan luar negeri disamping tentunya RI 
bisa menjadi pusat kajian Islam dunia yg biasanya dinegara2 barat. Yang di 
timur tengah sendiri sudah kurang kondusif, jadi RI bisa menjadi alternative 
utk menjadi pusat kajian Islam dunia. 

 

Saya lebih mengerti dalam konteks ini, keberadaan UINusantara itu menjadi lebih 
ada maknanya daripada sekedar membuang uang anggaran atau sbg 
tempat/infrastruktur masuknya faham/duit/kiay dari timteng. Sejak Soeharto 
melirik ke Islam setelah ditinggalkan oleh militer dengan mendirikan ICMI, 
wajah RI sudah berubah. Masuknya faham/duit/kiay itu sudah ada jalurnya. Sama 
dengan masuknya kenegara2 maju termasuk USA, eropa barat dll. Jangan khawatir 
masuknya faham/duit/kiay timteng ke UINusantara atau UII UII lainnya karena 
mereka memang layak masuk dalam konteks demokrasi bahwa semua agama boleh 
berkembang. Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana menanggulangi radikalisme 
agama. Ini berbeda dengan mengisolasi Islam dari dunia. Sekali lagi disini saya 
melihat relevansi pendirian UINusantara karena RI bekerja sama dengan negara2 
lain dalam memerangi radikalisme Islam.

 

Nesare

 

 


 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, January 6, 2017 1:40 AM
To: [email protected]; Chalik Hamid <[email protected]>
Subject: Re: Trs: [GELORA45] Univerrsitas Islam Nusantara

 

  

Bagaimana bisa dikatakan mencegah perkembangan Islam radikalis macam FPI ini, 
kalau kenyataan selama SBY berkuasa 10 tahun terakhir ini justru yang diberi 
angin dan didukung untuk DIKEMBANGKAN, ...! Jadi, masalahnya BUKAN pada 
mendirikan Univ. Islam yang lebih PENTING Pemerintah bisa dan berani BERTINDAK 
TEGAS terhadap sikap-sikap radikal yang beringas dan MERUSAK keharmonisan hidup 
majemuk dalam masyarakat dari kelompok FPI, MUI itu, ... syukur bisa dibubarkan 
saja!

 

Salam-damai,

ChanCT

 

From: Chalik Hamid [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45] 

Sent: Friday, January 6, 2017 1:43 PM

To: Yahoo! Inc. ; Jaringan Kerja Indonesia ; Gelora 45 ; Sastra Pembebasan ; 
Yahoo! Inc. ; Yahoo! Inc. ; DISKUSI FORUM HLD 

Subject: Trs: [GELORA45] Univerrsitas Islam Nusantara

 






Di berbagai kota di Indonesia sudah bertebaran Universitas yang menyebarkan 
ajaran Islam. Namun belum berhasil mencegah perbuatan jahat FPI dan MUI. 
Kiranya tak perlu mendirikan Universita Islam Nusantara. Jika memang ada ajaran 
Islam Nusantara, ya silahkan salurkan melalui UIN-UIN yang sudah ada. Atau 
mendidik ushtad-ushtad progresif yang berani menyebarkan ajaran membela NKRI 
melawan ajaran jahat FPI dan MUI. Ushtad-Ushtad progresif ini ditugaskan 
melantunkan ajarannya lewat TV-TV, sosial media, pesantren, sekolah negeri dan 
lembaga negara lainnya.

 

Pada Jumat, 6 Januari 2017 2:15, "'Sunny' [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45]" <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > menulis:

 

  

Di seluruh pelosok sudah ada Universisitas Islam Negara (UIN), Apakah tidak 
cukup dengan mereka dan oleh karena itu mau ditambah universitas baru dengan 
nama Nusantara? Selain UIN  ada juga universitas yang dimiliki oleh 
partai-partai agama.

 

From: mailto:[email protected] 

Sent: Friday, January 6, 2017 1:05 AM

To: GELORA_In ; Yahoogroups 

Subject: [GELORA45] Univerrsitas Islam Nusantara

 

  

 

Dear all,

 

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah mail dari seorang teman yang 
mengapresiasi langkah Jokowi yang hendak mendirikan sebuah Universitas Islam 
Nusantara di Jkt. dalam rangka menghadapi bahaya gerakan Islam radikal ISIS.  
Bunyi mail tsb antara lain sbb.:

 

”Menghadapi bahaya dari gerakan Islam radikal ISIS yang akan menghacurkan NKRI 
yang berdasarkan Pancasila,UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, presiden Jokowi 
melakukan pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam Indonesia yang berperan 
dalam perjuangan mengusir kolonialis Belanda dari Indonesia seperti NU dan 
Muhammadiyah. Telah disepakati untuk mengembangkan, mensosialisasikan sikap dan 
peranan kaum muslimin Indonesia tentang agama Islam yang damai dan toleran, dan 
anti kekerasan terhadap sesama umat yang disebut sebagai Islam Nusantara. 
Langkah selanjutnya adalah mendirikan sebuah Universitas Islam Nusantara di 
Indonesia dengan dasar ajaran Islam Nusantara”.


Tanggapan saya atas langkah Jokowi itu adalah sebagai berikut:

 

Saya tidak yakin langkah Pemerintah Jokowi mendirikan Universitas Islam 
Nusantara akan merupakan langkah yang ampuh untuk menghadang bahaya gerakan 
Islam radikal ISIS.

