Kasusnya jelas kasus SARA, koq rakyat dikompori? Oleh siapa?

Ente kan mau bilang Jokowi kan yg buang ke arena hukum?

Terus ente klaim hukum tidak bisa menjamin yg salah dan yang benar.

 

Hehehehe logikanya ente itu kan begini jadinya: Jokowi mengompori rakyat dan 
SARA karena Jokowi melempar masalah al maidah ke arena hukum.

 

Kalau hukum saja gak bisa menjamin benar dan salah, apalagi yg bisa?

Ngobrol2 bisa “tidak mengompori rakyat dan SARA”?

Ente mimpi ya?

 

Urusan negara disuruh ngobrol2?! 

Negara mana ya bisa diatur dengan obrolan2? Hehehehehe.

Model si habib disuruh ngobrol2? Hehehehehe.

Belum lagi cendana, SBY, prabowo dll yg siap menerkam diajak ngobrol2? 
Hehehehehe.

 

Nah kalau ada yg bilang “ahok tidak professional mengurus dirinya sendiri” ini 
kalimat yg sangat tidak professional.

Koq ada profesionalisme dalam mengurus diri seseorang dalam berbicara? Ngerti 
ndak arti profesionalisme? Asbun aja!

 

Belajar sana ttg teori leadership shg ngerti artinya dan tipe pemimpin itu 
seperti apa saja.

Tetapi jelas gak ada profesionalisme dalam kategori/tipe pemimpin.

 

Ahok jujur walaupun ngomongnya kasar. Itulah modalnya untuk bikin koruptor 
takut!

Teruskan caci makinya Hok. Yg penting bener!

 

Beda antara sopan dan santun. Sopan itu lipstick dan santun itu dari dalam.

Hok ente itu santun dan sudah bener. Gak usah sopan2 sama koruptor dan orang 
gak bener!

Jangan mau ikut arus sopan2 tapi munafik!

Jangan berubah hanya buat nyenengin orang2 yg gak ngerti.

Jadilah dirimu sendiri. itu legacy yg bisa ente tinggal di dunia ini!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 6, 2017 7:26 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Partai Islam di 22 Pilkada Usung Calon Non-Isla

 

  

Itu dia, kenapa cuma terjadi di pilkada DKI? Artinya kan isu SARA itu dimainkan 
cuma oleh kelompok kepentingan, baik yang anti maupun pro Ahok. Di luar 2 
kelompok kepentingan itu terbukti Rakyat Indonesia tetap menjunjung kebhinekaan.





Jadi, ide kebhinekaan inilah yang harus diperkuat, jangan malah terus digempur 
dengan isu "kasus Ahok itu SARA".

 

Dalam masalah SARA / penodaan agama itu sendiri, Ahok sudah meminta maaf. Lalu, 
kenapa pula Rakyat terus dikompori bahwa kasus ini memang kasus SARA, sehingga 
harus diadili 'pake sistem hukum' -> hukum sebagai alat untuk mengadili... :p

 

Siapa yang bisa menjamin, hukum sebagai alat untuk mencari mana yang salah mana 
yang benar, bisa betul-betul menyelesaikan kasus seperti ini secara adil?

 

Kira-kira apa yang terjadi dengan orang bermental Ahok jika dia sebagai warga 
gusuran mendengar gubernurnya nyablak mau membunuh orang di depan umum (dalam 
jumlah ribuan pula!). Apa dia akan mendukung gubernur bermental pembunuh 
seperti itu?

 

--- jonathangoeij@... wrote:

  

Sama sekali tidak sepele, hal yg menunjukkan si Ahok tidak professional dalam 
mengontrol diri-nya sendiri.

 

Tetapi tetap saja fakta yg menggerakkan berbagai gerakan anti-Ahok itu SARA.

On Sunday, March 5, 2017 6:28 PM, ajeg wrote:

 

Apa kata-kata Ahok yang mau membunuh 2000 orang di depan umum begini mau 
dibilang sepele? 

 

 
<https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/203571?soc_src=mail&soc_trk=ma>
 https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/196913

Bisa saja yang terlihat sebagai gerakan anti non-muslim itu sepenuhnya SARA, 
tapi kenapa cuma terjadi di pilkada DKI, padahal di 22 pilkada lain calon 
non-muslim toh didukung "partai-partai islam".



--- jonathangoeij@... wrote:

 

Saya rasa kok sepenuhnya SARA, berbagai kasus seperti Sumber Waras, Reklamasi, 
ataupun bahkan Penggusuran yg jelas terlihat korbannya tidaklah menimbulkan 
demo dan tekanan yg besar2an. Hanya masalah kata2 yg sepele yg sebetulnya tidak 
ada apa2nya dgn gampang dipakai membakar emotional bela agama. Melihat 
perbandingan dgn daerah lain terlihat disini agama dipolitikkan.

 

Tetapi memang benar Ahok tidak professional mengontrol dirinya sendiri.



--- ajegilelu@... wrote :

Angka perbandingan ini membuktikan bahwa kasus Ahok sebenarnya bukan soal SARA. 
Bukti bahwa Rakyat Indonesia bisa sebal dengan kepemimpinan yang tidak 
beretika; berlidah tajam tapi cengeng bukan main. 

 

Jelas, Ahok bukan tipe orang yang "profesional" dalam memimpin dirinya. Sangat 
berbahaya jika ketidakbecusan mengendalikan diri itu dibawa untuk memimpin 
masyarakat.

 

--- SADAR@... wrote:

 

Partai Islam di 22 Pilkada Usung Calon Non-Islam

 

[JAKARTA] Pilkada 2017 menunjukkan, partai Islam –yakni PKS, PPP, dan PKB- di 
22 pilkada mengusung calon non-Islam. Hanya pilgub DKI yang menampilkan 
decoupling serius yakni partai Islam dan partai nasionalis berada di kubu 
berbeda.

 

Keterpisahan ini memicu pertarungan yang diwarnai isu suku, agama, ras, dan 
antargolongan (SARA). Kampanye menolak pemimpin non-Islam merebak di mana-mana. 
Kampanye seperti ini bukan hanya menghambat perkembangan Indonesia menuju 
negara demokratis, melainkan juga merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Sedangkan bagi parpol yang mempropagandakan penolakan pemimpin non-Islam di 
Jakarta, namun di pemilihan kepala daerah lainnya malah mendukung, akan dicap 
inkonsisten. Parpol semacam ini akan dirugikan dengan sikap politiknya.

 

Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi mengatakan, 
inkonsistensi akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap partai. 

"Agama seharusnya tidak digunakan sebagai tongkat pemukul untuk menghantam 
sesama anak bangsa yang maju dalam pilkada, melainkan tongkat pengungkit bagi 
peningkatan moral bangsa, salah satunya agar tidak melakukan korupsi," kata 
Jojo, Kamis (2/3).

 

 



Kirim email ke