Alasan saya ialah saya tidak melihat pembagian-pembagian atau 
pengkotakan-pengkotakan yang tegas dalam substansi ajaran Islam. Ajaran Islam 
tidak terbagi atas ajaran Islam radikal, ajaran Islam konservativ, ajaran Islam 
moderat, dsb.

Islam ya Islam. Yang berbeda hanyalah pentrapannya. Ia disebut radikal, 
moderat, dsb, karena terdapatnya perbedaan dalam implementasi hukum-hukum Islam 
diberbagai negara Islam, tepatnya karena terdapatnya berbagai tingkat keketatan 
pelaksanaannya saja, bukan karena terdapatnya perbedaan-perbedaan dalam hukum 
Islam itu sendiri. Umpamanya tentang dilaksanakan atau tidak hukum potong 
tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi perempuan berzina. Hukum itu ada dalam 
Islam, cuma pelaksanaannya diberbagai negeri tergantung kebijakan penguasa di 
negeri bersangkutan.

Untuk Indonesia, disebut kaum Islam radikal karena penganutnya menonjolkan dan 
memperjuangkan bagian-bagian yang radikal dalam ajaran itu; dinamakan Islam 
moderat karena penganutnya mengabaikan bagian-bagian yang radikal; dinamakan 
Islam abangan karena bercampur dengan ajaran-ajaran non-Islam.





Pentrapannya atau penonjolannya beragam, baik diluar maupun didalam negeri, 
namun ajaran Islam bersumber pada ayat-ayat Al-Quràn dan Hadis yang sama.

Islam bersumber pada 6236 ayat-ayat Al-Quràn dan Hadis, diantaranya 330 adalah 
ayat-ayat hukum. Hadis adalah ucapan-ucapan Nabi Muhammad yang dituturkan oleh 
pengikut-pengikutnya dari generasi ke-1 ke generasi ke-2, ke-3 dst, dan pada 
abad ke-2 Hijrah dikumpulkan dan disusun oleh para ahli menjadi kumpulan 
ucapan-ucapan Nabi Muhammad.

 

Perbedaan pandangan yang sering terjadi antara pemuka-pemuka agama Islam 
sendiri tentang banyak soal mengindikasikan bahwa ribuan ayat dan Hadis itu 
juga berisi hal-hal yang kontradiktif satu sama lain. Sebagiannya lagi 
kontroversial atau sudah tak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Sedangkan 
Ayat2 Quràn dan Hadis tidak boleh  direvisi.

Saya tak yakin Pemerintah Jokowi akan mampu atau berwewenang menyusun suatu 
kurikulum tersendiri untuk sebuah Universitas Islam yang dinamakan Universitas 
Islam Nusantara, memilah-milah bagian mana yang mau dimasukkan dan bagian mana 
yang dibuang. Islam ya Islam, terdiri dari 6236 ayat-ayat  Al- Quràn dan 
kumpulan ucapan-ucapan Nabi Muhammad yang disebut Hadis. Semuanya, termasuk 
yang kontroversial dan ketinggalan jaman. Umpamanya, Islam Nusantara Jokowi tak 
mungkin bisa membuang atau meniadakan surat Al-Maìdah 51 dari kurikulumnya, tak 
bisa menegasi ucapan Habib Rizieq bhw hukum Syariah harus diatas Konstitusi 
Negara karena hukum Syariah adalah hukum Tuhan. Menurut Islam memang demikian.

Menurut hemat saya, mendirikan Universitas Islam Nusantara hanya akan membantu:

-         menyediakan infrastruktur bagi mengalirnya gurubesar-gurubesar Islam 
dari Saudi Arabia dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya,

-         menambah ruang untuk masuknya para kiay dan Ulama ke lembaga negara,

-         usaha ”pemurnian” kaum Islam abangan (puluhan juta orang Jawa) 
menjadi Islam yang bewust, yang murni, yang akhirnya menuntut implemetasinya 
spt di Timur Tengah.

 

Jalan yang paling tepat untuk mencegah Indonesia menjadi Negara Islam ialah 
berusaha memisahkan Negara dari agama. Mengintensifkan sosialisasi apa yang 
sudah mulai dikerjakan yaitu NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhineka 
Tunggal Ika. Fatwa MUI bukanlah hukum positiv. Ormas FPI tidak boleh 
menggantikan peran polisi. Dan sebagainya.

Dalam rangka ini baik saja dilakukan pertemuan-pertemuan dengan 
organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah, mencari kesepakatan 
untuk mengembangkan, mensosialisasikan sikap dan peranan kaum muslimin 
Indonesia tentang agama Islam yang damai dan toleran, dan anti kekerasan 
terhadap sesama umat. Tetapi untuk itu tak perlu pula mendirikan suatu 
Universitas Islam Nusantara. Dan dalam usaha mendekati NU dan Muhammadiyah tak 
perlu pula membuka peluang untuk para Ulama dan kiay menempati kedudukan 
istimewa dimata Negara. Dalam rapat paripurna Dewan Pembina MUI yang dipimpin 
oleh Din Syamsuddin jelas sekali tuntutan mereka agar MUI menjadi lembaga 
Negara, kepada siapa Pemerintah diharuskan meminta rujukan sebelum mengambil 
keputusan-keputusan penting.

Mendirikan suatu Universitas Islam (walaupun diberi embel-embel Nusantara) 
dengan biaya APBN adalah salah satu langkah (walaupun kecil) kearah 
melembagakan ormas para Ulama ini.

 



Kirim email ke